Jakarta (ANTARA) - Kopi yang kini dinikmati secara estetis, tidak hanya membawa manfaat ekonomis dan ecososial, tapi juga secara ekologis.

Harsono, warga Desa Mlandi, Kecamatan Wonosobo, sedang mensortir biji kopi di teras rumahnya, sebagian dijemur di atas atap. Rumahnya terletak di ketinggian 1300 meter di atas permukaan laut (mdpl), seperti tertulis dalam keterangan Danone AQUA yang diterima Sabtu.

Kopinya dipanen dari tegalan yang berada di lereng Dieng, daerah resapan air untuk Kawasan Wonosobo dan sekitarnya. Dia dan warga lainnya sebelumnya mengembangkan pertanian sayuran layaknya petani lain di lereng Dieng.

Budidaya sayuran membutuhkan cahaya matahari yang melimpah, sehingga memangkas tegakan pohon yang menghalangi matahari. Kopi selain tegakan pohonnya dipertahankan hidup, juga memiliki kemampuan meresapkan air ke dalam tanah yang lebih baik. Selain itu nilai ekonominya juga bisa menggerakkan perekonomian petani.

Serupa dengan Harsono di Wonosobo. I Ketut Kartika Yasa atau lebih akrab dipanggil Bli Wana dari Banjar Jempanang, Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Provinsi Bali juga melakukan hal yang sama. Yang berbeda dari Wonosobo adalah dia mengembangkan tanaman kopi di antara pepohonan yang sudah ada. Seperti halnya penopang roda ekonomi di Wonosobo.

Kopi di Banjar Jempanang juga menjadi tanaman konservasi. Selain kemampuannya meresapkan tanah di lereng Puncak Mangu, keberadaannya juga menjaga keanekaragaman hayati yang ada.

Kedua lokasi pengembangan kopi sebagai upaya konservasi tersebut adalah secuil potret dari wujud komitmen Danone AQUA bersama mitra yaitu Yayasan Niru Daya untuk memperkenalkan Kopi Konservasi dengan nama Kopi Tirto.

Produk yang memperkenalkan kepada publik bahwa kopi membawa cerita konservasi secara ekologis dan ekonomis dari setiap lokasi. Tagline yang diserukan adalah “Secangkir Kopi Merawat Bumi”

Bekerjasama dengan Yayasan Niru Daya sebagai mitra yang berpengalaman, AQUA turut membantu pendampingan dan pengenalan ekonomi hijau para petani kopi ini.

Mulai dari bagaimana mengembangkan green bean kopi yang berkualitas, memproses dan mengemas secara modern, serta mendistribusikan dan membantu manajemen penjualan untuk memastikan kopi yang ditanam demi konservasi ekosistem pegunungan dan sumber daya air ini bisa dinikmati oleh masyarakat pecinta kopi bahkan yang tinggal ribuan kilometer dari tempat kopi ditanam.

Arif Mujahidin, Communication Director Danone Indonesia menegaskan alasan kenapa menyebut produk kopi ini Kopi Tirto.

“Pabrik AQUA berada di pegunungan yang berdekatan dengan keanekaragaman hayati ekosistem pegunungan. Itulah kenapa kami di Danone AQUA berupaya membantu mereka. Kopi yang tidak hanya berkualitas tapi juga penting untuk menjaga ekosistem air yang bisa ‘mengalir’ sampai cangkir kopimu. Secangkir Kopi Merawat Bumi”, jelasnya.

Saat ini Danone AQUA bersama Nirudaya Foundation telah mendampingi sebanyak 120 petani kopi yang tersebar di beberapa lokasi di mana terdapat pabrik AQUA.

Beragam kopi ditanam masyarakat di wilayah pegunungan di mana pabrik AQUA berada. Hal tersebut menjadi sumber mata pencaharian mereka agar mereka tidak merusak hutan untuk menopang kehidupan keluarga mereka.

Budidaya Kopi Tirto ini tersebar di sejumlah wilayah, seperti Jempanang, Badung (Bali) dengan jenis kopi arabika; Wonosobo (Jawa Tengah) arabika; Pandaan (Jawa Timur) arabika dan robusta; serta Tanggamus (Lampung) dengan jenis kopi robusta.

“Ayo kita nikmati Kopi Tirto sembari membantu ekonomi petani serta menjaga air yang ada di bumi, terus nikmati Kopi Tirto mu bersama AQUA dan tersenyumlah karena kamu telah berkontribusi untuk petani, air dan bumi,” ajak Arif.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kopi Tirto, secangkir kopi merawat bumi
 

Pewarta : Maria Rosari Dwi Putri
Editor : Agus Wira Sukarta
Copyright © ANTARA 2024