Operator jip wisata lereng Merapi diimbau berbagi nomor ponsel dengan wisatawan
Jumat, 22 November 2019 7:10 WIB
Sejumlah jip wisata lava tour mengikuti kirab kenduri 1.000 jip wisata di kawasan bungker Kaliadem, Gunung Merapi, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (14/10/2019). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/foc.
Sleman (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mengimbau operator jip wisata di lereng Gunung Merapi, Cangkringan selalu berbagi nomor telepon seluler (ponsel) wisatawan pengguna jasa guna memudahkan koordinasi jika terjadi keadaan darurat.
"Ini sebagai salah satu langkah mitigasi saat terjadi keadaan darurat," kata Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Kabupaten Sleman Joko Lelono di Sleman, Kamis.
Baca juga: Dispar Sleman nyatakan wisata lereng Gunung Merapi masih aman dikunjungi
Menurut dia, selama ini jika terjadi keadaan darurat ada kendala saat proses evakuasi.
"Sopir jip kesulitan untuk mencari wisatawan. Karena selama ini sopir mau menunggu mencari penumpang untuk segera turun, tapi sampai bunker Kaliadem wisatawan bubar," katanya.
Ia mengatakan dengan berbagi nomor telepon, sopir jip bisa dengan mudah mencari wisatawan sehingga begitu terjadi erupsi, sopir bisa memberikan peringatan kepada wisatawan agar segera turun.
"Ini juga untuk memastikan komunikasi antara pengelola jip dan wisatawan terus terjalin. Jadi sampai di lokasi sudah ada persiapan," katanya.
Joko mengatakan operator jip wisata agar turut bertanggung jawab, untuk memastikan tidak ada wisatawan yang tertinggal.
"Apalagi saat erupsi yang membahayakan ini semua wisatawan langsung diangkut di mobil yang siap, yang penting wisatawan selamat," katanya.
Baca juga: Asosiasi Jeep Wisata Sleman gelar Kenduri Raya Sewu Jeep Merayap Merapi
Sejauh ini, pihaknya baru merencanakan memberikan pelatihan mitigasi kepada operator jip wisata.
Hanya saja, kata dia, kendalanya banyak instansi yang terlibat.
"Apalagi untuk jip lava tour ini ranahnya di bawah Dinas Pariwisata sehingga diperlukan kolaborasi," katanya.
Kendati demikian, pihaknya telah menyiapkan jalur evakuasi di kawasan wisata, baik di Desa Umbulharjo, Kepuharjo, maupun Glagaharjo.
"Jalur evakuasi ini belum semuanya bisa selesai sebab terbentur anggaran yang cukup besar. Dan dari kami hanya memberikan dana stimulan saja," katanya.
Selain jalur evakuasi, pihaknya juga turut melengkapi dengan rambu-rambu. Saat ini semua rambu telah banyak terpasang di jalur-jalur wisata.
"Diharapkan dengan hal itu bisa mewujudkan masyarakat sadar bencana yang hasil akhirnya adalah pengurangan risiko bencana," katanya.
Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) sisi timur Bambang Sugeng mengatakan sudah mengetahui letusan mana yang berbahaya dan yang tidak sehingga ketika terjadi erupsi tidak panik.
Selain itu, setiap sopir jip diwajibkan membawa HT (Handy Talky) untuk memantau kondisi terkini Gunung Merapi.
"Ada juga pelatihan dari dinas pariwisata," katanya.
Baca juga: Aktivitas Gunung Merapi menjadi wisata alternatif
Menurut dia, mayoritas pengemudi jip merupakan relawan bencana sehingga setiap ada kejadian dipastikan semua sopir jip paham apa yang harus dilakukan.
"Kendati demikian kami tetap waspada," katanya.
Ia mengatakan hal yang justru harus ditambah adalah rambu-rambu evakuasi, terutama di jalur wisata karena jumlahnya kurang banyak.
"Walaupun sudah terpasang tapi kadang hilang. Ini yang perlu dipertegas," katanya.
"Ini sebagai salah satu langkah mitigasi saat terjadi keadaan darurat," kata Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Kabupaten Sleman Joko Lelono di Sleman, Kamis.
Baca juga: Dispar Sleman nyatakan wisata lereng Gunung Merapi masih aman dikunjungi
Menurut dia, selama ini jika terjadi keadaan darurat ada kendala saat proses evakuasi.
"Sopir jip kesulitan untuk mencari wisatawan. Karena selama ini sopir mau menunggu mencari penumpang untuk segera turun, tapi sampai bunker Kaliadem wisatawan bubar," katanya.
Ia mengatakan dengan berbagi nomor telepon, sopir jip bisa dengan mudah mencari wisatawan sehingga begitu terjadi erupsi, sopir bisa memberikan peringatan kepada wisatawan agar segera turun.
"Ini juga untuk memastikan komunikasi antara pengelola jip dan wisatawan terus terjalin. Jadi sampai di lokasi sudah ada persiapan," katanya.
Joko mengatakan operator jip wisata agar turut bertanggung jawab, untuk memastikan tidak ada wisatawan yang tertinggal.
"Apalagi saat erupsi yang membahayakan ini semua wisatawan langsung diangkut di mobil yang siap, yang penting wisatawan selamat," katanya.
Baca juga: Asosiasi Jeep Wisata Sleman gelar Kenduri Raya Sewu Jeep Merayap Merapi
Sejauh ini, pihaknya baru merencanakan memberikan pelatihan mitigasi kepada operator jip wisata.
Hanya saja, kata dia, kendalanya banyak instansi yang terlibat.
"Apalagi untuk jip lava tour ini ranahnya di bawah Dinas Pariwisata sehingga diperlukan kolaborasi," katanya.
Kendati demikian, pihaknya telah menyiapkan jalur evakuasi di kawasan wisata, baik di Desa Umbulharjo, Kepuharjo, maupun Glagaharjo.
"Jalur evakuasi ini belum semuanya bisa selesai sebab terbentur anggaran yang cukup besar. Dan dari kami hanya memberikan dana stimulan saja," katanya.
Selain jalur evakuasi, pihaknya juga turut melengkapi dengan rambu-rambu. Saat ini semua rambu telah banyak terpasang di jalur-jalur wisata.
"Diharapkan dengan hal itu bisa mewujudkan masyarakat sadar bencana yang hasil akhirnya adalah pengurangan risiko bencana," katanya.
Ketua Asosiasi Jip Wisata Lereng Merapi (AJWLM) sisi timur Bambang Sugeng mengatakan sudah mengetahui letusan mana yang berbahaya dan yang tidak sehingga ketika terjadi erupsi tidak panik.
Selain itu, setiap sopir jip diwajibkan membawa HT (Handy Talky) untuk memantau kondisi terkini Gunung Merapi.
"Ada juga pelatihan dari dinas pariwisata," katanya.
Baca juga: Aktivitas Gunung Merapi menjadi wisata alternatif
Menurut dia, mayoritas pengemudi jip merupakan relawan bencana sehingga setiap ada kejadian dipastikan semua sopir jip paham apa yang harus dilakukan.
"Kendati demikian kami tetap waspada," katanya.
Ia mengatakan hal yang justru harus ditambah adalah rambu-rambu evakuasi, terutama di jalur wisata karena jumlahnya kurang banyak.
"Walaupun sudah terpasang tapi kadang hilang. Ini yang perlu dipertegas," katanya.
Pewarta : Victorianus Sat Pranyoto
Editor : Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Seratusan ikan keramat di Cigugur mati, Pemkab Kuningan selidiki penyebabnya
02 February 2026 16:07 WIB
Disparekraf perkirakan kunjungan wisatawan ke Lampung pada libur akhir tahun 2,35 juta orang
06 January 2026 14:20 WIB
Pengunjung taman penangkaran rusa Tahura Wan Abdul Rachman naik jadi 6.500 orang
31 December 2025 21:21 WIB
Terpopuler - Wisata
Lihat Juga
Terjebak cuaca buruk, ratusan wisatawan sudah dievakuasi ke kapal Pelni dari Karimunjawa
28 December 2022 11:09 WIB, 2022
Lummay Villa and Resort, destinasi wisata berkonsep Eropa berpadu budaya Bali
27 December 2022 18:20 WIB, 2022
Ancol targetkan 430 ribu pengunjung pada libur Natal dan Tahun Baru 2023
25 December 2022 14:05 WIB, 2022
Menparekraf Sandiaga Uno luncurkan Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional
17 December 2022 10:46 WIB, 2022