Bandarlampung (ANTARA Lampung)- Pelabuhan Bakauheni Lampung dan Pelabuhan Merak Banten makin sesak karena bertambah padat  lalu lintas barang dan manusia dari Jawa ke Sumatera atau sebaliknya, melalui kedua pelabuhan penyeberangan itu.  

Sejauh ini sudah ada beberapa gagasan yang diyakini mampu memperlancar  transportasi laut  melalui kedua pelabuhan itu.  Diyakini dengan mempercepat transportasi laut  Sumatera dan Jawa, pertumbuhan perekonomian  Indonesia makin kuat dan kompetitif.   Sumatera dan Jawa merupakan pusat perekonomian Indonesia, sementara
Pelabuhan Merak dan Bakauheni adalah gerbang terdekat yang menghubungkan kedua pulau tersebut

Salah satu gagasan besar menghubungkan Sumatera dan Jawa adalah membangun Jembatan Selat Sunda (JSS).  Rencana itu telah digagas sejak tahun 1960 di era pemerintahan Presiden Soekarno; bahkan  dicanangkan menjadi salah satu bagian dari proyek Asian Highway Network (Trans Asia Highway dan Trans Asia Railway). Namun hingga menjelang berakhirnya pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, JSS itu tak kunjung dibangun.

 Meski demikian, pemerintahan Presiden SBY mengemukakan rencana pembangunan “jembatan laut” lainnya di Selat Sunda. Jembatan laut  ini dimaksudkan adalah memperluas kapasitas pelabuhan penyeberangan Merak dan Bakauheni, serta menambah dan meremajakan kapal-kapal feri yang dioperasikan di rute Merak-Bakauheni.

Karena  pembangunan JSS tak kunjung jelas, maka “jembatan laut” dinilai sebagai solusi yang konktet untuk mengatasi masalah  klasik yakni kemacetan di Pelabuhan  Merak dan Bakauheni.
 
Gagasan jembatan laut itu mendapatkan perhatian luas ketika disampaikan Menko Bidang Perekonomian Chairul Tanjung saat mengecek kesiapan angkutan Lebaran 2014. Saat mengunjungi Pelabuhan Merak,  ia meminta Kementerian Perhubungan menambah dermaga di Pelabuhan Merak, karena hanya tersedia lima dermaga.

 "Idealnya Pelabuhan Merak memiliki 10 dermaga sehingga penambahannya sudah mendesak dilakukan," katanya. Selain di Merak, pembangunan dermaga baru di Bakauheni juga perlu dilakukan yang jumlahnya sesuai dengan jumlah dermaga di Pelabuhan Merak.

Chairul telah mengusulkan langkah nyata untuk mengatasi masalah kemacetan di Pelabuhan Merak  dan Bakauheni, yakni memperbanyak dermaga penyeberangan untuk mempercepat waktu tempuh penyeberangan.  Gagasan jembatan laut itu sebenarnya tak berbeda jauh dengan konsep “tol laut”   pasangan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Joko Widodo dan Jusuf Kalla.   Sehubungan itu, apapun solusinya,  masalah transportasi laut di  Merak-Bakauheni perlu dituntaskan secara matang dan konkret agar daya saing produk Indonesia juga meningkat. (Hisar Sitanggang)