
Banyak Mata Tertuju Pada Abraham Samad

Abraham Samad kini menjadi orang nomor satu di Komisi Pemberantasam Korupsi (KPK) menggantikan ketua sebelumnya, Busyro Muqoddas.
Abraham terpilih menjadi ketua KPK periode 2011-2015 pada pemilihan di Komisi III DPR RI, Jumat (2/12) sore.
Pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 27 November 1966, ini memperoleh suara mayoritas yakni 43 suara (76,78 persen) jauh melampui empat pimpinan KPK lainnya, Busyro Muqoddas (lima suara), Bambang Widjojanto (empat suara), Zulkarnain (tiga suara), serta Adnan Pandu Praja (satu suara).
Dengan terpilihnya Abraham Samad, banyak mata tertuju kepadanya, terutama dari penggiat antikorupsi, praktisi dan aparat penegak hukum, birokrat, maupun terduga pelaku korupsi.
Siapa sebenarnya Abraham Samad? Mengapa dia mampu mengungguli ketua KPK sebelumnya Busyro Muqoddas maupun calon ketua KPK yang lebih populer Bambang Widjoyanto?
Mengapa Komisi III DPR RI memilih Abraham Saad daripada Busyro Muqoddas dan Bambang Widjojanto?
Sejumlah pertanyaan lainnya memenuhi benak sebagian besar masyarakat yang peduli terhadap pemberantasan korupsi.
Anggota Komisi III DPR RI, Trimedya Panjaitan mengatakan, sebagian besar anggota Komisi III DPR RI memilih Abraham Samad sebagai ketua KPK dengan sejumlah pertimbangan.
Menurut dia, Abraham adalah figur muda yang memiliki komitmen dan keberanian untuk melakukan pemberantasan korupsi dengan segala risikonya.
"Abraham juga memiliki rekam jejak yang baik dan relatif belum terkooptasi oleh kepentingan politik dan kekuatan tertentu," katanya.
Politisi PDI Perjuangan ini mengakui, Bambang Widjojanto juga memiliki komitmen dan keberanian dalam melakukan pemberantasan korupsi serta memiliki banyak pengalaman.
Namun, Trimedya melihat Abraham memiliki sikap yang lebih tenang serta menyatakan berani menghadapi segala risiko dari kasus-kasus korupsi yang diberantas KPK.
Praktisi anti korupsi di Makassar Sulawesi Selatan ini menarik perhatian dan simpati anggota Komisi III DPR RI, karena pernyataan-pernyataannya yang lantang dan lugas pada saat uji kelayakan dan kepatutan.
Ia menyatakan, jika terpilih sebagai pimpinan KPK akan memprioritaskan pemberantasan kasus korupsi berskala besar sesuai dengan amanah UU No 30 tahun 2002 tentang KPK.
Abraham Samad menyatakan, memiliki komitmen melakukan pemberantasan kerupsi, terutama kasus korupsi berskala besar karena dinilai merugikan negara serta menyengsarakan masyarakat.
Ditanya, anggota Komisi III DPR RI, bagaimana dengan kasus Bank Century, kasus Nazaruddin, maupun kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang hingga saat ini tidak tuntas?
Abraham menegaskan, semua kasus korupsi bersakala besar baik yang selama ini tertunda maupun yang nanti akan muncul, akan dijadikan prioritaskan.
"Semua kasus korupsi berskala besar akan menjadi prioritas untuk dipercepat prosesnya," katanya.
Bahkan ia juga menegaskan, jika ada anggota keluarganya yang menjadi tersangka kasus korupsi, akan dihukum berat.
Menurut dia, tidak ada tebang pilih dalam pemberantasan korupsi, siapapun pelakunya jika bukti-buktinya cukup akan diproses.
Pada uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR RI, Abraham juga mengkritik kinerja KPK yang dipimpin Busyro Muqoddas, yang dinilai tidak fokus.
Menurut dia, KPK di bawah kepemimpinan Busyro tidak fokus memberantas korupsi berskala besar tapi malah memproses kasus-kasus korupsi berskala kecil yang seharusnya dilimpahkan ke Kejaksaan dan Kepolisian.
Doktor hukum pidana dari Universitas Hasanuddin juga berjanji, akan membuat roadmap pemberantasan korupsi dengan memprioritaskan kasus-kasus korupsi berskala besar.
"Dengan dibuatnya roadmap (peta jalan) maka pemberantasan korupsi yang akan dilakukan KPK akan lebih fokus," katanya.
Abraham juga berjanji, jika selama satu tahun KPK tidak bisa melakukan pemberantasan kasus korupsi berskala besar, dirinya siap mundur dari jabatan pimpinan KPK.
Trimedya Panjaitan menambahkan, ia memilih Abraham Samad karena pernyataan-pernyataan yang berani dan berjanji siap mundur jika ternyata KPK tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kita tunggu saja, bagaimana sepak terjangnya selama satu tahun ke depan," kata Trimedya.
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Nasir Jamil menambahkan, anggota Komisi III memilih Abraham Samad karena janji-janji yang dilontarkannya untuk memberantas kasus-kasus korupsi berskala besar tanpa pandang bulu.
Di mata Nasir Jamil, Abraham berjanji berani menyelesaikan kasus Bank Century dalam waktu satu tahun dan siap mundur jika tidak dapat menyelesaikannya.
"Janji Abraham ini merupakan sikap yang sangat berani," katanya.
Siapa Abraham Samad?
Masyarakat Indonesia banyak yang belum mengenal Abraham Samad karena selama ini dia adalah penggiat antikorupsi di Sulawesi Selatan.
Abraham Samad adalah putra dari pasangan almarhum Andi Samad (purnawirawan perwira menengah TNI) dan Siti Maryam yang lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 27 Nopember 1966.
Masa kecilnya hingga dewasa sebagian besar dijalaninya di kota kelahirannya.
Ia menyelesaikan pendidikan sekolah dasar hingga SMA di sebuah lembaga pendidikan swasta yang lokasinya tidak jauh dari asrama tentara, tempat demisili keluarganya.
Ia kemudian melanjutkan kuliah mulai dari program sarjana hingga doktor di Universitas Hasanuddin, Makassar.
Selama masa kuliah, ia menjadi aktivis kampus, antara lain pernah menduduki jabatan sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum serta Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Hasanuddin, Makassar.
Ia adalah doktor bidang hukum pidana dari Fakultas Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar.
Di kota kelahirannya, Abraham Samad dikenal sebagai aktivis antikorupsi dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar.
Ketika masih aktif di LBH, Abraham menikah dengan Indriani Kartika, yang juga alumni Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, Makassar.
Indriani Kartika yang dinikahinya adalah putri Brigjen (Purn) Juritno, mantan Bupati Mamuju, saat masih bergabung dengan Sulawesi Selatan.
Kegiatan Abraham Samad sebelum terpilih menjadi ketua KPK adalah praktisi hukum yang berkantor di Makassar.
Ia benyak melakukan kegiatan pembelaan kepada masyarakat maupun membongkar kasus korupsi di Makassar.
Abraham terus berkonsentrasi sebagai praktisi hukum dan penggiat anti korupsi juga tak terlpas dari dukungan istrinya, Indriani Kartika.
Karena itu, ketika mengetahui Abraham Samad terpilih sebagai Ketua KPK, Indriani Kartika menyambut gembira dan bersyukur.
Menurut Indriani, suaminya sudah lebih dari 10 tahun sebagai penggiat antikorupsi.
Indri juga menyadari konsekuensi dari membongkar kasus korupsi yang dilakukan Abraham, seperti teror dan ancaman. (ANTARA/Riza Harahap)
Pewarta :
Editor:
Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
