Logo Header Antaranews Lampung

Dishut Lampung sebut jumlah titik panas penyebab karhutla turun

Senin, 28 Juli 2025 16:50 WIB
Image Print
Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Lampung Yanyan Ruchyansah saat memberikan keterangan terkait sektor kehutanan Lampung. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.

Bandarlampung (ANTARA) - Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Lampung menyatakan ada penurunan jumlah titik panas yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada periode Januari-Juli 2025 di Lampung.

"Mengenai sebaran titik panas di Provinsi Lampung dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, trennya memang turun. Sebab saat ini kemarau basah jadi masih ada hujan, sehingga mengurangi jumlah titik panas di lapangan," ujar Kepala Dishut Provinsi Lampung Yanyan Ruchyansah di Bandarlampung, Senin.

Ia mengatakan pada periode Januari-Juli 2025 jumlah titik panas yang terdeteksi di Provinsi Lampung berjumlah 365 titik, sedangkan pada periode yang sama tahun 2024 jumlah titik panas ada sebanyak 454 titik.

"Memang saat ini sedang kemarau basah, tapi ada kekhawatiran kami kalau periode kemaraunya bergeser ke beberapa bulan ke depan," katanya.

Sebaran titik panas di Lampung secara kumulatif pada periode Januari-Juli 2025, kata dia, berdasarkan data Sipongi KLHK dari 365 titik panas, terbanyak ada di Kabupaten Way Kanan sebanyak 12 titik, dimana 24 titik di dalam kawasan. Kemudian di Kabupaten Lampung Timur ada 76 titik panas dan Kabupaten Lampung Tengah sebanyak 51 titik panas.

"Sedangkan untuk pantauan titik panas yang berada dalam kawasan di Provinsi Lampung ada sebanyak 167 titik panas. Dan tiga kabupaten terbanyak adalah Kabupaten Lampung Timur sebanyak 74 titik panas dan sebagian besar ada di Taman Nasional Way Kambas," ucapnya.

Selain itu Kabupaten Lampung Selatan sebanyak 29 titik panas yang sebagian besar ada di Cagar Alam Anak Gunung Krakatau, selanjutnya di Kabupaten Lampung Tengah sebanyak 24 titik, serta Kabupaten Way Kanan sebanyak 24 titik panas.

"Kalau titik panas di luar kawasan kebanyakan karena adanya aktifitas pertanian, dan sudah dilalukan sosialisasi agar tidak melakukan pembakaran saat musim panen agar mencegah kebakaran lahan," tambahnya.

Pihaknya sudah mengantisipasi karhutla dengan melakukan penanganan dan pencegahan melalui patroli serta sosialisasi ke seluruh kawasan di Lampung, khususnya di daerah yang memiliki kerawanan kebakaran tinggi.

"Kegiatan patroli ini dilakukan melalui bekerja sama dengan mitra di luar penggunaan dana APBD. Bila membutuhkan ground check, maka kami akan lakukan agar tidak terjadi karhutla," ujar dia.

Berdasarkan data Dishut Provinsi Lampung, sebaran jumlah titik panas di Lampung di periode Januari-Juli di 2024 dan 2025 meliputi di Kota Metro satu titik panas pada 2025, dan tidak ada titik panas di 2024.

Selanjutnya Kota Bandarlampung ada tiga titik panas pada 2024 dan tidak ada titik panas pada 2025, Kabupaten Pesisir Barat ada delapan titik panas pada 2025 dan tujuh titik panas 2024, Mesuji empat titik panas di 2025 dan lima titik panas di 2024, Tulang Bawang Barat 18 titik panas di 2025 serta 26 titik panas di 2024, Tulang Bawang 32 titik panas pada 2025 dan 29 titik pada 2024.

Lalu di Kabupaten Way Kanan ada 112 titik panas pada 2025 dan 133 titik panas pada 2024, Pesawaran lima titik panas pada 2025 dan empat titik panas pada 2024, Tanggamus ada lima titik panas pada 2025 dan empat titik pada 2024, Lampung Tengah ada 51 titik panas pada 2024 dan jumlahnya masih sama pada 2025, Lampung Timur 76 titik panas pada 2025 dan 82 titik panas pada 2024.

Selanjutnya ada dua titik panas pada 2025 di Kabupaten Lampung Barat dan nol kasus pada 2024, Lampung Selatan ada 39 titik panas pada 2025 dan 63 titik panas pada 2024, dan Lampung Utara ada 12 titik panas pada 2025 serta 47 titik panas pada 2024.



Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026