Logo Header Antaranews Lampung

Wagub: Lampung perkuat ekosistem budaya daerah melalui lima strategi

Sabtu, 8 November 2025 14:51 WIB
Image Print
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela saat memberi keterangan terkait budaya Lampung. ANTARA/HO-Pemprov Lampung.
Kebudayaan bukan sekadar warisan, tetapi harus menjadi nafas pembangunan daerah.

Bandarlampung (ANTARA) - Wakil Gubernur (Wagub) Lampung Jihan Nurlela mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung akan memperkuat ekosistem kebudayaan daerah melalui lima strategi utama yang diterapkan di daerahnya.

"Kebudayaan bukan sekadar warisan, tetapi harus menjadi nafas pembangunan daerah. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen memperkuat ekosistem budaya melalui lima strategi utama," ujar Jihan Nurlela berdasarkan keterangannya di Bandarlampung, Sabtu.

Ia menjabarkan, lima strategi tersebut meliputi pelaksanaan digitalisasi dan pendataan objek pemajuan kebudayaan (OPK) melalui platform Lampung Culture Data, agar data kebudayaan bisa diakses publik dan mendorong terwujudnya pendidikan dan regenerasi pelaku budaya, untuk menarik minat generasi muda dalam mengembangkan seni tradisi.

Kemudian, penguatan ekosistem kreatif dan pasar budaya, agar kebudayaan tidak berhenti di tataran seremonial tetapi menjadi sumber pemberdayaan masyarakat, membuat kolaborasi komunitas dan diplomasi budaya, termasuk penyelenggaraan Krakatau Festival (K-Fest) sebagai agenda nasional yang memadukan unsur budaya, musik, dan kuliner.

Selanjutnya, menghadirkan tata kelola dan pemberdayaan berkelanjutan, melalui integrasi kebijakan kebudayaan ke dalam RPJMD dan RKPD, serta dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan dari dunia usaha.

"Pemerintah Provinsi Lampung juga memiliki Perda Nomor 11 Tahun 2024 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan, yang menjadi turunan dari amanat UUD 1945 Pasal 32 ayat (1), serta UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya," katanya.

Menurut dia, budaya inklusif bukan hanya soal pelestarian, tapi budaya menjadi jembatan yang mempererat persatuan dan Lampung menjadi contoh nyata penerapan budaya yang inklusif. Selain itu, penting juga dilakukan pemanfaatan teknologi informasi dalam melakukan promosi budaya daerah agar tidak tertinggal dari bangsa lain.

"Dulu saya tidak pernah membayangkan bisa hafal lagu Korea. Tapi sekarang budaya mereka dikenal di seluruh dunia karena memanfaatkan teknologi. Tantangannya, apakah kita mau menjadi influencer budaya kita sendiri, atau hanya jadi penonton," ungkapnya.

Ia melanjutkan, Provinsi Lampung merupakan adalah daerah yang mencerminkan keberagaman sekaligus terciptanya harmoni sosial.

"Di Provinsi Lampung, masyarakat suku Jawa justru menjadi kelompok mayoritas jika dibandingkan dengan masyarakat asli suku Lampung. Namun semua hidup berdampingan dengan rukun. Ini bukti nyata bahwa budaya inklusif benar-benar terwujud di Lampung, akulturasi budaya yang terjadi melalui kehadiran Wayang Sekelik, yang merupakan hasil dari perpaduan antara budaya suku Lampung dan suku Jawa, yang kini menjadi bagian dari identitas budaya daerah. Budaya wayang sangat diterima masyarakat Lampung, bahkan banyak desa pribumi yang antusias menggelar pertunjukan wayang kulit," tambahnya.

Dia mengatakan, penerimaan budaya luar di Lampung tidak lepas dari falsafah hidup masyarakat Lampung yaitu piil pesenggiri, yang mengandung nilai-nilai nemui nyimah, nengah nyappur, sakai sambayan, dan bejuluk beadek. Nilai-nilai inilah, yang menumbuhkan sikap terbuka dan menghargai keberagaman.

"Falsafah piil pesenggiri inilah yang membuat masyarakat Lampung mudah beradaptasi dan menerima budaya dari luar tanpa kehilangan jati dirinya," tambahnya.

Baca juga: Wagub Lampung sebut makan 2.000 alpukat Siger ajang promosi komoditi lokal

Baca juga: Hari Sumpah Pemuda, Wagub Lampung ajak pemuda jadi penentu sejarah masa depan

Baca juga: Wagub Lampung: Kuatkan literasi digital untuk promosi wisata halal



Pewarta :
Editor: Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2026