Logo Header Antaranews Lampung

Tidak ada guru Sekolah Rakyat mengundurkan diri di Lampung

Jumat, 15 Agustus 2025 18:36 WIB
Image Print
Guru Sekolah Rakyat tengah memberi arahan kepada sejumlah siswa di SRMA 32 Lampung Selatan. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.
Di provinsi Lampung, khususnya di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SMRA) 32 Lampung Selatan, semua guru dan tenaga pendidik solid, tidak ada yang mengajukan pengunduran diri

Bandarlampung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung memastikan semua guru, tenaga pendidik Sekolah Rakyat, di provinsi tersebut tidak ada yang mengajukan pengunduran diri.

"Di provinsi Lampung, khususnya di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SMRA) 32 Lampung Selatan, semua guru dan tenaga pendidik solid, tidak ada yang mengajukan pengunduran diri," ujar Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Lampung Aswarodi di Bandarlampung, Jumat.

Ia mengatakan hal tersebut terwujud dari kehadiran 17 guru, tenaga pendidik, kepala sekolah, dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dimulai pada hari ini.

"Hari ini 75 siswa hadir semua, guru pun hadir, selain untuk melaksanakan MPLS, juga untuk mempersiapkan upacara bendera HUT ke-80 RI yang akan dilaksanakan di Sekolah Rakyat," katanya.

Dia menjelaskan dalam pelaksanaan persiapan pembelajaran Sekolah Rakyat tidak ada kendala dan siswa serta guru telah siap dalam melaksanakan pembelajaran di tahun ajaran baru ini.

"Tidak ada kendala dalam pelaksanaan Sekolah Rakyat. Karena ini Sekolah Rakyat rintisan, maka besar harapan Sekolah Rakyat permanen yang akan dibangun di Kota Baru dapat dilaksanakan juga pembangunannya tahun ini juga," ucapnya.

Sementara itu Koordinator Kesiswaan SRMA 32 Lampung Selatan sekaligus guru mata pelajaran Sosiologi M. Firda menambahkan semua guru dan tenaga pendidik bersemangat untuk mengajar para siswa.

"Saya sebelumnya sudah pernah mengajar di SMA Islam Terpadu di Bandarlampung, tentunya proses mengajar ini bukan hal yang asing," ujar Firda.

Ia mengatakan dalam mengajar siswa Sekolah Rakyat tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok, sebab kurikulum Sekolah Rakyat yang mengharuskan asrama menggunakan kurikulum deep learning.

"Karena masih rintisan, tentu semua harus bersinergi antar guru, siswa, dan pihak terkait lainnya. Meskipun sekolah sementara dengan fasilitas yang ada kita harus menggunakan semaksimal mungkin," ujar dia.

Ia mengatakan guru dan tenaga pendidik yang ada di Sekolah Rakyat akan terus berupaya semakin meningkatkan karakter serta prestasi akademik para siswa.

"Siswa-siswi kita ini sudah terbangun karakternya, hanya perlu dikuatkan kembali agar lebih disiplin. Sebab dari cara makan, merapikan tempat tidur, tata krama kepada orang yang lebih tua, semua sudah baik. Harapannya anak-anak ini bisa menjadi generasi yang berkualitas secara akademik serta etika," kata dia.



Pewarta :
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2026