Pemkab Tanggamus perbanyak desa untuk cegah stunting

id Pemkab Tanggamus,Genbest Tanggamus

Pemkab Tanggamus perbanyak desa  untuk cegah stunting

Kasubdit Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Ditjen Informasi Dan Komunikasi Publik Kemenkominfo RI, Sarjono (Kiri) dan Kadis Kominfo Tanggamus Sabarrudin, Kamis (31/10/2019). ANTARA/Dian Hadiyatna

Bandarlampung (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung berencana memperbanyak pekon (desa) sebagai sasaran intervensi penanganan stunting atau masalah kekerdilan.

"Menurut data pada tahun 2019 ada 10 lokus di Tanggamus, pada tahun 2020 kami ada agenda khusus menambah 33 desa sebagai lokus intervensi stunting,"  kata Kadis Kominfo Kabupaten Tanggamus, Sabarrudin saat acara Genbest di Tanggamus Kamis.

Ia mengatakan bahwa mengacu pada data Dinas Kesehatan setempat, angka stunting di Tanggamus saat ini mencapai angka 28 persen dan tahun depan akan coba diturunkan di bawah 20 persen.

"Maka untuk menurunkan akan persentase stunting di sini kami meminta komitmen kepada semua pihak untuk bersama-sama mengatasi masalah ini agar generasi kita ke depan dapat hidup bersih, sehat dan cerdas," kata dia.

Menurut dia, sekarang ini masih banyak remaja yang kurang memperhatikan kesehatan padahal hal ini perlu untuk kepentingan nasional dalam menumbuhkan SDM yang berkualitas.

Di 2020, lanjutnya, penyakit ini harus cepat terdeteksi dan langsung ditangani dari saat proses kehamilan ibu hingga seribu hari kehidupan anak untuk menciptakan generasi emas.

"Maka dari itu kita semua harus turut serta dalam mengkampanyekan program pencegahan stunting sejak dini, kita juga sudah sosialisakan 3P (peduli, pahami dan partisipasi) ke masyarakat," kata dia.

Stunting tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi saat kehamilan, katanya akan tetapi banyak faktor lainnya seperti, pola asuh anak, kebersihan yang tidak terjaga saat masa pertumbuhan, dan lingkungan yang kurang sehat

Ia mengatakan bahwa indikator stunting dapat dilihat dari usia anak yang tidak sebanding dengan pertumbuhannya dan yang paling krusial ada pada umur dua tahun.

"Apabila anak terkena penyakit ini hingga usia 2 tahun itu bisa disebut gagal tumbuh sehingga berpengaruh pada kongitif anak, maka dalam program ini kami lebih menyasar kepada ibu hamil hingga masa kehidupan 1000 hari untuk menciptakan generasi emas," katanya.
Pewarta :
Editor : Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar