Petani : Harga komoditas perkebunan masih rendah

id Tanggamus,Taman Nasional Bukit Barisan Selatan,perkebunan di kawasan hutan lindung

Petani : Harga komoditas perkebunan masih rendah

Para pekebun di kawasan hutan lindung TNBBS di Kabupaten Tanggamus , Minggu, menyebutkan produksi hasil perkebunan mereka mulai turun karena kesuburan tanah berkuran. (Muklasin/Antaralampung.com)

Tanggamus, Lampung (ANTARA) - Sejumlah pekebun di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, menyebutkan harga komoditas perkebunan di daerah itu masih rendah, dan  produktivitas hasil perkebunan juga turun.

Menurut  Wagimin, pekebun di kawasan hutan lindung di  Desa (pekon) Duoh, Kecamatan Bandarnegeri Suong Kabupaten Tamggamus, Minggu , harga biji kopi kini hanya Rp18 ribu per kilogram, biji coklelatRp25 ribu/kg dan lada putih Rp30 ribu per kilogram.

"Harga itu masih rendah, belum tinggi mengingat tanaman kakao sekarang lagi jarang berbuah," katanya. 

Menurut Wagimin, produksi perkebunan di kawasan hutan lindung di Kecamatan Bandarnegeri Suong Tanggamus masih rendah atau belum mencapai target.

"Produktivitas perkebunan kami lagi menurun. Tahun lalu satu hektare lahan kopi hanya menghasilkan biji kopi sebanyak dua kuintal. Kalau tahun ini kemungkinan bisa naik sedikit saja," katanya.
 
Ia menyebutkan beberapa penyebab turunnya produktivitas hasil perkebunan mereka, seperti pemupukan kurang karena sulit mendapatkan pupuk, sementara kesuburan tanah mulai berkurang.
 
Wagimin dan sejumlah pekebun lainnya adalah suatu kelompok penggarap dalam kawasan hutan lindung Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang mendapat izin Usaha Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (IUPHk) nomor B.475/34/II/2014. Mereka selain menanam tanaman yang dianjurkan pemerintah, juga menanam tanaman perkebunan seperti durian, kopi, lada, kakao, jengkol, dan pisang.

Menurut salah satu pekebun lainnya, Parman, hasil perkebunannya dijual ke tengkulak setempat.

Selain itu, kata dia, harga dan produksi perkebunan juga lagi turun di daerahnya.
 
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar