Logo Header Antaranews Lampung

Webinar Makin Cakap Digital 2022 bagi para guru dan pelajar di Banyumas

Rabu, 31 Agustus 2022 13:19 WIB
Image Print
Webinar Makin Cakap Digital 2022 bagi para guru dan pelajar di Banyumas agar berprestasi di ruang digital. ANTARA/HO

Bandarlampung (ANTARA) - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi kembali mengadakan webinar Makin Cakap Digital 2022 dengan tema “Pelajar dan Prestasi di Ruang Digital” bagi para guru dan murid di Banyumas.

Webinar pada beberapa hari lalu ini berlangsung secara online. Webinar ini memberi pemahaman menjadi pelajar yang kreatif, cerdas, beretika di media sosial dan lebih berhati-hati dalam menerima informasi.

Merujuk pada data Microsoft, Indonesia termasuk dalam kuartil empat atau terbawah dalam Indeks Keadaban Digital (Digital Civility Index), yaitu berada pada tingkat ke-29 dari 32 negara.

Selain itu, berdasarkan UNESCO, Indonesia menempati peringkat ke-60 dari 61 negara soal literasi dunia dengan minat baca sangat rendah sebesar 0,001 persen, atau hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang rajin membaca.

Dengan data tersebut, minat baca masyarakat Indonesia memprihatinkan.

Kemenkominfo berinisiatif mengadakan kegiatan webinar yang disediakan bagi masyarakat, khususnya para guru dan murid dengan melakukan filtering melalui mindset pribadi dan etika di media sosial.

“Pesatnya perkembangan digital di Indonesia perlu diimbangi dengan kapasitas literasi digital yang mumpuni, agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital dengan produktif, bijak dan tepat guna,” kata Dirjen Aptika Kominfo Samuel Abrijani Pangerapan.

Menurut Samuel, masyarakat perlu memiliki pengetahuan terkait literasi digital dan memanfaatkan teknologi sesuai batasannya.

Cerdas dan Tanggap Informasi dalam Bermedia Sosial

Narasumber pertama, Nia Nurdiansyah selaku Fasilitator Womenwill/Gapura Digital Indonesia menjelaskan materi berjudul ‘Stop Sebar Hoax, Mari Tebar Manfaat’.

Untuk menangkal hoaks, Nia menyampaikan cara jitu yang dapat dilakukan, yaitu dengan mengamati pesan, membaca sampai selesai, mencari sumbernya.

“Semua itu dilakukan untuk menumbuhkan pola berpikir kritis dalam diri masing-masing. Cara jitu yang disebut dengan ABC juga dapat menjadi pedoman untuk mengetahui bagaimana ciri-ciri informasi yang memuat hoaks,” ujar Nia Nurdiansyah.

Pertama, lanjutnya, yakni penggunaan kata janggal yang cenderung memprovokasi. Kemudian mengutip lembaga atau public figure dengan kalimat yang susunannya tidak terstruktur.

Terakhir, dengan mencari kata kunci informasi tersebut dan melakukan recheck terkait kredibilitas informasi. Semua itu perlu dilakukan agar informasi yang dibagikan tidak memberi pengaruh buruk bagi pembacanya.

Selanjutnya, materi kedua, oleh social media specialist dan Dosen Ilmu Komunikasi UDINUS Devi Purnamasari berjudul ‘Merdeka Bullying, Mari Berkreativitas’.

Ia menyampaikan mengenai bahaya cyber bullying yang menyebabkan seseorang menarik diri dari lingkungan dan menyebabkan gangguan mental serta psikis.

“Cyber bullying rentan terjadi pada generasi millenial, generasi X, dan generasi Z. Untuk mencegah tindakan tersebut, orang-orang di sekitar, baik korban atau rekan korban sebaiknya memberanikan diri untuk menyampaikan masalah tersebut, berani bergerak dan selalu terapkan etika digital dengan memilih untuk tidak menjadi pelaku cyber bullying dan membantu korban bullying,” ujar Devi Purnamasari.

Lalu, pemateri ketiga, Ketua IV Litbang Dewan Kesenian Daerah Demak Dian Nafiatul Awaliyah dengan topik “Stop memecah belas, mari pilah-pilih informasi agar tak saling membenci”.

Terdapat tiga kunci utama dalam menangkal hoaks yang menuntun masyarakat. Meliputi memilah berita sesuai kebutuhan, membaca informasi secara utuh, dan membandingkan informasi dari sumber yang berbeda dan berpikir kritis.

“Masyarakat agar berhenti menebar kebencian dan saling mendukung. Jika terdapat informasi yang menghasilkan kebencian dan perpecahan, tindakan yang bisa diambil adalah memberitahu sebagai pengingat dan melaporkan jika informasi hoaks berbahaya. Dengan begitu, kita perlu menciptakan budaya bermedia sosial sesuai etika yang berlaku dengan berinovasi, adaptasi di era disrupsi,” ujar Dian Nafiatul Awaliyah.

Dari sesi ini, diketahui bahwa sebaiknya media sosial tidak digunakan secara berlebihan dan perlu membatasi konten yang dikonsumsi. Cermat dalam mengelola informasi, jangan mudah tertipu dan tidak ikut serta menyebarkan berita yang belum diketahui pasti kebenarannya.
Baca juga: Kemenkominfo gelar webinar Makin Cakap Digital 2022 bersama siswa di Semarang
Baca juga: Kemenlominfo gelar webinar cakap digital 2022 bertema "Strategi Membangun Personal Branding Melalui Sosial Media"



Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026