Logo Header Antaranews Lampung

Penganyam Uzur Di Antara 658 Penganggur

Selasa, 3 Januari 2012 09:45 WIB
Image Print

Lelaki berusia 81 tahun yang tinggal di daerah dengan sekitar 658 pencari kerja atau penganggur itu masih tekun menganyam bilah-bilah bambu menjadi tampah selepas menjalani operasi hernia dan komplikasi lambung.

"Alhamdulillah, setiap tiga hari sekali masih bisa membuat sepuluh tampah siap jual dengan harga satuan Rp12.500," ujar Juned Efendi, sembari tersenyum dan merapikan tampah buatannya di ranjang kayu sederhana yang menopang tubuhnya.

Di tahun 2010, melalui tangan rentanya, warga Dusun Talangkaret, Kampung Lembasung, Kabupaten Waykanan, Provinsi Lampung itu masih mampu membuat 100 keping tampah per bulan dengan harga satuan Rp10 ribu.

"Untuk harga ada peningkatan memang. Namun untuk urusan membuat tampah saat ini, Insya Allah, 90 buah per bulan masih sanggup," katanya dengan mata berbinar yakin kendati korneanya telah kelabu.

Kabupaten Waykanan tempat ia tinggal bersama istrinya, Arsih (59), merupakan daerah pemekaran Kabupaten Lampung Utara tahun 1999 dan masih termasuk satu dari 183 kabupaten/kota tertinggal di Indonesia sebagaimana disampaikan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini saat berkunjung ke daerah itu pada 26 April 2011.

Persentase tingkat pengangguran terbuka di Waykanan ialah 3.56 persen. Demikian dikatakan Kepala Bidang Tenaga Kerja Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi setempat, Sutrisno Utomo.

Dan per Desember 2011, pencari kerja yang terdaftar di instansinya sejumlah 658 orang, terdiri dari 20 lulusan SD, 39 lulusan SMP, 276 lulusan SMA, 65 D1 dan D2, 66 D3 dan 184 S1.

Kendati jumlah tersebut berkurang dari data sebelumnya dimana pencari kerja yang terdaftar ialah 893 orang sehubungan adanya faktor pertambahan perusahaan di daerah itu, tetapi hal tersebut tetap saja permasalahan yang harus diurai.

"Antara lain dengan membuka lapangan kerja baru, mendatangkan investasi, memberikan insentif, subsidi dan program bantuan untuk rakyat sebagaimana dikatakan Bustami Zainudin dan Raden Nasution Husin sewaktu penyampaian visi misi calon bupati dan wakil bupati Waykanan tanggal 13 sampai dengan 26 Juni 2010," ujar Sekretaris Umum Karang Taruna Waykanan Abdul Kodir Zaelani.

Kodir berpendapat, ketidaktersediaan lapangan kerja jelas berpotensi menimbulkan permasalahan kriminalitas.

Seperti menegaskan pernyataan Kodir, Kepolisian Resor Waykanan dan Kejaksaan Negeri Blambanganumpu pun sama-sama menyatakan kasus dominan yang sering ditangani pihaknya di daerah yang memiliki upah minimum kabupaten (UMK) sejumlah Rp866 ribu dan sekitar 47 ribu KK miskin itu ialah pencurian getah karet dan hasil perkebunan lain seperti sawit dengan pelaku orang-orang usia produktif.

Sebuah kenyataan bertolak belakang dengan Juned yang uzur, yang dengan keterampilan dimilikinya mampu meraup Rp1.125 juta per bulan di daerah dengan kebutuhan hidup layak (KHL) 2011 sejumlah Rp1.037 juta itu.

"Uang sejumlah itu cukup untuk hidup bersama istri. Tetapi terus terang, saya kewalahan melayani pesanan, karenanya, saya siap sekali jika ada anak muda atau siapa saja yang masih menganggur mau belajar sungguh-sungguh membuat tampah untuk membantu saya, sehingga ke depan memiliki keterampilan sebagai bekal hidup," kata Juned penuh harap.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia, ujar Kepala Bidang Pemerintahan dan Sosial Budaya pada Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) setempat, Anang Risgiyanto, memang merupakan rencana kerja pemerintah daerah itu tahun mendatang guna mengurai permasalahan tingkat pengangguran terbuka dan kemiskinan di daerah tersebut.


Bangkit Setelah Sakit

Pada pertengahan 2011, lelaki kelahiran Jawa Barat tahun 1930 itu terbujur lemah di ranjang RSUD ZA Pagar Alam akibat penyakit yang dideritanya.

Di ruang tunggu, tangis dan kecemasan anak dan istrinya semakin menjadi ketika dokter menyatakan tidak sanggup menangani penyakitnya dan menyarankan Juned dirujuk ke RSUD Abdoel Moeloek, Bandarlampung.

"Tetapi Alhamdulillah, saat ini sudah sehat dan siap bekerja lagi," kata Juned bersemangat seperti saat ANTARA wawancarai pada 16 September 2010.

Seperti pepatah sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai, tak ada jenuh dan semangat yang luruh dari pria yang pada malam pergantian tahun baru 2011 atau 31 Desember 2010 malam mendapat penghargaan "Inspiring People" oleh Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan) Kabupaten Waykanan karena mampu menghasilkan anyaman bambu untuk keperluan rumah tangga sebanyak 100 buah per bulan di usianya yang tergolong uzur.

Pada saat menyampaikan penghargaan tersebut, Bupati Kabupaten Waykanan Bustami Zainudin mengharapkan upaya Pokjawan mengapresiasi kreativitas masyarakatnya bisa menjadi suluh dalam kegelapan.

Sehingga warga di daerah yang dipimpinnya termotivasi untuk mandiri oleh orang-orang semacam Juned.

Dan selepas istirahat lama karena sakit, di atas ranjang kayu yang mendukung tubuhnya yang semakin kurus, Juned yang sekarang tak sanggup berdiri lama, kembali bangkit menjalani hidup dengan memproduksi dan memasarkan tampah melalui istrinya di antara ratusan pencari kerja di daerah itu.

Harga bambu jenis `wulung' (hitam) dengan panjang 6 meter per batang Rp10.000 menurut Juned bisa menghasilkan kisaran 20 buah tampah. Sementara potensi penjualannya masih bagus dan masih banyak peminatnya.

"Bahkan ketika mau diantarkan ke tempat warung yang biasa menerima produksi tampah, seringkali warga yang berpapasan di jalan justru membelinya," kata Arsih, di samping Juned yang tetap meyakini masyarakat yang punya ketrampilan cenderung bisa membuka lapangan kerja sendiri.

Sebagaimana disampaikannya tahun lalu, Juned yang merasa beruntung ketika muda dulu mau belajar kepada orang lain sehingga mempunyai keterampilan yang bisa digunakan untuk menyambung hidup mempunyai pendapat tetap.

Jika kemandirian masyarakat di daerah dengan tingkat pengangguran terbuka serta jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan masih relatif besar sebagaimana diakui pemerintah setempat, bisa terwujud optimal dengan adanya perhatian dari pihak pemerintah daerah itu.

Dan Juned,yang tinggal sekitar tiga kilometer dari Kantor Pemerintahan Kabupaten Waykanan, siap berbagi keterampilan yang dimilikinya itu untuk membantu mengurangi beberapa pengangguran usia produktif di daerah tersebut, sejak tahun lalu, kendati dengan modal dengkul atau modalnya sendiri yang tipis sehubungan program optimalisasi pendapatan rakyat pada setiap jenis usaha dari pemerintah setempat belum sampai kepadanya.

"Terima kasih atas penghargaannya waktu itu," ujar Juned sembari mengatakan satu-satunya piagam yang ia terima selama hidupnya membuatnya merasa dihargai sebagai manusia lebih. Sehingga siap bertanggung jawab menjadi suluh sebagaimana harapan pemimpin daerah itu.



Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026