Logo Header Antaranews Lampung

Merawat Dan Melestarikan Noken

Jumat, 28 Desember 2012 07:22 WIB
Image Print
Perajin menyelesaikan pembuatan keranjang/tas khas papua (noken) di Distrik Illu, Puncak Jaya, Papua. (FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma)
Dengan ditetapkanya noken sebagai salah satu warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO, diharapkan noken tetap dirawat dan dilestarikan"

Pada pertengahan Oktober 2012 peneliti dari Balai Arkeologi Jayapura, Papua, Hari Suroto mengungkapkan noken asal Kabupaten Biak yang dibuat dari anyaman daun pandan dan kulit kayu terancam punah karena jumlah perajinnya semakin berkurang.

Hari juga mengatakan noken merupakan hasil dari kerajinan tangan para perajin setempat yang dibuat dari bahan asli alam Papua seperti terbuat dari kulit kayu, daun pandan, anggrek dan lainya yang menunjukan sebagai jati diri masyarakat Papua.

Noken mulai menuju kepunahan dan generasi muda tidak mengenal untuk meneruskan budaya membuat noken dari bahan aslinya.

Atau ada kecenderungan masyarakat Papua sangat jarang membuat noken asli dan akhirnya melupakannya.

"Noken dalam bahasa Biak disebut dengan 'inokson atau inoken'. Noken suku Biak dibuat di Kampung Bosnik, Biak Timur, yang mana perajin noken di Kampung Bosnik, mama-mama sudah lanjut usia dan telah mulai berkurang. Mereka terdiri dari empat orang perajin noken daun pandan dan tiga orang perajin noken kulit kayu," katanya.

"Tambah lagi generasi muda Kampung Bosnik tidak tertarik membuat noken, selain itu bahan baku asli kulit pohon dan daun pandan mulai ditinggalkan diganti dengan benang nylon dan benang manila," lanjutnya mencontohkan salah satu daerah pembuat noken yang hampir punah.

Selang sebulan kemudian, noken, yang merupakan tas tradisional masyarakat Papua yang biasa dibawa dengan menggunakan kepala ataupun digantungkan dileher dan disilangkan di pundak itu yang terbuat dari serat kulit kayu atau bahan alam lainya itu mendapat pengakuan dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultuural Organisation) atau Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan.

Pada 4 Desember 2012 noken mendapat pegakuan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda di depan sidang UNESCO di Paris, Perancis.

Noken ini diperjuangkan oleh putra Papua asal Paniai oleh Titus Pekei yang sejak 2008 lalu.

Perlu Perda
Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Papua dan Papua Barat Apolos Marisan mengatakan, Pemerintah Provinsi Papua perlu membuat peraturan daerah (perda) tentang perlindungan dan pelestarian noken menyusul ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh Unesco.

"Ke depanya pemerintah daerah Papua dalam melangkah dan mewujudkan komitmen tentang noken, sebagai warisan budaya tak benda dunia. Perlu dibuat Perda yang mengakomodir itu sebagai salah satu aksi dimana dalam rangka pelestarian noken ini," kata Marisan.

Menurut dia, sebelum dibuat peraturan daerah, perlunya konsep yang baik dan jelas tentang keberadaan noken dan sejauh mana masyarakat setempat berupaya menjaga dan melindungi serta mengembangkan noken sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa yang telah diakui oleh dunia lewat Unesco.

"Dengan adanya Perda dan konsep yang jelas, diharapkan pelestarian noken ini bisa berdampak yang luas, terutama diberikan kepada generasi muda yang bisa membangun karakter dan jati diri bangsa," katanya.

Dan pada tahun 2013 pemerintah pusat akan segera membangun museum "noken" di wilayah Papua. "Iya, pada tahun depan Pemerintah Pusat berencana membangun museum noken di Jayapura," kata pria asal Biak itu.

Ia menjelaskan rencana pembangunan museum noken di Kota Jayapura, Papua telah dibahas sejak November lalu di Kemendikbud dan direncanakan pada tahun depan pembangunan museum tersebut mulai dilakukan.

Untuk lokasi pembangunan museum noken tersebut akan dilakukan di lokasi Taman BUdaya atau didekat lokasi museum Negeri Papua di Expo-Waena.

Marisan mengatakan dipilihnya Kota Jayapura sebagai tempat pendirian museum noken bukan tidak ada alasan yang pasti dan jelas.

Tetapi pembangunan museum noken tersebut sebelumnya telah didiskusikan dengan berbagai pihak yang berkompeten dan hal itu juga terkait sumber daya manusia yang akan mengelolanya.

"Memang beberapa waktu lalu hal itu telah didiskusikan. Dan saya usulkan hal ini yang utama juga perlu pertimbangan terkait SDM, sehingga hal ini sementara ada di Jayapura. Dan yang menentukan tempatnya adalah kepala Dinas Pariwisata Papua dan dalam hal penataanya itu adalah pegawai yang sudah ada di Museum Negeri Papua," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Papua Eveerth Merauje, mengatakan terkait keputusan UNESCO yang menetapkan Noken sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Bergerak dalam Sidang UNESCO di Paris, Prancis, pada 4 Desember 2012 bisa dijadikan ikon Papua.

"Noken harus diupayakan menjadi ikon dan ciri khas orang Papua," katanya.

Dikatakanya bahwa dengan diakuinya Noken itu maka secepatnya hal ini perlu diapresiasikan oleh semua pihak yang ada di wilayah tersebut.

Karena noken merupakan alat budaya pemersatu suku bangsa di Papua, dan noken harus diupayakan menjadi ikon dan ciri khas orang Papua dan Papua Barat.

"Noken melukiskan identitas dan jati diri pribadi dan suku di Papua," katanya.

Ia menilai bahwa menindaklanjuti keputusan salah satu badan khusus di PBB itu maka pemerintah daerah di provinsi itu harus memberikan perlindungan hukum, yakni Perda untuk upaya pelestarian Noken.

Ia juga mengatakan noken perlu dimasukan dalam pelajaran disekolah-sekolah yang ada didaerah tersebut sebagai suatu kearifan lokal, sehingga para generasi muda penerus bangsa tidak melupakan tentang noken.

"Saya setuju jika noken dimasukan dalam pelajaran muatan lokal di sekolah," katanya.

Marshel Suebu, guru mata pelajaran muatan lokal di SMUN 1 Sentani, Kabupaten Jayapura mengatakan jikalau Noken sudah masuk dalam kelompok pelajaran kearifan lokal.

"Sudah dari 2010/2011 di SMUN 1 Sentani, Kabupaten Jayapura, saya sebagai guru muatan lokal, saya minta sekolah supaya memberikan ruang untuk mengajarkan noken dan saya mengajar. Dan untuk noken ada pada satu bab khusus tentang apa itu dan bagaiman noken dibuat," katanya.

Menurut dia, siswa di SMUN 1 Sentani, Kabupaten Jayapura telah diajarkan tentang noken sampai bagaimana membuat noken pada tingkatan dasar, yakni pada anyamanan dasar.

"Siswa diajarkan apa itu makna dan filosi noken, hingga bagaiman menganyam pada tingkat dasar," katanya.

Lebih lanjut ketua Komunitas Noken Papua (Konopa) yang juga telah mematenkan merk dagang dengan nama yang sama di Kemenkumham RI itu mengatakan untuk menurunkan informasi tentang noken kepada anak muda sebagai generasi penerus bukanlah pekerjaan yang muda.

"Karena itu sebelum dia (noken) hilang, karena itu dia warisan budaya yang diturunkan secara lisan melalui cerita, apa lagi kalau cerita sudah tidak benar atau hilang. Maka perlu diberikan dalam pelajaran di sekolah," kata pendiri klub pencinta alam Hirosi.

Menteri Koordintaor Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono saat berada di ibu Kota Provinsi Papua, Kota Jayapura pada 19-20 Desember lalu berharap kelestarian noken semakin terjaga setelah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tentunya dengan cara membuat dan memakai noken dalam tiap kesempatan.

"Dengan ditetapkanya noken sebagai salah satu warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO, diharapkan noken tetap dirawat dan dilestarikan. Dan harapan terbesarnya adalah pendapatan masyarakat pengrajin noken juga akan meningkat," kata Menko Kesra Agung Laksono dihadapan pejabat gubernur Provinsi Papua, Constan Karam, tokoh masyarakat, adat, agama, perempuan dan pihak terkait lainya didaerah tersebut dalam suatu pertemuan.



Pewarta :
Editor: Gatot Arifianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026