
Perlawanan yang elegan

Ketika kebudayaan dipahami sebagai gerakan perlawanan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang lebih tinggi, apa yang dilakukan Kementerian Kesehatan lewat iklan layanan publik di layar kaca dengan tajuk Gerakan Rumpi sesungguhnya merupakan perlawanan yang elegan.
Inilah adegan rumpi ibu-ibu rumah tangga yang menjadi bingkai pesan perlawanan yang elegan itu.
Seorang ibu muda memberikan camilan makanan ringan kemasan pada buah hatinya yang balita.
Oleh ibu yang lain, tindakan memberikan camilan makanan olahan pabrik yang tak sehat itu dikecam. Seraya mengecam, ibu ini menunjukkan alternatifnya: memberikan camilan dalam bentuk irisan buah-buahan segar. Sang balita pun melahap suapan buah-buahan itu. Inilah adegan yang mendidik.
Pesan iklan layanan masyarakat ini adalah sebentuk politik kebudayaan yang dijalankan oleh pemerintah. Maka sungguh absurd jika ada seorang sosiolog mengatakan bahwa pemerintah tak punya politik kebudayaan.
Dalam dunia bisnis, terutama bisnis makanan dan minuman, pembohongan oleh industri komersial sudah sedemikian masifnya. Boleh dibilang hampir tak ada iklan yang bebas dari distorsi terhadap ilmu kesehatan.
Hampir semua minuman ringan kemasan didaku alias diklaim oleh produsennya sebagai makanan yang menyehatkan, mengandung serat tinggi dan segala manfaat kesehatan lainnya.
Sebuah produk susu untuk balita diklaim dapat meningkatkan kecerdasan, merangsang kreativitas dan daya inovatif anak.
Makanan olahan pabrik dalam bentuk camilan untuk anak-anak diiklankan bergizi dan mengandung berbagai macam vitamin yang dibutuhkan bagi pertumbuhan anak-anak.
Dalam kondisi gempuran iklan yang menyesatkan ini, kehadiran iklan dalam format gerakan rumpi yang dibuat Kementerian Kesehatan adalah sebuah perlawanan. Yang dilawan, industri makanan dan minuman, adalah institusi dagang raksasa, bisa berskala nasional bisa global, yang punya nafas panjang untuk membiayai iklan-iklan secara lebih sering dengan durasi tayangan yang lebih panjang.
Jika pemerintah diibaratkan Daud atau David dalam kisah kitab suci, Sang Jalut atau Goliath adalah institusi dagang raksasa itu. Siapa pemenangnya dalam pertarungan di ruang publik itu tak penting. Yang utama adalah sikap pemerintah untuk secara sadar memilih spirit Sisyphus, yang tak mengenal lelah memanggul amanat publik dengan memberikan iklan layanan masyarakat yang mencerahkan.
Iklan komersial cenderung menyesatkan untuk mengejar keuntungan dalam perang bisnis yang kian ganas di ajang kapitalisme global.
Dalam hal kesehatan yang berhubungan dengan makanan dan minuman, yang menjadi urusan teramat penting bagi masyarakat, Kementerian Kesehatan adalah garda terdepan dalam menghadang ancaman petaka kesehatan masyarakat.
Masyarakat mudah percaya oleh iklan dengan gambar-gambar iklan makanan dan minuman yang menggoda apalagi yang dijadikan bintang iklan adalah artis yang selama ini punya citra saleh, sabar, santun dan dapat dipercaya. Atau artis yang keibuan, bergelar sarjana medis dan pernah berpraktek sebagai dokter.
Semua iklan makanan dan minuman merupakan antitesis dari prinsip yang dipegang teguh kalangan ahli biologi bahwa makanan yang paling baik dan menyehatkan bagi manusia adalah yang alami, yang tak banyak campur tangan pabrik, tanpa pengawet, pewarna, penyedap dan pemanis kimia.
Fakta-fakta medis memperlihatkan bahwa makanan olahan pabrik jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan menjadi pencetus tumbuh berkembangnya kanker usus, hati, atau perusak jaringan ginjal. Minuman ringan kemasan yang mengandung kadar gula tinggi menjadi pencetus diabetes mellitus.
Iklan lain yang tak kalah menyesatkannya adalah advertensi obat kuat bagi seksualitas pria. Untunglah layar kaca sekarang tak lagi memberi ruang bagi iklan sesat ini. Namun, di radio dan koran kelas dua, iklan jenis ini masih berpeluang mengecoh pendengar dan pembaca.
Obat kuat seksualitas yang sesungguhnya bukanlah pil atau kapsul tapi makanan bergizi dan minuman air putih serta olahraga teratur dan istirahat dengan ritme yang teratur. Ini kata dokter ahli.
Tampaknya Departemen Kesehatan perlu lebih agresif melakukan perlawanan elegan terhadap dominasi ruang publik periklanan yang berada dalam cengkeraman institusi raksasa industri makanan dan minuman.
Perlawanan itu kiranya tak cukup dengan iklan layanan masyarakat yang dibingkai dalam program gerakan rumpi itu. Sudah saatnya, Kementerian Kesehatan menyelenggarakan tayang bincang dengan mengundang pakar-pakar kesehatan masyarakat untuk mengedukasi publik dengan pengetahuan yang ilmiah yang disampaikan dengan bahasa rakyat tentang makanan dan minuman yang menyehatkan.
Asrin Arifin, yang berpengetahuan luas mengenai berbagai makanan menyehatkan dan penganjur pola hidup sehat, agaknya pantas diberi panggung oleh Kementerian Kesehatan untuk berbincang di layar kaca agar didengar oleh publik seluas-luasnya.
Selama ini Asrin hanya berbicara di sebuah radio swasta di Jakarta sepekan sekali dalam salah satu program siaran berbasis religi dengan kupasan materi dari sisi makanan dan gaya hidup sehat. Yang menarik dalam program yang diasuh Asrin adalah bahwa pesan-pesannya mendekonstruksi kesadaran publik tentang arti kesehatan yang dicekokkan oleh industri makanan.
Itu sebabnya, Asrin tak gamang untuk mengatakan bahwa semua biskuit dan semua makanan kemasan dan minuman kemasan merusak kesehatan manusia. Untuk menjadi sehat, orang harus makan sayur dan buah, biji-bijian, kacang-kacangan dan polong-polongan. Dan minuman paling berkhasiat dan menyehatkan adalah air putih.
Yang tak kalah pentingnya yang perlu ditempuh pemerintah adalah membentuk semacam badan sensor iklan. Daripada untuk perfilman, badan sensor lebih berfaedah bagi masyarakat luas jika digunakan untuk menyeleksi iklan yang edukatif bagi publik.
Menambah anggaran untuk iklan layanan masyarakat semacam gerakan rumpi oleh Kementerian Kesehatan agaknya sudah saatnya didukung wakil rakyat di legislatif. Itulah salah satu bentuk politik kebudayaan dari pemerintah.
Pewarta : M Sunyoto
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
