DLH diminta segera lacak keberadaan badak Sumatera

id badak sumatera, pedalaman mahulu kaltim,satwa dilindungi

Badak Sumatera bercula dua (DicerorhinusSumatrensis). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Badak di Mahulu juga dimungkinkan berkeliaran hingga di areal hutan tanaman industri (HTI), sehingga pelacakannya tentu saja bukan hanya di kawasan hutan yang masih perawan, tapi juga melacak hingga ke HTI
Bandarlampung (ANTARA) - Wakil Bupati Mahakam Ulu (Mahulu) Y Juan Jenau meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mahulu segera melacak keberadaan badak Sumatera yang selama ini diketahui hidup liar di Kalimantan Timur, khususnya di kawasan pedalaman kabupaten ini.

“Melalui forum ini, saya minta Dinas Lingkungan Hidup (DLH)  Mahulu bersama pihak lain yang terkait memberikan kontribusi nyata dan aktif mendukung untuk melakukan identifikasi keberadaan individu badak Sumatera yang hidup di Kalimantan,” ujar Wakil Bupati Mahulu di Ujoh Bilang, Kamis.

Hal itu dikatakan Juan saat membuka Workshop Perumusan Rencana Penyelamatan Badak Sumatera di Mahakam Ulu yang digelar Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pembangunan (Bapelitbang) Mahulu.

Juan Jenau yang membuka kegiatan atas nama bupati setempat tersebut, mengatakan, pelacakan badak Sumatera hendaknya dilaksanakan melalui survei lacak di mana badak itu pertama diketahui berada, meski sekarang sudah terlacak keberadaannya di wilayah Kampung Nyaribungan.

Namun, katanya, badak yang merupakan satwa purba tersebut memiliki penciuman tajam terhadap keberadaan manusia, sehingga mereka langsung menghindar jauh jika mencium bau manusia, maka pelacakannya dimungkinkan memerlukan waktu beberapa bulan.

Dari pantauan awal, lanjutnya, di kawasan Nyaribungan diperkirakan ada 15 ekor badak, sehingga diharapkan pihak terkait di Mahulu maupun Provinsi Kaltim bisa membantu melakukan pelacakan sampai diketahui berapa populasi badak yang hidup di Mahulu.

Ia juga mengatakan bahwa badak di Mahulu juga dimungkinkan berkeliaran hingga di areal hutan tanaman industri (HTI), sehingga pelacakannya tentu saja bukan hanya di kawasan hutan yang masih perawan, tapi juga melacak hingga ke HTI.

Pembukaan lahan dan penambangan kerap dimulai dari pematangan lahan atau land clearing yang sebagian dilakukan dengan pembakaran hutan, sehingga hal ini menimbulkan efek masif karena menimbulkan asap, katanya.

Kondisi inilah kemudian memicu satwa di sekitarnya merasakan dampak asap yang kemudian menghindar.

“Penebangan hutan juga akan berdampak pada berkurangnya habitat. Kemudian konservasi hutan alam menjadi HTI pun demikian, sehingga ruang gerak badak menjadi sempit dan pindah ke kawasan terisolir yang lambat laun bisa menjadi punah, maka kita harus ambil bagian melindungi hewan purba ini,” katanya. 

Workshop ini diinisiasi oleh World Wide Fund for Nature (WWF), sebuah organisasai internasional nonpemerintah yang menangani konservasi, penelitian, dan restorasi lingkungan.
Pewarta :
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar