
Perjalanan Tiga Sastrawan Lampung Menembus Belanda

Belanda (ANTARA Lampung) - Tiga sastrawan Lampung, yaitu Isbedy Stiawan ZS, Arman AZ, dan Juperta Panji Utama telah bertolak ke Belanda, Kamis (5/11) lalu.
Tiga sastrawan asal Lampung itu, selama di beberapa tempat di Belanda membaca puisi dan berdiskusi, antara lain di Universitas Leiden di hadapan mahasiswa-sivitas akademika yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Rotterdam Belanda.
"Di Rotterdam kami baca puisi dan diskusi pada Minggu, 9 November. Sedangkan di Universitas Leiden, 13 November nanti," ujar Isbedy, sastrawan yang berjuluk "Paus Sastra Lampung" mengabarkan perjalanan di Belanda itu pula.
Selain baca puisi dan diskusi, misi sastrawan Lampung ini untuk melakukan pendataan tentang kekayaan budaya Lampung yang tersimpan di Belanda.
"Kami akan mendata dan setidaknya merepro peninggalan budaya Lampung masa lalu yang ada di Belanda, serta akan disumbangkan kepada Pemprov Lampung," kata Arman AZ, cerpenis yang konsern pada penelitian khasanah budaya Lampung yang mengikuti perjalanan ke Belanda itu pula.
Berikut catatan perjalanan yang digoreskan Isbedy Stiawan ZS, dengan langgam bertutur sastrawi khasnya sebagai salah satu sastrawan kondang nasional adal Lampung itu, dalam perjalanan bersama dua rekannya di Belanda dalam beberapa hari ini.
Istriku, di Amsterdam ini, aku banyak melihat pasangan--entah suami isteri atau kekasih--bergegas menembus dingin sambil berpelukan. Begitu romantis. Aku pun menjadi anak sekolah di depan sang guru.
Udara saat ini 13 derajat celcius, istriku, aku seperti berada dalam kulkas. Sudah berapa butir vitamin C kukunyah. Aku tak ingin kehilangan daya.
Aku tiba-tiba selalu lapar dan makan. Membuat rokok yang kaubekali untukku tak banyak kubakar. Tapi, makanan kesukaanku dan sepertinya wajib, yakni nasi putih dan lauk sambal goreng jengkol atau petai dan julangjaling, tak kutemui di negara Belanda ini.
Kini aku makan kapsalon made in Turki. Makanan kentang dan daging goreng dibaur mentimun, tomat, sayur-sayuran. Kau tahu aku tak suka sayur. Kupilih kentang dan dagingnya saja. Seperti biasa kita di MC Donald ataupun KFC.
Di negeri.Kincir Angin aku rindu makanan yang diolah oleh tanganmu. Tetapi, itu kelak, 20 hari kemudian.
Aku pulang membawa kenangan. Aku.kembali mengantongi imajinasi, meski aku tak tahu apakah puisi masih berguna di tengah kecamuk politik, intrik, fitnah, sindirmenyindir, kejahatan berdasi, pencurian dan pembegalan motor?
Tetapi tak berarti di kota dunia ini lebih aman. Sebab, seperti cerita mahasiswa Indonesia di Rotterdam. Pencurian sepeda terlalu kerap terjadi.
Istriku, di Amsterdam aku bermalam. Tak ada bintang di sini. Suhu masih beranjak dari 13. Rinai luruh. Begitu sangat dingin. Tak hanya jaket penghangat kupakai, di dalam berlapis kaus. Aku menginap di sebuah hotel sederhana. Dari jendela kamar aku leluasa memandang kesibukan. Orang-orang melangkah gegas, berpakaian tebal, penutup kepala. Entah menuju ke mana dan keperluan apa.
Sejarah negeri Bunga Tulip ini amat fasih bagi kita. Di suatu masa, negeri dengan penduduk bertubuh tinggi dan tegap, hidung mancung pernah singah dan menjajah bangsa kita. Seluruh kekayaan bumi--rempah, lada, kopi, ataupun pala--diangkut ke negeri ini. Kala itu.VOC amat berkuasa dan menakutkan.
Tetapi, saat sekarang, aku tak takut lagi. Jiwa perlawanan telah mengakar di diriku. Aku tak waswas ketika di depan mereka.
Para pahlawan telah mematri keberanian. Catat, aku anak Indonesia, tak boleh ada bangsa lain memandang rendah, hanya dilihat sebelah mata, satu telapak tangan.
Ya, istriku, meminjam larik lagu: nenekmoyangku seorang pelaut. Artinya, siap menghadang dan menembus badai. Sampai ke dermaga.
Ah, kukira kau kini sudah lelap. Tak ingin aku mengganggu tidurmu. Juga anakku.
Aku masih ingin jalan. Budi Darma pernah menoreh pesan padaku: sastrawam harus banyak jalan, karema dalam perjalanan akan kaudapati inspirasi."
Entahlah, aku ragu, apakah sastra masih penting dan diperlukan di dunia yang kini manusianya serba praktis dan fragmatis?
Ketika kejahatan, fitnah, amarah yang mudah pecah, sensasi, publikasi murahan sangat memengaruhi penghuni bumi, masihkah ada waktu menikmati sastra. Masihkah sastra bisa menggoda dan penting dibaca?
Ini malam hujan pertama turun, pertama pula pada musim dingin. Suhu belum juga beranjak dari 13, seperti hendak menafikan angka sial yang diyakini banyak manusia dan bangsa.
Tetapi oramg-orang tak surut, mereka menembus hujan dengan bersepeda. Aku ingin belajar cara disiplin di jalan raya.
Mendahulukan pejalan kaki, memberi lajur bagi pesepeda. Tak gampang emosi seperti bangsa kita. Tidak merasa hebat di jalan raya saat memacu mobil.
Saat ini, istriku, aku di antara anak-anak muda di sebuah kafe hotel di Amsterdam--maaf tak kusebut nama penginapannya lantaran tak begitu penting dan sulit kulafaskan dengan lidah orang kampung sepertiku--menikmati musik. Asap rokok dan bau alkohol.
Istriku, ingin kutinggalkan ruang ini dan masuk kamar, namun aku masih letih memutari kota: museum Van Gogh dan museum lainnya. Jaketku dan penutup kepalaku basah oleh hujan sepanjang jalan. Padahal ini bukan ruangku, sulit menghindari dari dimensi yang bukan kuinginkan.
Kalau saat ini kau terbangun, dan kuyakin dalam sepertiga malam, berwudhu dan salat qiyamullah. Doakan aku, sepenuh harapmu, agar aku tak terperangkap dalam kubangan sampah.
Istriku, jika kau bangun dari tidurmu, bukalah buku puisi. Jangan biarkan puisi berdebu atau dimakan rayap. Penyair jarang lahir, dan yang masih hidup justru ceriwis dan suka bersolek.
Bahkan, mereka kerap merasa super: meremehkan penyair lain, menepis puisi yang bukan dari kalangannya.
Jika pun puisi tak begitu penting sebab dianggap tak mampu mengubah situasi, puisi masih perlu dibaca. Karena di dalamnya, ada rahasia dari hidup ini.
Selamat pagi istriku, selamat menatap matahari. Indonesia.
Jika ada yang datang padamu membawa bunga tulip, itulah aku. Sekuntum cinta yang kupetik dari negeri jauh, beribu-ribu mil dari rumah kita yang sederhana.
Aku tak tahu kenapa orang menyukai bunga tulip. Apakah karena berwarna-warna? Sebab bunga yang identik dengan Belanda, tak juga aroma. Biasa-biasa saja.
Meski aku kurang menyukainya, kubawa juga untukmu. Kutanam di hatiku, kusuburkan dengan senyum. Tersenyumlah untuk harapan dan kenyataan.
Dan, istriku, di Belanda ini aku kembali belajar pada puisi: ia setia pada kata, tidak berdusta pada imajinasi, tak pula nyinyir pada cerita. Sebab puisi adalah seni, maka bagaimana aku akan mencintai sesuatu dengan seni. Menyeret langkahku juga dengan seni.
Meski belakangan ini banyak orang menertawakan kesenian. Hal itu disebabkan kita tak mampu merawatnya dengan tanggungjawab.
Pagi tanpa semburat kuning. Awan putih. Aku malas melangkah. Tapi, bagi orang yang tak berjalan, akankah tujuan bisa dicapai?
Aku galau pagi ini. Teleponmu sampai saat aku antara sadar dan mimpi. Istriku, hidup harus berjalan, meski sesekali harus mundur. Kalau tidak, itu bukan kehidupan.
Aku belajar jalan di sini. Kadang aku cepat menyeret kakiku, kesempatan lain lambat. Menghitung gerak, menerka arah. Semua untuk menghindari agar tak tersesat di bekantara ini.
Masih terbayang peristiwa semalam. Anak-anak muda mabuk. Berceloteh entah apa yang dicakapkan. Teriak-teriak tak rahu apa diteriaki. Di mana-mana, pemabuk selalu layaknya pesakitan alias gila.
Aku tak ingin menjadi gila. Maka aku harus merawat akal sehatku, menghidupi terus imaninasiku, menyuburkan hati agar selalu tumbuh menjadi pohon yang melindungi.
Amsterdam, istriku, aku masih di sini untuk sehari ini. Memasuki museum-museum lagi. Ya di sini banyak sekali gedung museum.
Bangsa ini sangat menghargai museum. Merawat masa lalu dengan baik. Mengabadikan sejarah agar selalu diingat, boleh jadi dipelajari. Bayangkan, untuk seks pun dibuatkan museum. Anak-anak muda menyaksikan reproduksi. Memandangi foto dan patung manusia dan libidonya.
Mengernyitkan dahi saat dua patung yang memerankan fotigrafer dan model wanita telanjang. Sungguh, bagi bangsa yang menjunjung norma ketimuran, museum seperti ini dilarang dibangun.
Persoalannya, banyak museum di tanah air kita yang mati suri. Ruangan selalu sunyi. Pintu-pintu masuk hanya dibuka setahun sekali jika ada anak-anak sekolah rendahan bertamu. Benda-benda purbakala sedikit sekali, seakan Indonesia kehilangan masa silam. Padahal, kita kaya. Sejarah berlimpah. Namun karena kita tak pandai merawat, diambil dan diangkut lalu dimuseumkan di negara lain.
Kita hanya bangga pada cerita-cerita kehebatan nenekmoyang, tanpa pernah memiliki sejarah itu. Tanpa pernah merawat masa lalu itu. Lalu anak-anak yang lahir kini hanya dijejali dongeng-dongeng, tanpa sekali pun melihat peninggalan itu.
Akhirnya, seperti pemimpi, yang kita pumyai hanya narasi. Para orang tua pandai berkisah, tapi tak pernah bisa menunjuki benda-benda yang didongengkan. Entah itu soal kerajaan, sang raja, maupun istana. Sebab, artefak dan surat-surat sudah tiada.
Kenapa kita enggan merawat masa silam? Ini pertanyaan yang rasanya tak bisa kujawab baik dan benar.
Padahal, banyak orang pintar berujar, masa lalu dan masa kini membentuk bagi masa depan. Aku tak begitu bisa memahami.
Di Tanah Air, istriku, sudaj terlalu banyak--barangkali tak terhitung--bangunan tua yang bernama heritage sudah dihancurkan. Penguasa malas mempertahankannya, dengan alasan mahal menjaganya. Kita memang bangsa yang enggan merawat masa silam. Hanya berpikir unruk hari ini. Bagaimana hari ini bisa makan, kalau mungkin kenyang.
Apakah begitu? Semoga saja yang kukatakan ini padamu tidak benar. Maafkan aku salah menyimpulkan.
Dan, istriku, lagi-lagi aku berpesan, jangan abaikan puisi. Betapa pun tak menggunakan jargon "puisi penting dan perlu dimikmati" tak lantas dicampakkan.
Hidup hanya menunda kekalahan, kata Chairi Anwar, namun jangan pula kekalahan itu berupa kesia-siaan.
Aku masih duduk di tepi jalan, sebuah kota yang dulunya tak pernah singgah dalam mimpiku. Tapi sekali saja kubayangkan, setelah mendengar sang guru bercerita ihwal sejarah kolonial saat menguasai tanah air kita.
Bahkan, sejarah tentang kolonisasi pertama di tanah air, yang kemudian melahirkan dusun Bagelen. Sayangnya Museum Transmigrasi di Kabupaten Pesawaran layaknya tidak berpenghuni.
Lagi-lagi bangsa kita malas merawat sejarah, kerap melupakan masa silam. Museum-museum pun ingin dimuseumkan.
Semoga cinta tak dilupakan oleh bangsa. Kuharap kesenian pun tak pula disisihkan dan dilupakan, sebagaimana sejarah dan masa lalu.
Saat ini, pukul 10.22 waktu Amsterdam, aku berada di perut Rijks Museum. Gedung amat besar, beberapa lantai. Di sini tersimpan sejarah masa silam di tiap negara (benua), dari lukisan himgga benda-benda bersejarah.
Aku menjadi kecil dan papa di sini, istriku, dalam keluasan benua tak terperi. Aku menjadi.fakir di keriuhan peninggalan sejarah masa silam. Orang-orang hebat sudah lahir ratusan tahun silam, bahkan berabad-abad.
Untuk apa orang-orang yang hidup kini mengunjungi museum ini? Adakah manfaatnya? Kalau tiada guna bagi pelajaran dan kenangan, lantas kenapa pengunjungnya selalu ramai dan berbayar?
Ternyata kita mesti membiasakan anak mengenal sejarah, menyukai museum, mengapresiasi benda-benda masa silam. Di sana, yakinlah, ada yang bisa dipetik untuk meneguhkan sikap dan apresiasi terhadap kebudayaan.
Masyarakat dari berbagai negara berkelompok ataupun perseorangan memgantre beli tiket masuk Rijks Museum Amsterdam ini.
Seperti kukatakan tadi, istriku, berbagai peninggalan sejarah dan benda berabad silam ada di sini. Ada lukisan manusia Aceh hingga Jawa. Dilukis sekira 1812-an. Sungguh, kekayaan seni tak ternilai.
Rasanya tak mampu menyelesaikan hanya sehari mengubek tiap ruangan yang luas dari gedung ini. Ditambah lagi pengunjung sangat ramai di hari Selasa (10/11) bertepatan Hari Pahlawan bagi bangsa Indonesia.
Setelah Rijks Museum, aku dan Arman Az dan Juperta Panji Utama menuju Museum Van Gogh. Di sini pun mesti antre untuk membeli.tiket dan dapat masuk. Dulu aku hanya mendengar nama Van Gogh dan membaca tulisan orang tentang tokoh ini, namun kini aku.seperti berkarib walaupun sedikit yang bisa kupahami.
Manusia itu punya batas, karya (seni) manusia tak mengenal zaman. Aku makin meyakini bahwa karya seni jika dilahirkan sungguh-sunguh bagi kehidupan niscaya akan selalu up to date dan melampaui ruang dan waktu.
Istriku, dalam suhu 15 derajat celcius namun embusan angin tak seperti di tanah air, sungguh sangat dingin dan mengejangkan jemariku. Aku banyak membakar rokok, tapi tak juga menghangatkan badanku.
Aroma alkohol menyengat, tapi aku tak mau digoda oleh minuman seperti itu. Kubiarkan tubuhku menyesuaikan keadaan secara alami. Aku percaya doamu, Tuhan menjagaku.
Kini aku berada di Paulus Rotterstraat menunggu antre masuk Museum Van Gogh dalam gigil. Langit Rotterdan mendung. Mungkin sesaat lagi hujan dan airnya makin menggigilkan aku.
Saatnya aku merindukan tungku dari hatimu. Bara yang dihidupkan oleh cinta. Kehangatan dalam kasih dan kenyataan.
Seperti para seniman dunia menebar cinta pada manusia dan kehidupan.
Sekiranya di negeri kita museum-museum dihidupkan, apakah akan sesubur di Belanda ini? Entahlah. Tak tahu aku.
Di layar telepon cerdasku mengabarkan suhu udara Amsterdam 15 derajat celsius dengan awan mendung.
Usai Museum Van Gogh aku naik tram menuju.Central Station. Aku akan mengabatkan padamu, masih soal penghargaan negara pada karya seni. Di sini ada gedung opera dan balet, Nederland Film Academy, dan lain-lain.
Jangan lupa pula, istriku, aku pernah mengabarkan Museum Seks. Benar-benar aneh bagi telinga orang Melayu yang menjunjung norma agama dan peradaban Timur.
Hari ini, istriku, perjalanan mingkin lebih 5 kilometer. Tak menaiki trem ataupun bus kota. Untungnya cuaca dingin dan sedikit hujan, jadi tak berkeringat. Barangkali akan lain jika aku jalan kaki di Lampung, banjir peluh hingga tak tertampung.
Aku memasuki Troopeen Museum yang berada di pertigaan jalan besar di Amsterdam. Lagi-lagi museum ini dikunjunyi banyak warga, padahal saat ini waktu sudah menunjukksm 15.36 petang.
Di luar museum gerimis belum reda. Aku sempat berteduh di pinggir toko ketika hujan luruh lumayan lebat. Pada saat berteduh, kami berbincang soal puisi.yang ditulis di dinding facebook. Siapa nama penulisnya, taklah begitu penting disebut.
Pemulis puisi itu merasa tergoda oleh banyaknya lahir penyair. Terhipnotis "rayuan" bermunculan puisi ditulis para penyair hingga mengantar terbang ke negara lain. Mungkin, dibenaknya, puiso dapat menembus sekat kenegaraan.
Sementara, kata Juperta Panji Utama, jangan menulis puisi di musim dingin sebab akan membekukan jemari.
Tetapi, Panji, puisi tidak akan pernah beku. Apatah lagi mati dirajam musim. Puisi akan mengekal dan dibaca sepanjang masa.
Cuma jangan mencintai penyair, jika penulis puisinya adalah perempuan, ia akan mati sebelum lahir banyak puisi.
Penyair perempuan (atau lelaki) sebaiknya memilih cerpenis lelaki, gurauku, jika ingin usia kepenyairanmu menjadi lebih lama. Ah, ini hanya percakapan dungu saja untuk menghapus jemu dihadang hujan.
Istriku, yang menarik dari perjalanan ini, kami menemukan Lampongstraat (Jalan Lampung) di antara nama-nama jalan yang diambil dari khasanah pulau atau suku/provinsi di tanah air. Seperti Madurastraat, Djambistraat, Borneostraat, dan sebagainya.
Kawasan di jalan-jalan.yang menggunakan khasanah Indonesia itu, begitu sepi. Sepertinya daerah apartemen, atau entahlah.
Suasana sunyi itu membuat kami betah. Tenang. Kendaraan sepeda terparkir bernbaris di depan rumah sepanjang jalan Lampung, selain mobil.
Jangan tanya apakah penghuninya orang Lampung atau warga Belanda maupun penduduk berkewarganegaraan Nederland. Aku tak akan bisa menjawab pasti benar.
Demikian pula kalau kau tanya alasan apa pemerintah Belanda memberi nama-nama jalan di Amsterdam itu dari kosa kata suku atau daerah di Indonesia. Boleh jadi, sekadar menerka, orang Belanda sangat mencintai sejarah. Mereka amat tergantung pada kejayaan masa silam, yakni.sebagai kolonial alias negara penjajah.
Kendati di tengah kota Rotterdam bisa kita buktikan bahwa bangsa ini pernah diporakporanda pada Perang Dunia 2. Di jalan ada tanda bekas bom, dam kini diabadikan demgan lampu yang tiap malam hidup berwarna merah. Apakah merah itu perlambang darah atau simbol lain, entah pula.
Menurut cerita kawan dari Indonesia yang telah menetap 15 tahun lebih di Rotterdam, Asjone Martin Sikumbang, sebagian kota itu--kini kawasan Central Plaza, Holand Casino di Karel Doormanstraat--luluhlantak oleh hantam bom amat dahsyat. Setiap tahun, konon diperingati, lampu-lampu di jalan itu menyala dan menembak ke langit.
Kebenaran soal lampu di aspal jalan karema sebagai peringatan PD 2, kawanku itu tak berani memastikan.
Ah, waktu di Amsterdam jelang malam. Berbeda di tanah air, tentu sudah larut. Dan, kau istriku, sekarang kupastikan sudah terlelap sambil memeluk anak kita, Dzafira Adeliaputri Isbedy.
Maka kusudahi cerita ini, esok kuteruskan dengan kisah lain dari negeri yang kini bermusim dingin.
Kau mau? Kau suka?
Gamolan pekhing, sebuah alat musik tradisional terbuat dari bambu berasal dari Lampung Barat sudah berada di Belanda kini.
Gamolan pekhing diyakini sebaga alat musik tradisional sejak masa kekuasaan suku Tumi di lereng Gunung Pesagi--kini wilayah
Lampung Barat--semakin dikembangkan sejak Paksi Sekala Brak, hingga cetik ini tak cuma penyeberannya di komunitas seni dan pelajar Lampung dan Australia.
Syapril Yamin berjuluk Rajo Cetik adalah seniman pengarya alat musik berbahan bambu ini. Seniman tradisional asal Kenali, Lampung Barat ini boleh dikatakan tak lelah mengenalkan dan memopularkan gamolan pekhing. Dia.produksi alat musik itu dan disebar, hingga sekarang tak lagi asing.
Tak hanya performa gamolan pekhing masuk MURI, kini sudah ada notasinya yang dicipta oleh seniman etnis Bali Wayan "Mocoh" Sumarta.
Alat musik tradisional Lampung tak akan dikenal secara global jika sekiranya tiada upaya membuka pintu dunia itu.
Manakala aku, Arman Az dan Juperta Panji Utama diundang PPI/Universitas Leiden dan PPI Leiden, saatnya alat musik khas masyatakat Lampung Barat ini masuk Belanda, negara bekas kolonial bagi Indonesia. Cetik harus dikenalkan, dipromosikan. Karena ia bagian dari kebudayaan Indonesia.
Istriku, dari melihat-lihat museum di Belanda, khususnya di Amsterdam utamanya Rijks Museum tak dipajang benda-benda dari Lampung.
Kebudayaa Lampung seolah tak terpeta dalam sejarah kolonial, padahal kita tahu Indonesia bukan hanya Jawa, Bali, Aceh, serta Makassar, melainkan ada Riau, Medan, Lampung, maupun etnis lainnya di ribuan pulau.
Tetapi begitulah, istriku, Indonesia hanya diketahui sedikit oleh bangsa luar. Bahkan di mata bekas penjajah, Belanda.
Pada.Oktober lalu, Museum Nasional di Jakarta menggelar pameran "Jalur Rempah" yaitu tentang perjalanan rempah di tanah air semasa kolonial. Lagi-lagi sejarah ditulis sesuai yang ada dalam pikiran penulis. Sejarah ingin diulang namun ada saja yang hilang.
Menurut hematku yang doif ini, Lampung penyumbang rempah juga bagi Belanda--dalam hal ini VOC--selain kopra dan lada serta kopi, namun kenapa yang tercatat dalam sejarah hanya Barus (Aceh)?
Menyaksikan kenyataan ini, hati siapapun akan meradang. Apatah lagi aku pernah mendapat pelajaran sejarah di sekolah bahwa Banten "meramgkul" Lampung untuk memudahkan pengiriman hasil hutan untuk VOC!
Demikian pula hal lain bagi Lampung, sungguh banyak yang "hilang" dan "dihilangkan" oleh sejarah. Padahal.Lampung juga bagian dari Indonesia dan memiliki sejarah serta kekayaan khasanah budaya. Lampung pernah ada kepaksian Sekala Brak, juga konon pernah hidup Kerajaan Tulang Bawang. Meski yang kusebut terakhir, iatriku, disimpulkan sejarahwan Hilman Hadikusuma tak ada karena hasil dari penelitiannya untuk memastikan adanya kerajaan harus ada artefak yang ditinggalkan.
Dalam sejarah sastra Indonesia, Lampung telah melahirkan penyair yakni Muhammad Saleh. Pribumi ini menulis syair amat panjang mengenai pandangan mata peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada 1883. Meski "Syair Lampung Karam" karya Muhammad Saleh sebagai reportoar dia tulis di Singapura tiga tahun kemudian adalah karya penulis Lampung.
Syair ini baru ditemukan 100 tahun kemudian di perpustakaan Universitas Leiden. Penemu dan pentraskipnya adalah dosen setempat asal Sumatera Barat, Suryadi Sunuri. Kita mesti berterimakasih padanya.
Walaupun terima kasih kita tak diujudkan dalam bentuk penghargaan, penghormatan, dan sebagainya. Pemerintah, dalam hal ini Lampung, masih menganggap karya seni tak begitu penting. Berbeda dengan olahraga, politik dan atau hal-hal yang bersifat fisik. Persoalan spiritual dan senibudaya acap di nomor sekiankan. Sungguh memyedihkan.
Sampai muasir, sastra Indonesia di Lampung tersisihkan dalam peta sastra Tanah Air. Seakan-akan, sekali lagi, Indonesia hanya Jawa dan Bali.
Anggapan ini telah dibuktikan saat Frankfurt Book Fair baru lalu. Yang hadir di Jerman adalah pengarang Jawa--lebih disempitkan Jakarta--dan Bali.
Alih-alih Lampung disertakan, penulis Sumatera Barat dan Riau tidak dibawa serta ke Jerman.
Nah, akhirnya aku mahfum bahwa siapa yang tahu banyak sejarah cenderung menutupi sebagian dari sejarah tersebut.
Maka, istriku, lawatan aku bersama sastrawan dan peneliti ke Belanda ini ingin menelisik ke belakang tentang sejarah dan khasanah kebudayaan Lampung masa silam yang tersimpan di negeri Kincir Angin.
Salah satunya dengan menyimpan Gamolan Pekhing agar.terdokumentasi dengan baik. Sekarang memang seperti tak berguna, tapi berabad-abad kelak akan berharga.
Istriku, aku ingin mencatat dari perjalananku ini, yakni ternyata di Amsterdam kami temui Lampongatraat (Jalan Lampung).
Betapa bahagia kami. Ketika sejarah masa silam tentang Lampung tak tercaraf. Namun Belanda masih mengjargai keberadaan Lampung.
Istriku, jika kau membaca catatanku ini, senoga kau paham; jaga dan rawat sejarah.
Dari sana kita akan menghargai sastra.dan kebudayaan. Semoga.
Istriku, sudah 5 hari aku di negeri 'Londo' ini dan tak sedetikpun terkena putus arus listrik. Aku pun tak lagi kesal dan mengutuki.PLN, dan ini bisa membanti kondisi emosi; aku bisa gemuk--kata kawan di Lampung.
Aku tentu tak begitu yakin, faktor emosi bisa memengaruhi perkembangan tubuh. Tapi, apakah benar PLN masih hobi byar pet?
Kalau masih, mestinya dikutuk saja dan doakan agar para petingginya dipecat karena tak mampu menyelesaikan masalah.
Di Belanda ini aku belum bertemu tenaga kerja Indonesia (TKI) sebagai buruh bangunan ataupun kerusakan.jalan. Di Rotterdam dan Amsterdam aku menyaksikan perbaikan jalan dan pembuaran lin (jalur) transportasi dalam kota. Seluruh pekerjanya warga pribumi.
Jika semasa penjajahan, Belanda hanya memerintah jajahannya membut jalan baik kereta maupun kendaraan lain, kini dikerjakan sendiri. Tampaknya mereka tak membutuhkan import buruh. Memanfaatkan bangsa sendiri, jauh lebih berdayaguna: meminimalisir membanjirnya anak-anak bangsa mencari pekerjaan di luar negeri.
Tidak seperti.di Tanah Air, betapa banyaknya warga berduyun-duyum mengadu nasib di luar negeri. Sebetulnya itu bisa dijadikan bukti bahwa negara tak menjamin keberlangsungan hidup warganya.
Aku ingin bercerita, lagi-lagi soal merawat dan menjaga nilai-nilai kesejarahan masa lalu di negeri kita yang dilakukan penulis Belanda.
Sebuah buku yang membicarakan soal kolonial dan Indonesia diluncurkan di Rijks Museum, Selasa (10/11) malam. Sayang tak ada diskusi.
Peluncuran buku ini membuktikan kalau Belanda.sangat menghargai sejarah. Acara ini dihadiri banyak mahasiswa Indonesia.
Berbeda sangat di Indonesia. Penulisan ulang suatu peristiwa atau sejarah, harus disesuaikan kepentingan seseorang atau penguasa. Misalnya, saat Orde Baru berkuasa, peristiwa G 30 S PKI sepertinya harus menurut apa yang dikatakan "saksi sejarah" bernama Soeharto.
Maka itu sejumlah orang berulang menuntut pemerintah yang berkuasa saat ini untuk meminta maaf pada korban dsn keluarga korban 1965. Sampai-sampai tema ini diangkat di Franldurt Book Festival 2015. Selain itu mulai Selasa (10/11) hingga Jumat (13/11) di Den Hag digelar pengadilan HAM 1965. Sungguh, munculnya gerakan seperti ini karena.ketakpercayaan pada pemerintah. Boleh jadi pendapatku ini salah.
Di Amsterdam pagi ini, Rabu (11/11) pukul 07.28 awan mendung. Suhu hanya 13 derajat celcius. Mayoritas para turis di hostel Playing Pig masih tidur. Aku bangun pagi sebab ada kewajiban yang mesti kulumasi. Selain ingin bercakap denganmu di sini.
Aku rindu padamu, istriku, maka kutulis segala yang bisa kucatat. Hari ini aku kembali ke.Rotterdam. Ke rumah sahabat warga Indonesia yang sudah bekerka dan menetap 15 tahun di Belanda.
Rumah Asjone Martin Sikumbang kerap dikunjungi warga Indonesia. Sebuah apartemen di Karel.Dormaanstraat seakan menjadi dermaga singgah. Bahkan,.konon.pernah menjadi "tempat penampungan sememtara".warga Indonesia yang bermasalah.
Ajo, panggilan akrab Asjone, seperti "juru penyelamatan" sementara orang Indonesia di Belanda (he he he), apalagi yang "bermasalah" sepertiku.
Dari Ajo lumayan banyak aku mendapatkan informasi soal Belanda, yang suatu saat kelak akan berguna. Suatu malam kami diajak menelisik kota Rotterdam, bahkan pula memasuki casino.
Dia berujar, jika haus cukuplah kau masuk ke.casino. Minuman, mineral, teh maupun kopi disediakan gratis. Cukup berpura-pura penjudi maka petugas di depan casino menyilakan masuk. Setelah itu kami menonton life jazz.
Meski negara tak membolehkan peredaran narkoba, namun sejumlah cafeshop menjamur juga. Konon di tempat itu perdagangan ganja seolah dilegalkan, selain minuman keras. Para pemakai langsung menggunakan barang haram bagi Indonesia di dalam kedai ganja itu--istilah kedai dariku.
Larangan pencandu daun kering asal Aceh itu sesungguhnya ketat, cerita Ajo, mereka bisa ditangkap dan didenda jika menggunakannya di jalan atau tempat umum. Maka setengah legal di kedai-kedai itu. Meskipun aku sempat merasakan aroma ganja dari seorang warga di jalan dengan melangkah sempoyongan.
Artinya polisi di Belanda tak begitu aktif, tak seperti aku lihat di tanah air yang cenderung malah lebay. Lha Pol PP saja sudah bergaya polisi kerjaannya, merazia rumah kos. Bukankah itu tugas Polri?
Ini hari terakhir di Amsterdam. Siang nanti aku ke Rotterdam, selanjutnya ke Leiden. Karena acara baca puisiku dan Juperta Panji Utama pada Jumat (13/11) malam waktu setempat.
Sementara Arman Az melanjutkan tugas penelitian tentang khasanah budaya Lampung di Perpustakaan dan Museum Leiden. Menurut Arman yang telah meneliti dan membawa kopi naskah kamus bahasa Lampung yang ditulis H.N. Van der Tuuk ini, Leiden banyak menyimpan manuskrip dan kekayaan budaya Lampung semasa kolonial yang memang sengaja diangkut Belanda.
Sedang di Amsterdam tak banyak ditemukan ihwal Lampung, kecuali Jalan Lampung (Lampongstraat). Itu sebabnya ia berencana menyerahkan gamolan pekhing persembahan Sultan Sekala Brak Dipertuan ke 23 Pun Edward Syah Pernong kepada Rijks Museum Amsterdam guna disimpan dan dipajang.
Bisa kau bayangkan, seratus atau berabad-abad kemudian, gamolan pekhing akan selalu dilihat pengunjung global. Jangan hanya dikenal masyarakat Lampung dan tak dirawat pemerintah. Coba ke Museum Ruwa Jurai, semoga alat musik dari bambu itu sudah dipajang.
Isterku, aku akan bermalam beberapa hari di Leiden. Tenang saja, kami di sini dalam keadaan sehat dan semoga selalu tanpa masalah.
Kalaupun ada waswas, ya soal isi saku yang terus terkuras. Soalnya harga di sini beberapa kali lipat dibanding di tanah air. Semalam, contohnya, kami menemukan rumah makan masakan Indonesia, Kartika. Aku rindu sekali.
Mau tahu berapa harga nasi dengan lauk ayam, rendang, telur dan sayusayuran? Tiga belas setengah euro. Sedangkan harga mineral (aqua di tanah air) dihargai 2 Euro. Ingin ke toilet dikenakan 2 Euro. Jadi, hidup di sini mahal bahkan lebih mahal daripada Singapura. Jangan heran, jika kami pulang dalam keadaan kosong sakunya.
Semoga saja akal, hati, imajinasi maupun sensepoetica kami justru melimpah.
Tetapi, apakah puisi masih dibaca dan perlu, istriku?
Mendung menyelimuti Amsterdam siang ini, istriku, dan suhu 13 C. Aku di Entrance Amsterdam Museum. Seperti tak bosan masuk keluar museum yang sulit dilakukan di tanah air.
Aku seperti masuk dalam pertapaan. Menjauhi hirukpikuk intrik dan kutukan yang tiap hari selalu ada di tanah air. Setiap orang merasa benar, di hadapannya selalu salah sehingga layak dimaki. Jika pun perlu mengacung sekin. Di sini kurasakan berbalik. Manusia Batat yang dicap peradaban bebas, lebih terasa beradab (?). Tertib di jalan raya, disiplin antre, mengucapkan "sorry" jika merasa salah atau tidak sengaja menyenggol orang.
Di Tanah Air, adu otot ataupun mata melotot sering kita saksikan hanya sebab salah lirik atau tak sengaja bertumburan.
Istriku, kini aku di atas bus menuju Borneolin, Amsterdam. Entah untuk apa kami ke.kawasan ini. Kami hanya manfaatkan tiket yang sudah dibeli untuk sehari (24 jam). Walaupun tahu di atas bus kalau kami salah menaiki bus. Tetapi yakinlah aku tak tersasar di belukar kota ini.
Amsterdam kutinggalkan malam ini, setelah mengisi perut di Cafe Batavia Stasiun Central Amsterdam. Menuju Rotterdam, sebuah kota yang pernah lebur.pada 1940 karena dihujani bom.
Di sini, kali pertama aku mengenal dan mencumbui Belanda. Tiga hari cukup untuk kuketahui lekuk tubuh kota.
Di Amsterdam kami menyambangi muesum Entrance, Museum Pers, dan Museum Maritim.
Aku hanya ikut masuk Pers Museum Borneo Lin. Museum bagi para jurmalis itu tengah memeringati 100 tahun pers Nederland.
Aku bangga bahwa Mohammad Hatta, wakil Presiden RI pernah menjadi narasumber ihwal pers di Belanda pada 1928. Dan MH dibuatkan slide dari foto-fotomya. Sedikit biografi dipajang di sebelah layar, dan backsound lembut.
Berbagai pemberitaan semenjak 100 tahun silam sampai 2015 dipamerkan. Ada Barack Obama, ada pula bacah Aylan Kurdi yang tewas di tepi pantai akibat kejamnya suatu kekuasaan.
Aku masih Stasiun Central Amsterdam, istriku. Maaf baru bisa kubalas sebab tadi sibuk mencari loket tiket. Kata orang banyak bertamya khawatir dicap buyan, sebalikmya kami malas bertanya.
Apalagi aku yang minim kosakata percakapan dalam bahasa global, makin tersisih.dari pergaulan. Hanya aku mesti bersyukur, dengan keterbatasan itu aku tak berkomunikasi dengan sipa pun.
Bukankah tunawicara lebih besar peluangnya untuk mencermati dan mengamati manusia lain? Bahkan terhadap gestur orang?
Istriku, aku makin percaya kebenarannya bahwa tidak selamanya diam menunjukkan seseorang cerdas. Sebagaimana peribahasa diam adalah emas.
Dalam sebuah perjalanan tak melulu bergantung pada maps, tapi juga olah arah dan terka. Menandai sesuatu untuk diingat kemudian.
Kita kerap alpa terlalu meyakini emas, padahal warna kuning bisa saja berupa besi ataupun plastik.
Bunyi belum tentu memekakkan, namun tidak bersuara suatu kesempatan justru amat membahayakan.
Amsterdam jauh tertinggal di belakang. Kuucapkan selamat tinggal. Aku mau tidur di kereta ini mengantarku ke stasiun lain.
Aku sudah sangat capek. Ingin menidurkan keangkuhan, intrik, sok pintar, debat yang hanya meghabiskan energi positif, percakapan yang menjilat, pelukan yang menujah diam-diam, maupun kecupan yang menggigit. Serta senyuman yang menyulut pedang.
Darah siapa yang tumpah? Negeri Holand masih dirundung mendung. Ini musim dingin.....
Pewarta :
Editor:
Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
