
"Ekspedisi Indonesia Biru" Singgah di Lampung

Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Tim Ekspedisi Indonesia Biru, Dandhy Dwi Laksono(39) dan Suparta "Ucok" Arz (34), sekitar setahun ini telah berkeliling Indonesia, "blusukan" hingga ke kawasan pedalaman di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam perjalanan menyelesaikan misi keduanya, Dandhy dan Ucok sempat singgah di Kota Metro Provinsi Lampung, Sabtu (26/12), sekaligus menayangkan dan mendiskusikan salah satu film dokumenter yang dihasilkan "Kasepuhan Ciptagelar", dokumentasi menjelajah dan membaur dengan masyarakat Desa Ciptagelar bagian dari Kasepuhan Banten Kidul, terletak di kaki Gunung Halimun, Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat. Permukiman cantik berlatar gunung di desa ini tidak berubah selama ratusan tahun. Bahkan, disebutkan mereka berhasil menjaga tradisi selama 600-an tahun. Hal itu terbukti lewat upacara Seren Taun yang telah digelar ke-645 kalinya. Desa ini memang punya tradisi adat yang kuat layaknya warga Badui Provinsi Banten. Ciptagelar menjadi favorit wisatawan karena menyuguhkan wisata seru.
Kasepuhan Banten Kidul adalah kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda yang tinggal di sekitar Gunung Halimun, terutama di wilayah Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat) sebelah barat hingga ke Kabupaten Lebak (Provinsi Banten), dan ke utara hingga ke Kabupaten Bogor. Kasepuhan (sepuh, tua, Red) menunjuk pada adat istiadat lama yang masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul melingkup beberapa desa tradisional dan setengah tradisional, yang masih mengakui kepemimpinan adat setempat. Terdapat beberapa Kasepuhan di antaranya adalah Kasepuhan Ciptagelar, Kasepuhan Cisungsang, Kasepuhan Cisitu, Kasepuhan Cicarucub, Kasepuhan Citorek, serta Kasepuhan Cibedug. Kasepuhan Ciptagelar sendiri melingkup dua Kasepuhan yang lain, yakni Kasepuhan Ciptamulya dan Kasepuhan Sirnaresmi.
Acara nonton bareng dan diskusi Film "Kasepuhan Ciptagelar" yang diadakan Komunitas Cangkir Kamisan itu, digelar di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Metro, Lampung, Sabtu siang hingga petang.
Ratusan mahasiswa dan berbagai anggota komunitas, termasuk para jurnalis, hadir dalam acara yang menghadirkan Dandhy dan Ucok, dengan pembahas/penanggap Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Metro, Yerri Noer Kartiko, dan redaktur LKBN ANTARA Lampung.
Dandhy yang juga Pengurus Majelis Pertimbangan Organisasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia itu, dalam pengantarnya menyebutkan film dokumenter "Kasepuhan Ciptagelar" adalah salah satu karya film dokumenter yang dihasilkan dari perjalanan di perkampungan Suku Badui, Banten.
Menurut Dandhy, selama perjalanan Ekspedisi Indonesia Biru dalam setahun ini, sebanyak enam hingga tujuh film dokumenter telah dihasilkan, yaitu" "Baduy", "The Mahuzes", "70 Tahun Merdeka", "Lewa di Lembata", "Kala Benoa", "Samin VS Semen", dan "Kasepuhan Ciptagelar".
Ucok Suparta menambahkan, selain film yang sudah selesai edit dan telah ditayangkan di Youtube itu, dia bersama Dandhy masih harus menyelesaikan belasan lagi film dokumenter dari perjalanan keliling Indonesia itu.
Mereka berdua telah merencanakan setidaknya sebanyak 20 tema film dokumenter akan dihasilkan dari perjalanan panjang itu, selain dokumentasi berupa foto dan tulisan/artikel.
Menurut Ucok, selama perjalanan itu, sejumlah tantangan dan kendala dihadapi di lapangan, seperti penggantian roda kendaraan dua sepeda motor Honda Kharisme bekas yang mereka gunakan maupun berbagai masalah yang mengusik kelancaran perjalanannya. "Tapi, sama sekali tidak ada gangguan dari pihak aparat keamanan maupun pemerintahan di tempat yang kami jelajahi," ujar Ucok pula.
Perjalanan yang dilalui mereka pun relatif berjalan seperti direncanakan.
"Namun kondisi yang membosankan adalah ketika harus menunggu sebulan hingga sebulan setengah saat hendak melanjutkan perjalanan dari pulau ke pulau di wilayah Indonesia Timur menunggu jadwal kapal berangkat," kata Ucok lagi.
Namun sambil menunggu itu, biasanya dia bersama Dandhy bisa sambil mengedit atau membenahi perlengkapan yang digunakan.
"Perjalanan kami sekitar 20.000 km telah dilalui, mulai dari Badui pertama kali dan akan diakhiri di Badui lagi, sampai selesai ditargetkan pada 31 Desember 2015 ini," ujar Dandhy yang juga CEO WatchdoC Documentary Maker itu pula.
Film dokumenter yang dihasilkan dua wartawan itu, telah menjadi bahasan dan kajian diskusi di kampus-kampus sejumlah daerah di Indonesia, termasuk oleh berbagai komunitas lainnya.
Namun, di antara film itu, penayangan dan diskusi Film "Samin VS Semen" di kampus tertentu dilarang dan dibubarkan karena alasan berisikan ajaran komunis.
Film dokumenter itu mengisahkan tentang perlawanan penganut ajaran Samin di Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, Jawa Tengah menentang adanya pabrik semen terbesar di Tanah Air, yaitu Semen Gresik dan Indocement Group yang akan membangun pabrik di daerah mereka.
Film itu mengambil latar belakang tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Pati dan Rembang (Jawa Tengah), serta Tuban di Jawa Timur.
Dandhy menegaskan, salah satu dorongan untuk melaksanakan ekspedisi itu adalah keprihatinan terhadap kehadiran televisi di Indonesia yang minim edukasi.
"Ekspedisi ini bukan sekadar jalan-jalan. Bukan hanya mengangkat eksotisme objek wisata. Tapi mengangkat aktualitas dan problematika masyarakat setempat, adat, tradisi, maupun kearifan lokal di luar gambaran umum yang selama ini ditampilkan di publik," ujarnya lagi.
Kritik Pemerintah
Dandhy pun mengkritik kebijakan pemerintah pusat maupun daerah dalam berbagai bidang, berdasarkan hasil ekspedisi itu, terjadi salah urus di lapangan yang berdampak buruk bagi masyarakat maupun lingkungan sekitarnya.
Dia juga menyoroti fakta agama-agama baru yang membuang begitu saja ajaran animisme dan dinamisme, namun belakangan faktanya telah gagal menerjemahkan dan melestarikan peradaban maupun kearifan tradisional yang justru baik.
"Animisme dan dinamisme dicibir atau dibully. Tapi kemudian, adat, tradisi dan kebudayaan serta kearifan tradisional menjadi tergerus. Lingkungan hidup yang semula dikeramatkan dan disembah pun dibiarkan menjadi tak terurus lagi dan akhirnya rusak serta hancur. Sistem pendidikan yang dikembangkan justru mengelaborasi konflik," ujar Dandhy lagi.
Ia menuding, ada yang salah di dalam kebijakan atas agama, kebudayaan maupun sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia saat ini.
"Sistem pendidikan kita ternyata tidak mampu mengadaptasi kondisi aktual dan lokal yang harus dihadapi setiap saat. Gagal menghadapi tantangan keseharian. Esensi pendidikan yang keliru," ujarnya lagi.
Dandhy pun mencontohkan fakta masyarakat Mentawai di Sumatera Barat yang kini justru banyak tak lagi melanjutkan tradisi dan kearifan lokal sebelumnya, antara lain akibat kebijakan pendidikan maupun pembangunan yang disamaratakan diterapkan di daerah ini.
"Fenomena Sikerei atau ahli pengobatan di lingkungan masyarakat Mentawai telah mengajarkan kearifan tradisional yang kini mulai ditinggalkan, namun masyarakat Mentawai selanjutnya justru gagal menghadapi tantangan dan persoalan keseharian yang harus dihadapi," katanya lagi.
Menurut Dandhy, perjalanan itu dilakukan tanpa dukungan biaya dari sponsor, tapi hasil dari menabung selama lima tahun, termasuk menggunakan tabungan milik istrinya. "Saya menyiapkan ekspedisi ini dengan menabung selama lima tahun, dan tabungan itu dihabiskan dalam perjalanan hanya setahun ini," ujarnya pula.
Namun dia mengaku, kini justru merasa bertambah kaya, kaya persaudaraan dan mendapatkan pengalaman baru yang luar biasa.
Perjalanan Tim Ekspedisi Indonesia Biru itu, dimulai dari Rumah Watchdoc di Pondokgede, Bekasi (Jawa Barat) pada 1 Januari 2015, pukul 09.00 WIB.
"Kami sengaja memilih memulai perjalanan dari Indonesia bagian timur, karena selama ini umumnya ekspedisi pernah dilakukan sebelumnya dimulai dari Indonesia bagian barat, sehingga ketika sampai Indonesia timur sudah kehabisan logistik dan kelelahan. Kami sengaja memulai dari timur Indonesia agar dapat mengangkat fenomena yang banyak tidak diketahui umum, saat logistik mencukupi dan tenaga masih segar bugar," kata dia lagi.
Rute perjalanan yang dilalui Dandhy dan Ucok itu, antara lain menyusuri sisi selatan Pulau Jawa, Semarang, Yogyakarta, ke timur melintasi Bali, Nusa Tenggara, Timor, Papua, Kepulauan Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera menyusuri Aceh ke Mentawai (Sumbar) dan singgah di Lampung, dan kemudian bersiap kembali ke tanah Jawa singgah di Badui lagi, sebelum kembali ke tempat awal melakukan perjalanan pada 31 Desember nanti.
Selama perjalanan itu, Dandhy dan Ucok dengan dukungan peralatan yang sudah disiapkan, beberapa kamera, termasuk drone, adalah untuk mendokumentasikan aktivitas sosial ekonomi masyarakat (livelihood), keragaman hayati (biodiversity), kearifan budaya lokal, isu energi dan permasalahan lingkungan hidup yang didokumentasikan melalui foto, video, maupun tulisan dan disebarluaskan bagi kepentingan publik.
Berbagai bahan publikasi dan perkembangan terkait ekspedisi itu, bisa dinikmati khalayak di media umum maupun media sosial sepanjang perjalanan, termasuk di laman Facebook "Ekspedisi Indonesia Biru".
Sedangkan dokumentasi berupa tulisan yang lebih panjang, foto, dan video secara utuh, akan diluncurkan usai ekspedisi yang dijadwalkan selesai 31 Desember 2015 nanti.
Dandhy dan Ucok berjanji, semua hasil perjalanan dalam ekspedisi ini akan diolah, dikelola, dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kepentingan publik melalui karya jurnalistik feature video, artikel, esai foto, buku, maupun film dokumenter, dengan menceritakan tentang kehidupan sosial yang berkeadilan secara ekonomi, arif dalam budaya, dan lestari bagi lingkungan.
"Mudah-mudahan hasil ekspedisi kami ini memberi gambaran nyata dan dapat menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat dan bangsa ini, ketika kebijakan publik, kekuatan modal, dan perubahan sosial memiliki dampak-dampak yang tidak selalu sejalan dengan kehendak dan keinginan masyarakat setempat," ujar Dandhy.
Ia pun mencontohkan kebijakan ketahanan pangan yang dijalankan pemerintah saat ini, dengan memaksakan membuka lahan sawah di Papua, seolah memaksa petani dan masyarakat Papua untuk bercocok tanam padi dan mengkonsumsi padi yang berbeda dengan tradisi cocok tanam dan menu makan yang selama ini dikonsumsi mereka.
"Atas nama kepentingan kebijakan nasional untuk ketahanan pangan dan swasembada beras, termasuk atas nama kepentingan pangan global, warga Papua pun dipaksa mengubah kultur budidaya dan menu konsumsi mereka. Hal itu dipastikan akan berdampak buruk bagi masyarakat setempat," kata Dandhy Laksono pula.
Pewarta : Budisantoso Budiman
Editor:
Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
