Waspadalah...Stroke Ancam Kaum Muda
Kamis, 29 Oktober 2015 18:39 WIB
Dokter spesialis saraf dr Ruth Mariva SpS (ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)
Bandarlampung (ANTARA) - Benarkah ancaman stroke kini mengintai kaum muda dan tidak lagi hanya mengancam mereka yang sudah lanjut usia?
Seorang dokter spesialis syarat di Lampung membenarkan, kini kaum muda dan kalangan remaja diingatkan juga rentan terserang penyakit jantung dan stroke yang mematikan.
"Perilaku konsumtif dan instan para remaja membuat penyebaran penyakit stroke ini tidak hanya diderita oleh mereka yang telah berusia lanjut, tapi juga kalangan generasi muda," kata dokter ahli saraf RS Imanuel Bandarlampung, dr Ruth Mariva SpS, di Bandarlampung, Kamis (29/10), berkaitan dengan Hari Stroke Dunia (World Stroke Day, 29 Oktober ini.
Dr Ruth menyebutkan, penyakit stroke tidak hanya menimpa kaum pria dan manusia berusia lanjut, tapi juga bisa mengancam kaum muda dan para remaja.
Menurutnya, serangan stroke dan jantung koroner ternyata bukan hanya bisa diderita penduduk berusia lanjut, ternyata penyakit yang mematikan itu juga dapat menyerang kalangan berusia muda.
Dia menyatakan, ancaman stroke bagi kaum muda itu setidaknya tampak dari kunjungan para penderita stroke yang berobat ke Klinik Saraf RS Imanuel Bandarlampung, yaitu pasien usia di bawah 40 tahun juga banyak selain pasien usia lanjut.
"Penyakit stroke tidak hanya menimpa kaum pria dan manusia berusia lanjut, tapi juga bisa menyerang kaum perempuan dan orang berusia muda," ujarnya lagi.
Ia menyampaikan, serangan stroke itu biasanya terjadi secara mendadak atau tiba-tiba dengan gejala yang bervariasi, mulai dari bicara cadel, lemah sebelah tubuh atau seluruh badan, sampai tidak sadarkan diri.
Dia mengingatkan, saat ini kasus-kasus stroke itu ternyata semakin banyak menimpa kaum perempuan dan orang berusia muda.
Namun dia menegaskan, meskipun penyakit tersebut mematikan, namun masih bisa dicegah dengan menganut pola hidup sehat serta berobat secara teratur.
Ruth menjelaskan pula, adanya faktor risiko terkena stroke yang tidak bisa dimodifikasi dan menjadi unsur bawaan berupa riwayat keluarga, umur, jenis kelamin, dan ras.
Sedangkan, faktor risiko yang bisa diubah adalah masalah medis dan pola hidup, di antaranya adalah gejala penyakit darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung, kolesterol, asam urat, kegemukan, merokok, kurang berolahraga, narkoba, dan kelainan darah, ujarnya lagi.
"Penderita serangan stroke yang menimbulkan kerusakan otak terjadi di sebelah kiri, akan mengakibatkan penderita mengalami kelumpuhan pada sebelah kanan, gangguan berbicara, lamban, dan daya ingat merosot," kata dia.
Karena itu, ia menyarankan agar masyatakat dapat menghindari risiko terkena stroke, dan berolahraga serta berperilaku hidup sehat.
Seorang dokter spesialis syarat di Lampung membenarkan, kini kaum muda dan kalangan remaja diingatkan juga rentan terserang penyakit jantung dan stroke yang mematikan.
"Perilaku konsumtif dan instan para remaja membuat penyebaran penyakit stroke ini tidak hanya diderita oleh mereka yang telah berusia lanjut, tapi juga kalangan generasi muda," kata dokter ahli saraf RS Imanuel Bandarlampung, dr Ruth Mariva SpS, di Bandarlampung, Kamis (29/10), berkaitan dengan Hari Stroke Dunia (World Stroke Day, 29 Oktober ini.
Dr Ruth menyebutkan, penyakit stroke tidak hanya menimpa kaum pria dan manusia berusia lanjut, tapi juga bisa mengancam kaum muda dan para remaja.
Menurutnya, serangan stroke dan jantung koroner ternyata bukan hanya bisa diderita penduduk berusia lanjut, ternyata penyakit yang mematikan itu juga dapat menyerang kalangan berusia muda.
Dia menyatakan, ancaman stroke bagi kaum muda itu setidaknya tampak dari kunjungan para penderita stroke yang berobat ke Klinik Saraf RS Imanuel Bandarlampung, yaitu pasien usia di bawah 40 tahun juga banyak selain pasien usia lanjut.
"Penyakit stroke tidak hanya menimpa kaum pria dan manusia berusia lanjut, tapi juga bisa menyerang kaum perempuan dan orang berusia muda," ujarnya lagi.
Ia menyampaikan, serangan stroke itu biasanya terjadi secara mendadak atau tiba-tiba dengan gejala yang bervariasi, mulai dari bicara cadel, lemah sebelah tubuh atau seluruh badan, sampai tidak sadarkan diri.
Dia mengingatkan, saat ini kasus-kasus stroke itu ternyata semakin banyak menimpa kaum perempuan dan orang berusia muda.
Namun dia menegaskan, meskipun penyakit tersebut mematikan, namun masih bisa dicegah dengan menganut pola hidup sehat serta berobat secara teratur.
Ruth menjelaskan pula, adanya faktor risiko terkena stroke yang tidak bisa dimodifikasi dan menjadi unsur bawaan berupa riwayat keluarga, umur, jenis kelamin, dan ras.
Sedangkan, faktor risiko yang bisa diubah adalah masalah medis dan pola hidup, di antaranya adalah gejala penyakit darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung, kolesterol, asam urat, kegemukan, merokok, kurang berolahraga, narkoba, dan kelainan darah, ujarnya lagi.
"Penderita serangan stroke yang menimbulkan kerusakan otak terjadi di sebelah kiri, akan mengakibatkan penderita mengalami kelumpuhan pada sebelah kanan, gangguan berbicara, lamban, dan daya ingat merosot," kata dia.
Karena itu, ia menyarankan agar masyatakat dapat menghindari risiko terkena stroke, dan berolahraga serta berperilaku hidup sehat.
Pewarta : Agus Setyawan
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dokter: Rajin olahraga kurangi risiko penyintas terkena stroke kembali
05 November 2024 17:43 WIB, 2024
Kepala RSPAD: Informasi Prabowo pernah "stroke" dua kali tidak berdasar
27 October 2023 19:39 WIB, 2023
RSUDAM berhasil melakukan terapi trombolitik perdana bagi pasien stroke
04 February 2023 15:17 WIB, 2023