Logo Header Antaranews Lampung

BI: Perkembangan Usaha Lampung Baik

Selasa, 21 Juni 2011 11:50 WIB
Image Print
BI: Perkambangan Usaha Lampung Baik (Logo, BI)

LAMPUNG - Bank Indonesia (BI) Bandarlampung mengatakan perkembangan kegiatan usaha di Lampung pada triwulan pertama 2011 secara umum mengalami perkembangan cukup baik.

"Hal itu ditunjukkan oleh meningkatnya penjualan dalam negeri dan jumlah tenaga kerja," kata Pemimpin Kantor BI Bandarlampung, I Made Subaga Wirya, di Bandarlampung, Selasa.

Ia menyebutkan, peningkatan kegiatan usaha terutama terjadi di sektor industri pengolahan pakan ternak, perdagangan otomotif dan perdagangan ritel.

Menurutnya, pelaku usaha menyebutkan alasan terkait meningkatnya penjualan, antara lain karena meningkatnya permintaan daya beli masyarakat.

"Untuk proyeksi ke depan, penjualan domestik secara umum diperkirakan akan mengalami peningkatan sering dengan meningkatnya permintaan," kata dia.

Disisi lain menurut dia, pelaku usaha di sektor perdagangan ritel menyatakan meskipun omzet mengalami peningkatan disebabkan kenaikan harga, namun secara volume justru mengalami penurunan akibat semakin tingginya biaya dan persaingan usaha yang semakin ketat.

Pemimpin BI Bandaralampung itu mengatakan meskipun secara umum dunia usaha pada periode laporan mengalami peningkatan, namun tidak demikian yang terjadi pada sektor pertanian dan peternakan.

Sektor pertanian tidak mengalami perubahan volume penjualan sementara sektor peternakan justru mengalami penurunan penjualan akibat adanya kebijakan kuota impor sapi ynag ditetapkan pemerintah.

Dari sisi perdagangan luar negeri, para pelaku usaha disubsektor perkebunan menginformasikan bahwa penjualan ekspor pada awal 2011 mengalami penurunan seperti terjadi pada ekspor kopi akibat faktor cuaca yakni curah hujan yang tinggi dan lama.

Sementara subsektor pertanian lainnya tidak melakukan penjualan dengan orientasi ekspor dengan pertimbangan bahwa produk di pasar domestik lebih menguntungkan.

Proyeksi tahun 2011 kata Made, para eksportir kopi masih pesimis dan menilai bahwa penjualan ekspor akan mengalami penurunan akibat faktor anomali cuaca yang tidak bisa diprediksi.

Sementara salah satu pelaku usaha di subsektor perkebunan menargetkan untuk kembali melakukan ekspor tahun ini.

Lebih lanjut pelaku usaha menyatakan bahwa terdapat beberapa kendala yang menghambat perkembangan usaha diantaranya yakni kondisi infrastruktur tidak mendukung, jalan kurang memadai dan tidak stabilnya suplai listrik.

Kemudian, anomali cuaca, kebijakan impor sapi serta ancaman larangan impor sapi dari Australia, keterbatasan pasokan bahan baku, pemerintah daerah yang memberlakukan pajak progresif.

Serta kurangnya perhatian pemerintah kepada sektor pertanian dan perkebunan seperti semakin jarangnya kegiatan penyuluhan petani lapangan terutama sejka berlakunya otonomi daerah. (ANTARA/A054).



Pewarta :
Editor: Agus Setyawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026