Logo Header Antaranews Lampung

Tindak tegas pelaku bom Samarinda

Senin, 14 November 2016 15:40 WIB
Image Print
Dokumentasi/ Personel Brigade Mobil Polda Kalimantan Timur berjaga di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (13/11/2016). (ANTARA FOTO/Amirulloh)
...dalam catatan JIAD ada lebih dari 5.000 rumah ibadah menjadi korban (kebanyakan milik umat Kristen yang mengalami aksi kekerasan) sejak reformasi

Kediri (Antara Lampung) - Jaringan Islam Anti-Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur, meminta pelaku teror bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, harus ditindak tegas.
"Kami ingin pelaku ditindak tegas. Kami juga mendorong pemerintah lebih serius melawan praktik intoleransi dan radikalisme," kata Koordinator JIAD Jatim Aan Anshori di Kediri, Senin.
Saat dikonfirmasi terkait insiden di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, ia menjelaskan tingkat intoleransi serta radikalisme agama saat ini memengaruhi masyarakat.
Menurut survei Wahid Institute pada 2016, diperkirakan terdapat sekitar 7,7 persen muslim dewasa (seluruh Indonesia) yang siap melakukan aksi kekerasan.
Situasi ini, lanjut dia, diperkeruh kenyataan adanya puluhan anggota gerakan Islam intoleran yang "hidup" di Indonesia.
Bahkan, dalam catatan JIAD ada lebih dari 5.000 rumah ibadah menjadi korban (kebanyakan milik umat Kristen yang mengalami aksi kekerasan) sejak reformasi.
Pihaknya sangat prihatin dengan aksi yang terjadi di Gereja Oikumene, Samarinda pada Minggu (13/11) pagi itu, karena aksi itu menyebabkan lima orang mengalami luka, bahkan empat di antaranya masihanak-anak.
"Kami juga menyampaikan duta cita mendalam pada seluruh jemaat di gereja tersebut. Kami pun mengutuk aksi itu. Penyerangan pada rumah ibadah adalah praktik paling memalukan dalam sejarah peradaban manusia dan hanya orang tidak waras yang berbuat demikian," paparnya.
Aan juga meminta agar aparat penegak hukum meningkatkan perlindungan pada kelompok minoritas d negeri ini, terlebih lagi pascaunjuk rasa pada 4 November 2016 di Jakarta.
"Kami juga meminta aparat penegak hukum tidak memberikan toleransi adanya tindak kekerasan termasuk 'hate speech' dari siapapun terhadap kelompok lainnya," tegasnya.
Aan juga menyerukan pada seluruh komponne lintas iman di Indonesia untuk tidak takut dan terus memperkuat solidaritas melawan beragam praktik kekerasan dan intoleransi atas nama agama.
"Negara ini tidak boleh dirusak oknum yang menggunakan agama untuk memaksakan kehendak. Kita pun harus melawannya," ujar Aan (Antara).



Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026