Logo Header Antaranews Lampung

Topeng-topeng yang menjaga ingatan tradisi di Lampung Barat

Selasa, 24 Maret 2026 18:30 WIB
Image Print
Warga di Pekon Balak Kecamatan Batu Brak Kabupaten Lampung Barat dengan menggunakan Sekura Kamak atau karakter topeng jelek dan kotor dalam Pesta Budaya Sekura Cakak Buah. Lampung Barat, Minggu (14/4/2024). ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.
Pesta Sekura bukan sekadar hiburan, melainkan juga bagian penting dari identitas budaya masyarakat Lampung Barat.

Bandarlampung (ANTARA) - Di tengah derasnya arus globalisasi yang kian mengaburkan batas-batas identitas lokal, sebuah tradisi tua di Lampung Barat tetap bertahan. Bahkan tumbuh dengan semangat baru.

Tradisi itu adalah Sekura Cakak Buah, pesta topeng yang bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi juga menjadi simbol kuat dari jati diri, kebersamaan, dan keberlanjutan budaya masyarakat setempat.

Pada suasana hangat setelah Idul Fitri di Pekon Muara Jaya II, Kecamatan Kebun Tebu, denyut kehidupan tradisi itu terasa begitu nyata. Tawa, canda, dan langkah kaki para peserta Sekura berpadu dalam satu harmoni yang menggambarkan kegembiraan kolektif.

Di balik topeng-topeng yang dikenakan, tersembunyi kisah panjang tentang nilai, sejarah, dan identitas yang diwariskan lintas generasi. Sekura bukanlah tradisi biasa, ia merupakan ekspresi budaya yang sarat makna di mana para peserta mengenakan topeng dengan berbagai bentuk dan karakter, menciptakan suasana penuh misteri sekaligus kegembiraan.

Dalam anonimitas topeng, semua perbedaan seakan luluh, status sosial, usia, bahkan latar belakang semuanya menyatu dalam satu ruang kebersamaan.

Tradisi ini digelar setiap awal Syawal, menjadi penanda berakhirnya bulan suci Ramadan sekaligus awal dari kebersamaan yang baru. Lebih dari sekadar pesta, Sekura merupakan ruang rekonsiliasi sosial, tempat masyarakat mempererat tali silaturahim dan menumbuhkan kembali semangat gotong royong.

Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus menyatakan turut bangga menyaksikan bagaimana generasi muda, khususnya muli mekhanai (bujang-gadis) di daerahnya mengambil peran penting dalam menjaga dan menghidupkan tradisi ini. Bahkan hampir mereka menjadi penggerak utama dalam penyelenggaraannya.

Bagi dia, keterlibatan generasi muda bukan  sekadar partisipasi, tetapi merupakan indikator kuat bahwa budaya ini masih memiliki masa depan. Di tengah gempuran budaya populer dan gaya hidup modern.

Fenomena ini menjadi angin segar di tengah kekhawatiran akan pudarnya budaya lokal. Sebab, tanpa keterlibatan generasi penerus, tradisi hanya akan menjadi catatan sejarah tanpa kehidupan.

 

Sekura Kamak  ikut dalam kegiatan Pesta Sekura di Lampung Barat. (ANTARA/HO-Kominfo Lampung Barat)


Menjaga budaya bukanlah perkara mudah, sehingga dibutuhkan kesadaran kolektif, komitmen, dan konsistensi dari berbagai pihak mulai dari tokoh adat, pemerintah, hingga masyarakat itu sendiri.

Ia menekankan bahwa pendidikan dan mobilitas generasi muda ke luar daerah bukanlah halangan untuk tetap mencintai budaya sendiri. Justru, pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif, sehingga mereka mampu melihat nilai budaya lokal dengan cara yang lebih luas dan mendalam.

Muda-mudi boleh merantau ke mana saja, menimba ilmu di kota-kota besar, tetapi ketika pulang ke kampung halaman, harus tetap ikut ambil bagian dalam menjaga tradisi.

Pesan tersebut terasa relevan, mengingat banyak generasi muda yang kini lebih akrab dengan budaya global dibandingkan dengan tradisi lokal. Sebab tanpa upaya sadar untuk menjaga, bukan tidak mungkin budaya seperti Sekura akan perlahan menghilang.

Padahal, Sekura bukan sekadar hiburan. Kegiatan tersebut mengandung nilai-nilai filosofis yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Gotong royong, kebersamaan, keberanian, dan rasa percaya diri adalah beberapa nilai yang tertanam dalam tradisi ini.

Dalam Sekura, seseorang belajar untuk tampil di hadapan publik, meski dengan wajah tertutup topeng. Ada keberanian yang dibangun, ada kepercayaan diri yang tumbuh, dan ada rasa kebersamaan yang diperkuat.

Tidak hanya itu, Sekura juga menjadi ruang ekspresi kreatif bagi masyarakat. Berbagai bentuk topeng yang digunakan mencerminkan imajinasi, keterampilan, dan kreativitas pembuatnya.
 



Oleh
Editor: Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2026