Menkes: Stok Sinovac menipis, gunakan Astrazeneca dan Pfizer
Senin, 22 November 2021 19:51 WIB
Lanjut usia mengikuti vaksinasi vaksin COVID-19 di Kabupaten Simeulue, Aceh, Senin (22/11/2021. ANTARA/Ade Irwansah
Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan vaksin merek Astrazeneca dan Pfizer yang kini lebih banyak digunakan di Indonesia aman untuk digunakan seiring mulai menipisnya persediaan vaksin Sinovac.
"Dua vaksin ini sama amannya, efikasinya lebih tinggi. Tapi karena baru, masyarakat masih ragu untuk menggunakannya," kata Budi dalam konferensi pers mengenai perkembangan situasi pandemi COVID-19 di Indonesia yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin.
Menkes mendorong agar semua masyarakat yang belum divaksinasi, terutama para lansia, agar tetap mau dan nyaman dengan menggunakan vaksin apapun guna mencapai target cakupan vaksinasi sebagai syarat membentuk kekebalan kelompok terhadap penyakit COVID-19.
Baca juga: Menkes akan kejar mati-matian vaksinasi lanjut usia
"Memang ada demam, tapi tidak usah khawatir, vaksin-vaksin ini sudah terbukti aman, tidak usah ragu-ragu untuk segera divaksinasi. Jangan sampai apa yang terjadi di di Eropa bisa terjadi di Indonesia," katanya.
Budi menerangkan saat ini juga mulai terjadi penurunan laju vaksinasi yang sebelumnya sebanyak dua juta suntikan per hari kini menjadi di bawahnya. Hal itu disebabkan dengan mulai menurunnya persediaan vaksin Sinovac.
Saat ini stok vaksin yang dimiliki Indonesia sebanyak 287 juta dosis. Sebanyak 273 juta dosis sudah dikirim ke berbagai daerah, dan sebanyak 225 juta dosis sudah disuntikkan sehingga tersisa 50 juta dosis. Budi menerangkan jumlah stok yang tersisa tersebut masih cukup untuk dilakukan vaksinasi selama satu bulan ke depan.
Baca juga: Kemenkes: Pilih-pilih merek vaksin memperlambat laju vaksinasi
Menkes juga melaporkan bahwa saat ini Indonesia lebih banyak mendapatkan donasi vaksin dari luar negeri lantaran produksi yang berlebih di negara maju.
"Kita sekarang lebih banyak menerima vaksin donasi dari luar negeri karena produksi vaksin di negara maju sudah berlebih untuk mereka gunakan sendiri. Dan paling banyak kita terima dalam jenis vaksin Pfizer dan Moderna," kata Budi.
"Dua vaksin ini sama amannya, efikasinya lebih tinggi. Tapi karena baru, masyarakat masih ragu untuk menggunakannya," kata Budi dalam konferensi pers mengenai perkembangan situasi pandemi COVID-19 di Indonesia yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin.
Menkes mendorong agar semua masyarakat yang belum divaksinasi, terutama para lansia, agar tetap mau dan nyaman dengan menggunakan vaksin apapun guna mencapai target cakupan vaksinasi sebagai syarat membentuk kekebalan kelompok terhadap penyakit COVID-19.
Baca juga: Menkes akan kejar mati-matian vaksinasi lanjut usia
"Memang ada demam, tapi tidak usah khawatir, vaksin-vaksin ini sudah terbukti aman, tidak usah ragu-ragu untuk segera divaksinasi. Jangan sampai apa yang terjadi di di Eropa bisa terjadi di Indonesia," katanya.
Budi menerangkan saat ini juga mulai terjadi penurunan laju vaksinasi yang sebelumnya sebanyak dua juta suntikan per hari kini menjadi di bawahnya. Hal itu disebabkan dengan mulai menurunnya persediaan vaksin Sinovac.
Saat ini stok vaksin yang dimiliki Indonesia sebanyak 287 juta dosis. Sebanyak 273 juta dosis sudah dikirim ke berbagai daerah, dan sebanyak 225 juta dosis sudah disuntikkan sehingga tersisa 50 juta dosis. Budi menerangkan jumlah stok yang tersisa tersebut masih cukup untuk dilakukan vaksinasi selama satu bulan ke depan.
Baca juga: Kemenkes: Pilih-pilih merek vaksin memperlambat laju vaksinasi
Menkes juga melaporkan bahwa saat ini Indonesia lebih banyak mendapatkan donasi vaksin dari luar negeri lantaran produksi yang berlebih di negara maju.
"Kita sekarang lebih banyak menerima vaksin donasi dari luar negeri karena produksi vaksin di negara maju sudah berlebih untuk mereka gunakan sendiri. Dan paling banyak kita terima dalam jenis vaksin Pfizer dan Moderna," kata Budi.
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor : Edy Supriyadi
Copyright © ANTARA 2026