Logo Header Antaranews Lampung

Optimisme Pariwisata Indonesia Hadapi MEA

Minggu, 20 Desember 2015 06:08 WIB
Image Print

Jakarta (ANTARA Lampung) - Pariwisata Indonesia menjadi bagian optimisme tersendiri bagi Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) menjelang implementasi pasar tunggal ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Jokowi-JK sejak resmi dilantik sebagai Presiden dan Wapres akhir tahun lalu telah menetapkan pariwisata sebagai sektor unggulan sehingga upaya pengembangannya pun menjadi prioritas.

Pada satu sisi, sektor pariwisata pun dibebani target tinggi untuk bisa memberikan kontribusi besar bagi devisa negara.

Faktanya harus diakui bahwa pada beberapa tahun terakhir, industri pariwisata memang selalu menempati urutan keempat atau kelima penghasil devisa bagi negara.

Sementara sektor-sektor usaha lain seperti minyak dan gas, batu bara, karet, dan tekstil yang menempati posisi urutan kesatu hingga keempat cenderung menurun sesuai dengan karakternya sebagai "non-renewable" produk.

Posisi sektor-sektor andalan itu bahkan diyakini akan sangat mungkin dilampaui oleh sektor pariwisata pada penghujung 2019, dengan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebesar 20 juta dan wisatawan nusantara (wisnus) sebesar 275 juta dapat dicapai.

Oleh karena itu, kini pemerintah menetapkan pariwisata menjadi salah satu dari lima sektor unggulan sehingga anggaran belanja dalam APBN pun naik cukup signifikan demi tercapainya target utama pembangunan kepariwisataan.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan saat ini, Kementerian Pariwisata menetapkan enam target utama pembangunan pariwisata.

"Pertama, kontribusi pariwisata terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) meningkat dari 9 persen pada 2014 menjadi 15 persen pada 2019," katanya.

Kedua, devisa meningkat dari Rp140 triliun pada 2014 menjadi Rp280 triliun pada 2019. Ketiga, kontribusi terhadap kesempatan kerja meningkat dari 11 juta pada 2014 menjadi 13 juta pada 2019.

Keempat, indeks daya saing pariwisata meningkat dari peringkat 70 pada 2014 menjadi 30 pada 2019. Kelima, jumlah kedatangan wisatawan mancanegara meningkat dari 9,4 juta pada 2014 menjadi 20 juta pada 2019.

Dan keenam, jumlah perjalanan wisatawan nusantara meningkat dari 250 juta pada 2014 menjadi 275 juta pada 2019.

"Pada praktinya memang tidak mudah untuk bisa mencapai target tersebut, tetapi hal itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin ketika semua secara bersama-sama baik lintas kementerian dan lembaga pemerintah, maupun pelaku industri pariwisata, masyarakat, insan pers dan berbagai media bekerja keras membangun ekosistem kepariwisataan untuk mencapai target tersebut," katanya.

Mengejar Target
MEA kini tinggal menghitung hari, oleh karena itu banyak pekerjaan rumah di bidang pariwisata semestinya telah rampung dibereskan.

Itu penting agar pariwisata Indonesia dalam berbagai sisi bisa menegakkan kepala saat ancaman MEA menghadang kemudian menghadapi serta mengubahnya menjadi peluang.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Didien Junaedy mengatakan banyak yang harus dilakukan untuk mencapai target tersebut.

"Pemerintah bukan hanya perlu melakukan promosi secara besar-besaran, menyediakan produk yang diinginkan oleh wisatawan, tetapi juga menyiapkan sumber daya manusia (SDM) pariwisata yang terampil, hingga menjamin tersedianya pra-sarana dan sarana," katanya.

Intinya menurut dia, peran pemerintah dalam pembangunan pariwisata tidak hanya membuat regulasi, memfasilitasi, tetapi juga mengintervensi jika dianggap sangat perlu.

"Pemerintah harus terus memfasilitasi pengembangan pasar pariwisata melalui kegiatan promosi," katanya.

Faktanya untuk strategi lima tahun ke depan, pemerintah saat ini telah menerapkan strategi promosi BAS (Branding Advertising Selling) dengan menggunakan proporsi alokasi anggaran promosi pariwisata yakni Branding 50 persen, Advertising 30 persen dan Selling 20 persen.

Di luar itu, Didien menggarisbawahi pentingnya SDM pariwisata yang berkualitas untuk menggarap peluang dalam MEA.

Terbaik Ketiga
Merespons hal itu, pemerintah bahkan optimistis SDM pariwisata Indonesia bisa menempati posisi tiga besar di kawasan ASEAN mulai 2016.

"Saya janji tahun depan SDM kita bisa tiga besar di ASEAN dari sisi kualitas," kata Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan Kementerian Pariwisata Prof Dr. HM Ahman Sya.

Ia mengatakan, saat ini posisi SDM pariwisata Indonesia berada pada peringkat kelima se-ASEAN di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Menurut Ahman Sya, SDM pariwisata Indonesia kalah dengan Filipina dari sisi penguasaan bahasa asing, penguasaan IT, dan manajemen.

"Sebenarnya mudah bagi kita kalau ingin meningkatkan kualitas SDM kita karena perguruan tinggi pariwisata kita sudah banyak," katanya.

Pihaknya mendata setiap tahun rata-rata lulusan sekolah pariwisata di Indonesia mencapai 100.000 orang dari 107 perguruan tinggi dengan 50 persen di antaranya tersertifikasi standar ASEAN.

"Melalui berbagai terobosan yang melibatkan banyak pihak termasuk rapat koordinasi yang secara berkala akan kita lakukan saya yakin 2016 SDM pariwisata kita bisa masuk posisi tiga besar terbaik di ASEAN," katanya.

Menurut dia, upaya penyatuan persepsi antar pemangku kepentingan termasuk perguruan tinggi dan sekolah pariwisata sangat penting untuk menentukan arah pengembangan SDM pariwisata ke depan.

Ia menambahkan seiring dengan perjalanan waktu akhir 2015 mulai diberlakukan MEA yang menerapkan aliran bebas pada; barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja terdidik dari dan ke masing-masing negara ASEAN, makin mendorong Indonesia untuk meningkatkan kualitas SDM sektor pariwisata agar unggul dalam MEA.

Sebagai implemenasi dari aliran bebas tenaga kerja terdidik di sektor pariwisata di masyarakat ASEAN telah ditetapkan ACCSTP.

Menyikapi dan mempertimbangkan dua kondisi tersebut, Kemenpar bersama pemangku kepentingan pariwisata menggencarkan program kegiatan peningkatkan kualitas SDM pariwisata yang antara lain diwujudkan dalam bentuk pelatihan dasar kepariwisataan dan sertifikasi yang tahun ini ditargetkan sebanyak 17.500 tenaga kerja pariwisata dan akan naik menjadi 35.000 sertfikasi pada 2016.

Target-target itu menjadi optimisme tersendiri yang digantungkan pada sektor pariwisata Indonesia menjelang pasar tunggal ASEAN.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026