
Laptop Untuk Gadis "Tukang Bata"

Nur, 16 tahun, itulah nama panggilan pelajar yang tinggal di Desa Sungai Badak Kabupaten Mesuji itu.
Untuk anak perempuan seusianya, dia patut diacungi jempol. Karena apa ?
Selain bersekolah, ia ternyata tidak sungkan bekerja sebagai buruh pencetak batu bata di tobong (pabrik) batu bata milik tetangganya.
Untuk setiap batu bata yang berhasil dicetaknya, dia memperoleh upah sebesar Rp60. Bukan karena faktor ekonomi belaka yang membuat dirinya menggeluti pekerjaan itu, namun dengan memanfaatkan waktu luangnya seperti itu maka Nur mengaku dapat menabung dan belajar mandiri sejak dini.
"Dari pulang sekolah sampai menjelang sore biasanya saya bisa mencetak sekitar 100 sampai 150 buah. Lumayan lah, selain untuk nabung dan bisa kursus komputer, aku juga kan jadi belajar mandiri dari sekarang, kata siswi kelas 2 SMAN 1 Mesuji ini.
Kegiatan Nur tersebut sempat terlihat oleh Bupati Mesuji Khamamik yang saat itu sedang meninjau Saluran Pengolahan Air Minum Ibu Kota Kecamatan (SPAM-IKK), tak jauh dari tempat Nur bekerja.
Khamamik pun lalu menghampirinya dan langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Namun Nur sempat menolak.
"Aduh maaf Pak, tangan saya kotor banyak tanah liatnya," ujar Nur yang dijawab dengan senyuman Pak Bupati. Akhirnya, dengan malu-malu Nur pun mau berjabat tangan.
Sesaat kemudian mereka tampak berbincang-bincang seputar kegiatan Nur. Mengetahui bahwa Nur juga saat ini sedang mengikuti kursus komputer, Khamamik pun dengan spontan mengatakan bahwa dalam waktu dekat ini dia akan mengirimkan laptop kepada Nur.
"Saya bangga dengan anak muda seperti ini, yang mau memanfaatkan waktu luangnya untuk kegiatan-kegiatan yang positif dan menghasilkan", ujar Bupati.
Pewarta :
Editor:
Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
