Kurs dolar AS jatuh Selasa pagi
Selasa, 16 Juni 2020 7:30 WIB
Uang dolar AS. ANTARA/REUTERS/Lee Jae-Won
New York (ANTARA) - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) jatuh pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), setelah Federal Reserve mengumumkan akan membeli obligasi korporasi individu di pasar sekunder, memicu langkah pengambilan risiko atau risk-on yang mengirim saham AS lebih tinggi dan aset safe haven seperti dolar AS lebih rendah.
The Fed mengatakan akan mulai membeli obligasi korporasi pada Selasa melalui fasilitas kredit korporasi pasar sekunder (SMCCF), salah satu dari beberapa fasilitas darurat yang baru-baru ini diluncurkan oleh bank sentral AS untuk meningkatkan fungsi pasar setelah pandemi virus corona.
Bank sentral akan menggunakan pendekatan indeks saat melakukan pembelian, yang bertujuan untuk menciptakan portofolio yang didasarkan pada indeks pasar yang luas dan beragam dari obligasi korporasi Amerika Serikat.
Indeks dolar AS turun 0,47 persen dalam perdagangan sore di Amerika Utara menjadi 96,73. Terhadap euro, dolar melemah 0,52 persen menjadi 1,131 dolar dan terhadap pound, melemah 0,36 persen menjadi 1,259 dolar. Terhadap yen Jepang, safe-haven tradisional lainnya, dolar datar di 107,33 yen.
"Pergantian yang Anda lihat dengan dolar bertepatan dengan pengumuman The Fed tentang membuat indeks untuk membeli portofolio obligasi. Pasar menganggap itu sebagai sinyal risiko dan Anda melihat imbal hasil surat utang pemerintah naik di belakang itu. Dan itu bertepatan dengan sedikit langkah pengambilan risiko dalam mata uang juga. Jadi, dolar mengubah lintasan dari hari sebelumnya," kata Charles Tomes, manajer portofolio di Manulife Asset Management.
Baca juga: Rupiah Senin pagi menguat tipis
Dalam perdagangan semalam, aset-aset berisiko telah jatuh karena meningkatnya kekhawatiran gelombang kedua infeksi virus corona, yang telah mengangkat dolar. Setelah menghabiskan hari di wilayah negatif, indeks S&P 500 naik, terakhir menguat 0,26 persen.
Greenback naik secara signifikan pada Kamis (11/6/2020) dan Jumat (12/6/2020), karena para pedagang mencari tempat yang aman di tengah kekhawatiran atas kebangkitan kasus COVID-19 di seluruh Amerika Serikat.
China memperkenalkan kembali pembatasan di beberapa daerah setelah Beijing melaporkan kelompok infeksi baru terbesar sejak Februari. Di Amerika Serikat, lebih dari 25.000 kasus baru dilaporkan pada Sabtu (13/6/20200) saja.
Baca juga: Kurs dolar AS jatuh lagi, yen dan franc Swiss menguat
The Fed mengatakan akan mulai membeli obligasi korporasi pada Selasa melalui fasilitas kredit korporasi pasar sekunder (SMCCF), salah satu dari beberapa fasilitas darurat yang baru-baru ini diluncurkan oleh bank sentral AS untuk meningkatkan fungsi pasar setelah pandemi virus corona.
Bank sentral akan menggunakan pendekatan indeks saat melakukan pembelian, yang bertujuan untuk menciptakan portofolio yang didasarkan pada indeks pasar yang luas dan beragam dari obligasi korporasi Amerika Serikat.
Indeks dolar AS turun 0,47 persen dalam perdagangan sore di Amerika Utara menjadi 96,73. Terhadap euro, dolar melemah 0,52 persen menjadi 1,131 dolar dan terhadap pound, melemah 0,36 persen menjadi 1,259 dolar. Terhadap yen Jepang, safe-haven tradisional lainnya, dolar datar di 107,33 yen.
"Pergantian yang Anda lihat dengan dolar bertepatan dengan pengumuman The Fed tentang membuat indeks untuk membeli portofolio obligasi. Pasar menganggap itu sebagai sinyal risiko dan Anda melihat imbal hasil surat utang pemerintah naik di belakang itu. Dan itu bertepatan dengan sedikit langkah pengambilan risiko dalam mata uang juga. Jadi, dolar mengubah lintasan dari hari sebelumnya," kata Charles Tomes, manajer portofolio di Manulife Asset Management.
Baca juga: Rupiah Senin pagi menguat tipis
Dalam perdagangan semalam, aset-aset berisiko telah jatuh karena meningkatnya kekhawatiran gelombang kedua infeksi virus corona, yang telah mengangkat dolar. Setelah menghabiskan hari di wilayah negatif, indeks S&P 500 naik, terakhir menguat 0,26 persen.
Greenback naik secara signifikan pada Kamis (11/6/2020) dan Jumat (12/6/2020), karena para pedagang mencari tempat yang aman di tengah kekhawatiran atas kebangkitan kasus COVID-19 di seluruh Amerika Serikat.
China memperkenalkan kembali pembatasan di beberapa daerah setelah Beijing melaporkan kelompok infeksi baru terbesar sejak Februari. Di Amerika Serikat, lebih dari 25.000 kasus baru dilaporkan pada Sabtu (13/6/20200) saja.
Baca juga: Kurs dolar AS jatuh lagi, yen dan franc Swiss menguat
Pewarta : Apep Suhendar
Editor : Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Investor cemas karena perang Ukraina dan penguncian China, dolar justru menguat
09 May 2022 10:34 WIB, 2022
Harga minyak kembali tergelincir dipicu kekhawatiran permintaan dan penguatan dolar
08 September 2021 6:11 WIB, 2021
Harga emas jebol 43,9 dolar AS, terperosok di bawah level pskologis 1.800 dolar
05 February 2021 6:05 WIB, 2021
Kurs dolar AS naik ke level tertinggi 8 minggu, dipicu nada "hawkish" pejabat Fed
23 September 2020 7:41 WIB, 2020
Terpopuler - Info Finansial/Bursa
Lihat Juga
DJBC catat penerimaan kepabeanan dan cukai Lampung Rp1,76 triliun di triwulan III
01 November 2025 18:05 WIB