
Nasib TKI Siapa Yang Tahu

Kuwait City (ANTARA) - Senyuman lebar dan wajah yang berbinar gembira terlihat jelas di raut muka Ani Siti Nuraini setelah penantian panjangnya selama empat bulan ini akhirnya membuahkan hasil.
Dalam benaknya sudah mulai terbayang sambutan yang bakal diterimanya dari keluarganya yang berada di Indramayu, Jawa Barat.
Kerinduannya kepada orang tua dan tiga adiknya yang tidak pernah dijumpainya dalam lima tahun terkahir ini segera terbayarkan.
Perjuangan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Doha, Qatar, untuk memaksa majikannya membayar sisa gajinya selama tiga tahun akhirnya berhasil.
"Alhamdulillah saya bersyukur dan berterima kasih karena KBRI telah bekerja keras mengurus gaji saya yang belum dibayar dan saya dengar segera dibayarkan oleh majikan saya," kata wanita berusia 24 tahun itu.
Rasa lelah menanti sejak Maret 2011 di tempat penampungan (shleter) di KBRI Qatar terbayarkan. Di awal Agustus 2011, ia pun dijanjikan bakal kembali ke kampung halamannya di Indramayu jika telah mendapatkan tiket pesawat ke Tanah Air.
Nasib Ani Siti Nuraini nampaknya lebih beruntung dibandingkan dengan 125 rekannya yang masih ditampung di tempat yang sama.
Sebut saja Siti Nur Hasanah (23), TKI asal Karawang, Jawa Barat, yang baru bekerja di Qatar selama lima bulan, namun dua bulan gaji belum dibayar.
Raut kesedihan masih terlihat di wajahnya. Siti yang sudah empat bulan berada di KBRI Qatar belum tahu kapan ia akan kembali ke Tanah Air.
Ibu satu anak itu mengaku tidak kuat menerima perlakuan sang majikan perempuan yang cerewet dan selalu tidak puas dengan apa yang dikerjakannya. Bahkan, tidak jarang ia dipukul jika salah menjalankan perintah sang majikan.
Nasib yang hampir sama juga dialami TKI informal yang bekerja di Kuwait. Nengsih binti Sarya Uli, misalnya, terlihat begitu sedih ketika ditanya soal keluarganya.
Sontak air matanya meleleh membayangkan wajah anak keduanya yang ia tinggalkan saat masih berusia satu tahun. Tentu setelah 11 tahun ditinggalkan, anaknya itu telah mulai beranjak remaja.
Saat ditemui di "transit house", --istilah untuk tempat penampungan TKI di KBRI Kuwait--, wanita asal Kampung Sadang, Kecamatan Ciparang, Kabupaten Bandung, Jabar, itu mengaku sangat rindu dengan keluarganya di kampung.
Nengsih menceritakan pengalaman pahitnya selama 2,5 tahun gajinya tidak dibayar oleh majikan pertama, dan selama empat tahun juga tidak dibayarkan oleh majikan keduanya.
"Saya kapok tidak akan menjadi TKI lagi, saya mau urus keluarga saja," kata Nengsih yang juga pernah lima tahun bekerja di Arab Saudi.
Di "transit house" KBRI Kuwait, Nengsih tidak sendiri, ia harus setia menanti bersama 61 rekannya sesama TKI yang masih dalam proses penyelesaian masalah untuk dipulangkan ke Tanah Air.
Derita para sejumlah tenaga kerja Indonesia yang kurang beruntung di luar negeri sepertinya tak habis-habisnya terjadi dan terus menjadi pembicaraan masyarakat pada umumnya.
Nasib baik
Namun, tidak semua nasib buruk dialami para TKI yang bekerja di luar negeri. Setidaknya hal itu dialami ratusan TKI yang bekerja di dua perusahaan gas terkemuka di Qatar, Qatar Gas dan Ras Gas.
Said Malawi, misalnya. Pria yang telah 15 tahun bekerja di Qatar sebagai tenaga profesional di bidang gas bumi itu mengaku sangat menikmati pekerjaannya di negara yang kini menjadi penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia itu.
Sekretaris Jenderal Persatuan Masyarakat Indonesia di Qatar (Permiqa) itu mengatakan, warga Indonesia yang bekerja di perusahaan gas Qatar itu telah membuat komunitas warga Indonesia tersendiri di Al Khor Community, sebuah kota kecil yang ditempuh selama satu jam dari Doha, Ibu Kota Qatar.
"Kami di sini sekitar 400 kepala keluarga. Di sini kami menikmati suasana Indonesia, seperti berada di negeri sendiri. Kami sudah seperti keluarga di sini," ujar ayah tiga anak, yang dua di antaranya lahir di Qatar itu.
Di tempat mereka bekerja, kata pria asal Aceh yang pernah bekerja di LNG Bireun Lhokseumawe itu mengatakan, mereka tidak perlu lagi memikirkan sewa rumah, bayar listrik, air, serta asuransi kesehatan, karena semua telah dijamin oleh manajemen perusahaan.
"Gaji saya hanya untuk keperluan rutin saja, karena semua dijamin perusahaan termasuk jika kami atau anggota keluarga ada yang sakit. Bahkan, rekan kami yang meninggal di Indonesia beberapa waktu lalu, ahli waris atau isterinya mendapat santunan yang sangat besar," kata pria yang sejak 1996 berada di Qatar dan ikut membangun cikal bakal perusahaan gas terkemuka Qatar.
Bahkan, kata dia, biaya untuk cuti ke Indonesia untuk semua anggota keluarga juga ditanggung perusahaan.
Nasib TKI di luar negeri memang tidak ada yang tahu, namun perbedaan nasib antara TKI sektor informal khususnya PLRT dan TKI profesional masih bisa diramalkan .
Setidaknya fakta membuktikan bahwa TKI sektor formal di luar negeri seperti tenaga profesional dan mandiri kondisinya jauh lebih dibanding TKI sektor informal yang kerap menuai masalah dan kesedihan.
Karena itu, Deputi Penempatan BNP2TKI Ade Adam Noch mengakui bahwa pemerintah memiliki" pekerjaan rumah" yang sangat berat yakni menyediakan lebih banyak lapangan kerja untuk mengurangi jumlah TKI yang bekerja sebagai PLRT dan memberi kesempatan luas bagi TKI profesional dan mandiri untuk bekerja di luar negeri. (Ant)
Pewarta : Arief Mujayatno
Editor:
Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
