
BI Lampung ingatkan potensi kenaikan inflasi selama Ramadhan

Kita semua perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap adanya fenomena demand pull inflation, yakni adanya kenaikan harga barang serta jasa akibat lonjakan permintaan masyarakat
Bandarlampung (ANTARA) - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung Bimo Epyanto mengingatkan potensi kenaikan harga barang dan jasa yang bisa menyebabkan inflasi (demand pull inflation) selama Ramadhan dan Idul Fitri 2026.
"Kita semua perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap adanya fenomena demand pull inflation, yakni adanya kenaikan harga barang serta jasa akibat lonjakan permintaan masyarakat yang tidak diimbangi dengan pasokan produksi," ujar Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung Bimo Epyanto di Bandarlampung, Rabu,
Ia menjelaskan, secara historis selama 2021-2025, pendorong utama inflasi di periode hari besar keagamaan nasional didominasi oleh kenaikan permintaan kelompok bahan makanan dan transportasi.
"Dari kelompok makanan minuman selama 2021-2025 yang menjadi penyumbang utama inflasi selama periode Ramadhan dan Idul Fitri adalah bawang merah, bawang putih, telur ayam ras, daging ayam ras, dan minyak goreng yang mencatatkan rata-rata andil inflasi bulanan cukup tinggi," katanya.
Sementara itu, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) BI pada awal Februari 2026, harga beras, bawang merah, serta daging dan telur ayam ras telah tercatat di atas rentang historis selama lima tahun terakhir, sehingga perlu diwaspadai agar tidak menjadi sumber inflasi.
"Seiring akan memasuki periode panen raya padi, optimalisasi panen dan penguatan pasca panen menjadi kunci untuk menjaga cadangan pangan serta stabilitas pasokan ke depan," ucap dia.
Sedangkan, sejumlah komoditas pangan lain harganya masih dalam rentang yang terjaga, seperti gula pasir, daging sapi, bawang putih, dan cabai merah. Namun, minyak goreng dan cabai rawit mulai menujukan tren harga yang meningkat sehingga perlu diwaspadai.
"Sehingga untuk menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri perlu tetap menerapkan strategi 4K yakni menjaga keterjangkauan harga, menjaga kelancaran distribusi, memastikan ketersediaan pasokan dan menjalankan komunikasi yang efektif," ujar dia.
Dalam kesempatan ini, ia turut mengapresiasi capaian inflasi Lampung tahun 2025 yang berada kisaran 1,25 persen dari tahun ke tahun (yoy), dan menempatkan Lampung sebagai provinsi dengan inflasi terendah kedua secara nasional.
"Capaian ini mencerminkan sinergi yang kuat. Namun, kewaspadaan harus terus ditingkatkan agar tren positif tidak berbalik arah ketika permintaan kebutuhan pokok meningkat tajam dalam beberapa minggu ke depan,” katanya.
BI, lanjut dia, akan terus mendukung kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui penyediaan analisis data dan proyeksi komoditas penyumbang inflasi, khususnya kelompok volatile food seperti cabai, bawang merah, dan daging, secara real time.
"Selain itu, melalui digitalisasi pemantauan harga, juga menjadi fokus untuk mempercepat pengambilan kebijakan," ucap dia.
Baca juga: BI Lampung pastikan ketersediaan uang tunai jelang Ramadhan
Baca juga: BI catat ekonomi Lampung pada 2026 dapat tumbuh 5,5-6 persen
Baca juga: Pemkot Metro-Pemkab Kulon Progo jalin kerja sama pasokan cabai
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor:
Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
