
Komunitas Bandung Galang Dukungan Anak-anak Moromoro Bersekolah

Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Sejumlah komunitas di Kota Bandung Provinsi Jawa Barat menggelar sejumlah kegiatan untuk menyampaikan dukungan dan menggalang dana bagi anak-anak warga Moromoro di Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung tetap dapat bersekolah.
Salah satu aktivis asal Lampung yang datang ke Bandung, Wijatnika, menyampaikan bahwa pada Minggu (8/11) sore, sejumlah komunitas di Kota Bandung itu menggelar aksi dukungan bagi warga Moromoro di Lampung.
Menurutnya, suasana di Kafe The Panas Dalam, Jl. Ambon Kota Bandung terlihat berbeda. Meskipun hujan deras tumpah ruah dari langit, berbagai komunitas justru tengah berkumpul di sana untuk menyukseskan kegiatan diskusi, penggalangan dana serta penampilan musik dan seni untuk mendukung gerakan #wesavemoromoro dan #jangantutupsekolahkami.
"Kami senang bisa membuat beberapa komunitas ikut mendukung gerakan ini," ujar Niki Suryaman, salah satu pegiat Komunitas Rumah Bintang (Rubin) Bandung dengan sepasang mata berbinar.
Menurutnya, penting sekali untuk menjadikan isu krusial di Moromoro ini menjadi isu bersama komunitas-komunitas di Bandung maupun di kota lain.
Dekat sebuah banner besar berwarna merah bertajuk "Kami Berhak Sekolah" terlihat sekelompok pemuda tengah melakukan pertunjukkan musik.
Sementara itu, sekumpulan anggota Komunitas Rubin tengah melakukan latihan di belakang panggung. Yang lain juga asyik menyusun beberapa barang yang akan dijual untuk mengumpulkan donasi. Hujan deras tak menyurutkan semangat mereka untuk melakukan yang terbaik bagi anak-anak di Moromoro.
Pada kegiatan ini, Wijatnika dan Rico Andreas sebagai bagian dari tim penggerak #wesavemoromoro, sengaja datang dari Lampung untuk berbagi kisah mengenai inisiasi gerakan ini.
Aktivis LBH Bandung, Assad Ahmad mengatakan bahwa "Isu pendidikan di Moromoro ini merupakan dampak dari konflik agraria yang tidak kunjung diselesaikan oleh pemerintah dan pihak terkait. Masa depan anak-anak menjadi korban. Padahal pendidikan merupakan hak dasar warga negara yang dijamin UUD 1945 dan UU Sisdiknas. Karena itu tidak alasan bagi Pemkab Mesuji untuk menolak memberikan pendidikan pada anak-anak Moromoro," ujarnya.
Rico Andreas menambahkan bahwa sebagai alumni SD Moro Dewe, ia merasa sangat terharu bisa terlibat langsung dengan kegiatan berbagai komunitas di Bandung yang berjuang untuk almamaternya.
"Acara yang digagas oleh Rumah Bintang dan kawan-kawang di Bandung ini sangat inspiratif. Mereka yang belum pernah berkunjung ke Mesuji saja sangat antusias menyelenggarakan acara untuk menyukseskan pendidikan di Moromoro Mesuji, sehingga diharapkan pemerintah lebih bisa membuka mata hati bahwa pendidikan merupakan hak dasar yang harus diberikan untuk adik-adik di SD Moro Dewe, dan dengan acara ini sangat membantu adik-adik di sana, bukan hanya di Bandung saja tetapi harapannya kegiatan ini bisa dilakukan di berbagai daerah nantinya," katanya pula.
Acara yang diinisiasi oleh Komunitas Rumah Bintang and Friends ini menunjukkan kekompakan beberapa komunitas di Bandung dalam mendukung gerakan ini, walau mereka belum pernah berkunjung ke Lampung.
Selain diskusi dan penggalangan dana melalui garage sale dan kotak donasi, beberapa komunitas musik juga memberikan penampilan terbaik mereka.
Salah satunya adalah seniman bernama Dira yang menyanyikan lagu "Sokola Rimba" dengan sangat apik sebagai bentuk dukungan pada anak-anak Moromoro.
Terdapat juga kolaborasi antara Mime Artist and Peaceful Activism, Wanggihoed dengan seniman Deu Galih yang membawakan lagu berjudul "Sekolah Impian", yaitu sekolah seharusnya menyenangkan dan penuh kegembiraan, serta memberi harapan terang benderang tentang nasib anak bangsa di masa depan sebagaimana impian anak-anak SD Moro Dewe yang sekolahnya ditutup pada Mei 2015 lalu.
Para pengunjung beberapa komunitas dan mahasiswa di Bandung mengaku merasa sangat terhibur oleh beberapa pertunjukan seni baik yang ditampilkan oleh tim akustik Rubin, Deu Galih, Flukeminimix, Tetangga Pak Gesang dan Aleia.
Selain itu, mereka jadi paham mengenai perlunya dukungan publik untuk pendidikan anak-anak di Moromoro melalui gerakan #wesavemoromoro dan #jangantutupsekolahkami.
Sebagai aktivis dan seniman, Deu Galih menyatakan bahwa ia sangat setuju jika publik memberikan dukungan untuk pendidikan di Moromoro.
"Semakin terdidik seseorang, maka negara akan diuntungkan karena mereka memiliki calon-calon pemimpin bangsa berkualitas dan terampil. Jika pemerintah setempat melarang warganya untuk sekolah, maka sesungguhnya ia menutup kesempatan anak-anak Moromoro untuk pintar dan berketerampilan," ujar dia lagi.
Para peserta kegiatan ini akhirnya setuju bahwa semua yang mereka lakukan bukan semata-mata menggalang dana untuk membantu anak-anak Moromoro agar tetap bisa sekolah secara finansial, melainkan juga memberikan dukungan moral dan psikologis bahwa ketika pemerintah menutup sekolah mereka, ternyata ada ratusan bahkan ribuan orang yang mendukung mereka untuk tetap bersekolah.
"Tetapkah sekolah adik kami di Moromoro. Walau kita belum pernah bertemu dan tidak saling mengenal, kami akan selalu mendukung kalian untuk sekolah dengan gembira," ujar Niki Suryaman menegaskan.
Pewarta :
Editor:
Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
