Singapura (ANTARA) - Apa rasanya menjadi turis asing di negara yang masih berpandemi? Mengunjungi tempat yang biasanya ramai dengan berbagai atraksi kini harus berdampingan dengan berbagai macam protokol kesehatan.

Sejak pandemi COVID-19 melanda dunia, kegiatan pariwisata mengalami mati suri, namun perlahan tapi pasti beberapa negara mulai bangkit untuk menghidupkan kembali perjalanan wisata, salah satunya adalah Singapura yang mulai membuka perbatasan untuk keperluan bisnis dan perjalanan penting.

Beberapa waktu lalu ANTARA berkesempatan hadir dalam acara TravelRevive, sebuah pameran dagang pariwisata pertama se-Asia Pasifik yang diselenggarakan sejak pandemi COVID-19. Selain menghadiri gelaran tersebut, delegasi dari Indonesia juga diajak untuk berkunjung ke beberapa tempat rekreasi yang biasanya ramai oleh wisatawan.

Perjalanan ini bisa dibilang sangat baru dan lumayan seru, karena kami bisa dikatakan sebagai "turis percobaan" pertama yang mengelilingi Singapura dalam keadaan pandemi meski negara ini sudah memasuki fase 2. Sebagai bentuk uji coba, tentu banyak sekali peraturan yang harus dipatuhi oleh para wisatawan asing ini.
  Token TraceTogether harus digunakan oleh para turis yang berkunjung ke Singapura, fungsinya untuk melacak jejak pengunjung guna memudahkan pencarian jika ada yang terpapar COVID-19 (ANTARA/Maria Cicilia Galuh)


Hal pertama yang dilakukan oleh rombongan turis uji coba ini adalah melakukan swab PCR di bandara Changi begitu tiba di Singapura. Setelah selesai, kami diberi token TraceTogether sebagai alat pelacak.

Token ini berfungsi untuk mendeteksi ke mana para turis pergi, agar jika ada yang terpapar COVID-19 dan dekat dengan keberadaan kami, bisa langsung dihubungi oleh pemerintah Singapura.

Sebenarnya alat pelacak TraceTogether ini tidak hanya berlaku bagi para turis tapi juga penduduk lokal, bedanya mereka menggunakan aplikasi yang diunduh di ponsel. Setiap masuk atau mendatangi sebuah tempat, baik turis ataupun warga lokal tetap harus memindai barcode di pintu masuk sebagai syarat kunjungan agar mudah dilacak.

Hal ini tentu menjadi pengalaman yang baru saat mengunjungi Singapura, belum lagi kami juga harus mengikuti protokol keamanan dan keselamatan yang ada seperti selalu menjaga jarak minimal 1 meter, sebisa mungkin tidak berinteraksi dengan warga lokal, masker tidak boleh dilepas kecuali saat makan dan minum serta selalu bersama dengan kelompok yang telah ditetapkan oleh pihak penyelenggara yakni Singapore Tourism Board (STB).

Setiap kelompok terdiri dari lima orang dan tidak boleh berpindah keanggotaan tanpa persetujuan dari penyelenggara. Kelompok ini akan terus bersama hingga saat kepulangan kembali ke Indonesia.
 


Yang paling menarik adalah Anda tidak bisa melanggarnya sedikit pun, sebab di Singapura ada petugas yang bernama Safe Distancing Officer/Ambassador yang selalu siap siaga di berbagai tempat. Mereka mengenakan tanda atau semacam badge berwarna merah di lengannya.

Tugas mereka adalah menegur orang-orang yang melanggar protokol kesehatan, tidak hanya turis tapi juga warga lokal. Beberapa petugas malah bisa memberi sanksi atau denda terhadap seseorang ataupun restoran yang kedapatan melanggar aturan.

Contohnya, saat sedang berjalan-jalan di kawasan Chinatown, ada seorang nenek yang tengah duduk tanpa mengenakan masker. Petugas ini langsung menghampiri dan meminta sang nenek untuk mengenakan masker dan alasannya mencopot masker di tempat umum. Mungkin hal seperti jarang ditemukan di Indonesia.

Para petugas Safe Distancing ini memiliki julukan Semut Merah atau Red Ants karena keberadaannya yang tersebar di seluruh tempat, khususnya daerah ramai. Jadi pernah jangan coba-coba untuk melanggar aturan yang telah ditetapkan jika tidak ingin terkena teguran.

Kami juga sempat mengunjungi beberapa tempat rekreasi untuk sekadar melihat bagaimana perbedaan antara sebelum dan sesudah pandemi. Tempat yang dikunjungi antara lain S.E.A Aquarium, kawasan Chinatown, Indian Heritage Center, Malay Heritage Center, menaiki The Royal Albatross hingga melakukan vespa ride night.

Tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh para turis asing ini, jelas tidak seramai saat sebelum pandemi. Kini yang dapat dilihat hanyalah penduduk lokal yang hilir-mudik atau menikmati santap siang bersama keluarga.

Chinatown misalnya, kawasan yang selalu dipadati oleh turis untuk berbelanja pernak-pernik murah tersebut tampak lengang. Kami pun tidak diperkenankan terlalu lama berada di satu tempat, dan kelompok-kelompok yang telah ditetapkan oleh Singapore Tourism Board ini dipencar agar tidak saling bertemu atau bersisipan di jalan.
 


Ada sebuah kejadian unik saat menjelajahi kawasan Malay Heritage Center. Karena hampir satu tahun tidak ada wisatawan yang berkunjung ke Singapura, ketika melihat rombongan turis uji coba ini, penduduk setempat begitu takjub bahkan ada beberapa orang yang mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan perjalanan kami.

Tak hanya itu, saat berkendara Vespa mengelilingi Malay Heritage Center, banyak warga setempat yang melambaikan tangan pada kami dan bertepuk tangan. Mungkin kedatangan kami seperti angin segar bagi mereka, karena bisa dibilang rombongan TravelRevive ini adalah turis pertama yang berkunjung ke Singapura setelah pandemi.

Menjadi turis asing di negeri berpandemi bisa dibilang gampang-gampang susah. Mudah karena kita hanya perlu mengikuti peraturan yang berlaku, yang pada dasarnya standar keamanan ini sama dengan yang ditetapkan oleh WHO.

Susahnya, orang Indonesia terbiasa untuk berkerumun, saling sapa hingga punya kebiasaan berbelanja sehingga kerap kali diingatkan untuk selalu menjaga jarak aman dan tidak mampir ke tempat yang menyimpang dari pengajuan rencana perjalanan.
 


Pemerintah Singapura sendiri sepertinya sudah siap membuka kembali pariwisatanya untuk turis mancanegara. Dari semua prototipe yang diujikan kepada para turis ini, sebenarnya semua cukup mudah untuk diikuti, semua hanya masalah adaptasinya saja dan tidak ada yang memberatkan karena keselamatan dan keamanan para turis benar-benar diperhatikan.

Pihak STB sendiri mengatakan protokol yang diterapkan pada rombongan turis ini belum tentu juga diterapkan pada masa mendatang. Sebab mereka masih akan terus menyusun peraturan seperti apa yang paling pas dan sempurna untuk wisatawan mancanegara.

"Ini adalah prototipe yang sedangkan dikembangkan, jadi apa yang kita pelajari dari tur ini juga akan dilaporkan dan kita akan improve untuk turis normal, turis Asia untuk masa mendatang," ujar perwakilan STB Indonesia, Mohamed Firhan Abdul Salam beberapa waktu lalu.

Apa yang diterapkan oleh pemerintah Singapura pada dasarnya bisa juga digunakan di Indonesia untuk seluruh warganya dan juga wisatawan mancanegara yang yang berencana liburan ke tanah air. Namun memang dibutuhkan kesiapan dari segi teknologi, pengawasan terhadap pelanggaran dan juga kesadaran masyarakatnya akan kebiasaan baru terhadap standar protokol keselamatan.

Jika semua ini bisa dilakukan, maka perjalanan yang aman dan nyaman tetap dapat dilakukan walau dalam keadaan pandemi.

Pewarta : Maria Cicilia
Editor : Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2024