Logo Header Antaranews Lampung

Kemenag Lampung minta perbedaan awal Ramadhan disikapi dengan bijak

Rabu, 18 Februari 2026 15:41 WIB
Image Print
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zulkarnain. (ANTARA/HO-Kemenag Lampung)
Justru di sinilah kedewasaan umat diuji, bagaimana kita mampu menghormati pilihan masing-masing tanpa harus saling menyalahkan

Bandarlampung (ANTARA) - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zulkarnain mengajak umat Islam untuk menyikapi perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah dengan bijak serta tetap menjaga kebersamaan dan kerukunan di tengah masyarakat.

"Ramadhan adalah sunatullah yang tidak dapat dihindari. Perbedaan ini merupakan konsekuensi dari adanya metode dan pendekatan yang berbeda dalam memahami penetapan awal bulan kamariah, baik melalui hisab maupun rukyat,” katanya di Bandarlampung, Rabu.

Ia menegaskan bahwa perbedaan tersebut semestinya tidak menjadi alasan untuk memecah belah umat, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari kekayaan khazanah keilmuan dalam Islam.

"Kita tidak perlu mempertentangkan perbedaan. Justru di sinilah kedewasaan umat diuji, bagaimana kita mampu menghormati pilihan masing-masing tanpa harus saling menyalahkan," katanya.

Ia juga mengajak seluruh umat Islam di Provinsi Lampung untuk tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan mengedepankan sikap toleransi dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

"Mari kita rawat kebersamaan, jaga persaudaraan, dan tetap saling menghormati dalam menyikapi perbedaan. Ramadan adalah momentum untuk memperkuat persatuan, bukan sebaliknya," kata dia.

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil perhitungan awal bulan Ramadan, posisi hilal pada 29 Sya’ban 1447 H atau bertepatan dengan Selasa, 17 Februari 2026 masih berada di bawah ufuk atau bernilai minus, termasuk di wilayah Provinsi Lampung.

"Secara umum, ketinggian hilal saat matahari terbenam di wilayah Indonesia berkisar antara minus 1 derajat di wilayah Sumatera hingga 2,4 derajat di wilayah Papua. Artinya, di seluruh wilayah Indonesia ketinggian hilal rata-rata masih berada di bawah ufuk atau bernilai minus," kata dia.

Sementara itu, berdasarkan hasil perhitungan di Pos Observasi Bulan (POB) Bukit Gelumpai Pantai Canti Kalianda, ketinggian hilal di Lampung masih di bawah ufuk atau tercatat -01° 03' 0,021".

"Dengan demikian, apabila merujuk pada kriteria imkan rukyat baik yang lama 2 derajat maupun yang baru 3 derajat, pada saat matahari terbenam hilal dipastikan tidak dapat terlihat sehingga bulan Sya’ban harus diistikmalkan menjadi 30 hari," katanya.

Baca juga: Pemerintah tetapkan awal Ramadhan 2026 pada Kamis 19 Februari

Baca juga: Kemenag Lampung pastikan hilal tidak terlihat dari POB Kalianda

Baca juga: Sidang Isbat bagian edukasi publik dan wujud kehadiran negara



Pewarta :
Editor: Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2026