Mahasiswa Indonesia yang dievakuasi dari Hubei tempuh kuliah daring

id WNI Wuhan, WNI Hubei,coronavirus,virus corona,Atdikbud KBRI Beijing

Mahasiswa Indonesia yang dievakuasi  dari Hubei tempuh kuliah daring

Mahasiswa asal Aceh yang kuliah di Wuhan Hayatul Hikmah (kanan) yang telah melewati masa karantina dan observasi Coronavirus Disease (COVID-19) selama 14 hari di Natuna, Kepulauan Riau tiba di terminal Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Aceh, (17/2/2020). Sebanyak delapan dari 11 WNI asal Aceh yang berstatus mahasiswa dan bebas dari infeksi COVID-19 disambut keluarga dan para kerabat, sementara tiga lainnya dijadwalkan sampai pada 18 Februari 2020. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/aww. (ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRA)

Jakarta (ANTARA) - Para mahasiswa asal Indonesia yang dievakuasi  dari Provinsi Hubei, China, sebagai dampak wabah virus corona, mulai mengikuti program perkuliahan jarak jauh dalam jaringan.

"Pekan ini mereka sudah mulai kuliah. Begitu juga dengan pelajar kita lainnya di luar Hubei," kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar RI di Beijing Yaya Sutarya, Rabu.

Untuk mendukung proses pembelajaran jarak jauh tersebut, jelas dia, masing-masing perguruan tinggi di China juga telah menyediakan aplikasi khusus untuk para mahasiswanya.

"Dosen juga memberikan tugas kuliah semester genap. Tingkat kesulitan ada pada mata kuliah yang memerlukan praktikum. Namun ada kebijakan kampus yang menggeser jadwal praktikum ke semester berikutnya," ujar Yaya.

Pihaknya juga memantau pola pembelajaran tersebut dan membantu memediasi hambatan-hambatan yang dialami para mahasiswa Indonesia.

Beberapa kampus di China ada yang menetapkan rencana jadwal perkuliahan tatap muka mulai bulan Maret 2020, seperti di Kunming pada 6 Maret dan Yangzhou pada 9 Maret.



"Namun kami tetap mengingatkan mahasiswa kita agar sebelum kembali ke China terlebih dahulu memperhatikan pengumuman resmi dari kampus, terutama yang menyangkut keamanan dan keselamatan," katanya menambahkan.

Yaya juga memastikan pencairan beasiswa, baik dari pemerintah China, pihak swasta, pemerintah daerah di China, dan pihak perguruan tinggi, sudah dilakukan.

"Beasiswa sudah ditransfer ke rekening masing-masing penerima," ujarnya.

Untuk pendaftaran beasiswa pemerintah China (CGS) untuk perkuliahan awal semester ganjil 2020 sudah berakhir pada awal Februari lalu.
Sebelumnya pemerintah China telah menambah kuota beasiswa bagi calon pelajar asal Indonesia menjadi 3.000 orang.

Para peraih beasiswa dibebaskan dari semua biaya perkuliahan, uang sewa asrama, dan uang saku bulanan hingga lulus.

Di Provinsi Hubei yang menjadi daerah episentrum wabah virus COVID-19 terdapat sekitar 500 mahasiswa Indonesia, sekitar 100 di antaranya berkuliah di Wuhan.

Saat  Wuhan dan beberapa kota lain di Hubei diisolasi pada 23 Januari, lebih dari 200 mahasiswa Indonesia tertahan. Kemudian mereka bersama warga negara Indonesia lainnya dievakuasi ke Natuna pada 1 Februari. Setelah menjalani karantina dan observasi selama 14 hari, mereka dipulangkan ke daerah asal masing-masing. 
 
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar