Mesuji krisis air bersih akibat kemarau panjang
Selasa, 17 September 2019 19:28 WIB
Tanki air tengah menyalurkan air bersih di Kabupaten Mesuji (Antara News Lampung com, Foto /Raharja)
Mesuji (ANTARA) - Sejumlah warga di sejumlah kecamatan Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau melanda wilayah setempat dalam beberapa bulan terakhir.
"Musim kemarau tahun ini membuat kami kesulitan mendapat air bersih karena sumber air di sumur mengering," kata salah seorang warga Kecamatan Mesuji Timur Juanda, Selasa.
Ia mengatakan lima pekan terakhir ini hampir sebagian besar penduduk di wilayah itu kesulitan mendapat air bersih karena sumur warga mengalami kekeringan akibat kemarau.
Selain sumur, lanjut dia, sumber air di kolam buatan yang ada di desa itu juga mengering sehingga terpaksa membeli untuk memperoleh air bersih.
"Terpaksa membeli karena selama ini kami mengandalkan sumber air dari sumur untuk kebutuhan mandi, minum, dan lainnya karena airnya memang jernih," kata warga Kecamatan Rawa Jitu, Parmi.
Menurut dia, untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga terpaksa membeli dari penjual yang ada di desa setempat dengan harga setiap tankinya atau 1.000 liter sebesar Rp 250 ribu.
Selama kemarau ini terpaksa menghemat penggunaan air agar tidak mengeluarkan biaya yang besar, ujarnya.
Dia berharap, musim kemarau pada 2019 tidak berlangsung lama agar warga di kecamatan Rawa Jitu tidak lagi mengalami krisis air bersih.
"Mudah-mudahan hujan segera turun sehingga desa kami tidak kekeringan lagi," harapnya.
"Musim kemarau tahun ini membuat kami kesulitan mendapat air bersih karena sumber air di sumur mengering," kata salah seorang warga Kecamatan Mesuji Timur Juanda, Selasa.
Ia mengatakan lima pekan terakhir ini hampir sebagian besar penduduk di wilayah itu kesulitan mendapat air bersih karena sumur warga mengalami kekeringan akibat kemarau.
Selain sumur, lanjut dia, sumber air di kolam buatan yang ada di desa itu juga mengering sehingga terpaksa membeli untuk memperoleh air bersih.
"Terpaksa membeli karena selama ini kami mengandalkan sumber air dari sumur untuk kebutuhan mandi, minum, dan lainnya karena airnya memang jernih," kata warga Kecamatan Rawa Jitu, Parmi.
Menurut dia, untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga terpaksa membeli dari penjual yang ada di desa setempat dengan harga setiap tankinya atau 1.000 liter sebesar Rp 250 ribu.
Selama kemarau ini terpaksa menghemat penggunaan air agar tidak mengeluarkan biaya yang besar, ujarnya.
Dia berharap, musim kemarau pada 2019 tidak berlangsung lama agar warga di kecamatan Rawa Jitu tidak lagi mengalami krisis air bersih.
"Mudah-mudahan hujan segera turun sehingga desa kami tidak kekeringan lagi," harapnya.
Pewarta : Raharja
Editor : Agus Wira Sukarta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mahasiswa KKN Itera ubah air payau jadi layak konsumsi di Desa Sukorahayu
03 February 2026 16:31 WIB
Prabowo segera luncurkan gerakan Indonesia ASRI untuk ciptakan lingkungan aman
02 February 2026 15:09 WIB
Wamentrans dukung produk program transmigrasi dari Lampung tembus pasar global
24 January 2026 22:56 WIB
HKA dan BTB bantu normalisasi irigasi atasi genangan air di Lampung Tengah
22 January 2026 13:17 WIB
Terpopuler - Mesuji
Lihat Juga
Wamentrans dukung produk program transmigrasi dari Lampung tembus pasar global
24 January 2026 22:56 WIB
Pimpin apel perdana paska dilantik, Wakil Bupati Mesuji beri ultimatum para pejabat
25 February 2025 9:39 WIB
Pj Bupati Mesuji resmi luncurkan penanaman jagung serentak 1 juta hektare
22 January 2025 7:49 WIB, 2025