
Jangan "lebay" Hadapi Persoalan Lingkungan Hidup

Jakarta (ANTARA LAMPUNG) - Pejabat Kementerian Lingkungan Hidup menegaskan bahwa persoalan lingkungan hidup dan perubahan iklim bisa diatasi dengan sederhana dan tidak perlu diatasi secara berlebihan alias lebay.
"Mematikan lampu untuk menghemat energi tidak perlu duit. Hanya perlu kesadaran. Mengatasi perubahan iklim dengan cara sederhana, istilah anak muda sekarang, kita hidup tidak usah lebay," ujar Kabid Kerentanan Perubahan Iklim Asdep Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Arif Wibowo, di Jakarta, Rabu (11/12).
Isu lingkungan, menurut Arif, pada Diskusi Terbatas Media mengenai Urban Climate Change Resilience (UCCR) diselenggarakan Mercy Corps Indonesia bekerjasama dengan The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) itu, juga merupakan isu ekonomi.
"Supaya tidak lebay, pembangunan perubahan iklim menjadi milik bersama, bukan suatu proyek. Main settingnya harus mencari solusi yang simpel, seperti biogas, optimalisasinya bagaimana. Misalnya, bagaimana petani dapat menghasilkan pupuk organik, menghasilkan beras organik yang nilai jualnya mahal," kata dia lagi.
Ia mengingatkan, emisi dan kerentanan efek rumah kaca jangan naik terus, sehingga bisa ditanggulangi dengan perbuatan-perbuatan sederhana.
"Negara maju melakukan perubahan dengan teknologi. Negara berkembang dengan ketergantungan pada negara maju," ujar dia lagi.
Dari dulu, pemerintah memiliki program pembanguan berkelanjutan dan isu macam-macam, salah satunya perubahan iklim.
Namun, Arif menyayangkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang seringkali mudah diganti akibat kepentingan politis.
Pada diskusi terbatas melibatkan jurnalis berasal dari dua media lokal yang ada pada enam kota dengan Asian Climate Change Resilience Network (ACCCRN) bekerja, yakni Palembang, Lampung, Cirebon, Semarang, Probolinggo, dan Blitar ini, Arif menegaskan banyak instrumen bisa dikembangkan dalam persoalan lingkungan.
"Instrumen itu, antara lain mengarusutamakan acuan, negara juga punya standard operasional prosedur, dan itu menjadi acuan program agar kontinu. Lalu, monitoring dan evaluasi, lantas mengapresiasi kegiatan di masyarakat kemudian kita sampaikan penghargaannya," ujarnya.
Pembangunan yang sesuai dengan perubahan iklim, ujar dia lagi, merupakan pembangunan nasional dengan agenda adaptasi bertujuan untuk menciptakan sistem pembangunan yang tahan terhadap goncangan variabilitas iklim.
"Kajian iklim membutuhkan sainstis, bukan hanya intuisi," kata dia lagi.
Selain Mercy Corps Indonesia, narasumber dari acara diskusi terbatas tersebut adalah perwakilan dari setiap tim kota tempat ACCCRN bekerja, seperti Maulana Muklis dan Nurmaini dari Bandarlampung dan Fery Prihantoro bersama Saur dari Semarang.
Lantas Reny Sefriany dari Palembang, Yoyon Indrayana dari Cirebon, Ely Tartati Ratni dari Blitar, dan Anto Purwanto dari Probolinggo.
Pewarta : Gatot Arifianto
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
