China Menjadi Raksasa Ekonomi Dunia
Sabtu, 15 Desember 2018 10:53 WIB
Ilustrasi/Jembatan sepanjang 55 kilometer yang menghubungkan Zhuhai-Makau-Hong Kong (Xinhua/)
Jakarta (Antaranews Lampung) - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ahmad Helmy Fuady menunjukkan data bahwa Cina dalam waktu singkat telah menjelma menjadi raksasa ekonomi dunia.
"Cina muncul sebagai sebuah kekuatan yang sangat besar," kata peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (P2SDR) LIPI, Ahmad Helmy Fuady dalam seminar bertajuk Indonesia dalam Pusaran Global: Menghadapi Tantangan Game of Thrones, di Gedung LIPI, Jakarta, Jumat.
Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2001 masih belum banyak negara bekerja sama dengan Cina.
"Di 2001 hampir tidak ada koneksi ke Cina, artinya sekitar 17 tahun yang lalu natural resources belum banyak mengalir ke sana, di dunia perdagangan belum banyak orang mempertimbangkan tentang Cina," katanya.
Namun 15 tahun berselang ternyata Cina telah mampu menjadi pusat perdagangan dunia.
"Di 2016 kita lihat bagaimana dia jadi pusat dari perdagangan dunia," kata pria yang karib disapa Helmy ini.
Salah satu buktinya adalah besarnya porsi produk domestik bruto (PDB) Cina terhadap jumlah PDB seluruh dunia.
"Saat ini Cina sudah sekitar 15 persen GDP-nya dibanding GDP dunia," katanya.
Cina pun telah melakukan ekspansi bisnis dengan baik di Afrika. Ia mencontohkan salah satunya di wilayah Afrika, tulisan berbahasa Cina terdapat di banyak tempat yang menunjukkan besarnya kerja sama antara kedua negara.
Helmy juga menceritakan bahwa di beberapa negara Asia Tenggara, infrastruktur yang dibangun banyak yang berasal dari negara Cina.
"Hal yang sama juga ditemui oleh teman-teman kami yang melakukan penelitian di Asia Tenggara, di kota-kota perbatasan Vietnam, Thailand, dan sebagainya, bagaimana pengaruh infrastruktur Cina itu masuk begitu pesat ke sana," katanya.
Pihaknya meminta pemerintah agar melakukan upaya penguatan produk ekspor dan meningkatkan kerja sama bilateral untuk bersaing dengan ekspansi agresif yang dilakukan oleh Cina.
"Ada hal penting sebenarnya yang perlu dilakukan di internal di domestik tentang diversifikasi produk kita, juga bagaimana penguatan produk supaya lebih dengan teknologi yang lebih tinggi dan sebagainya, hal yang dilakukan Indonesia juga menambah free trade agreement begitu banyak, bilateral trade agreement yang saat ini coba dilakukan oleh Indonesia," katanya.
"Cina muncul sebagai sebuah kekuatan yang sangat besar," kata peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Regional (P2SDR) LIPI, Ahmad Helmy Fuady dalam seminar bertajuk Indonesia dalam Pusaran Global: Menghadapi Tantangan Game of Thrones, di Gedung LIPI, Jakarta, Jumat.
Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2001 masih belum banyak negara bekerja sama dengan Cina.
"Di 2001 hampir tidak ada koneksi ke Cina, artinya sekitar 17 tahun yang lalu natural resources belum banyak mengalir ke sana, di dunia perdagangan belum banyak orang mempertimbangkan tentang Cina," katanya.
Namun 15 tahun berselang ternyata Cina telah mampu menjadi pusat perdagangan dunia.
"Di 2016 kita lihat bagaimana dia jadi pusat dari perdagangan dunia," kata pria yang karib disapa Helmy ini.
Salah satu buktinya adalah besarnya porsi produk domestik bruto (PDB) Cina terhadap jumlah PDB seluruh dunia.
"Saat ini Cina sudah sekitar 15 persen GDP-nya dibanding GDP dunia," katanya.
Cina pun telah melakukan ekspansi bisnis dengan baik di Afrika. Ia mencontohkan salah satunya di wilayah Afrika, tulisan berbahasa Cina terdapat di banyak tempat yang menunjukkan besarnya kerja sama antara kedua negara.
Helmy juga menceritakan bahwa di beberapa negara Asia Tenggara, infrastruktur yang dibangun banyak yang berasal dari negara Cina.
"Hal yang sama juga ditemui oleh teman-teman kami yang melakukan penelitian di Asia Tenggara, di kota-kota perbatasan Vietnam, Thailand, dan sebagainya, bagaimana pengaruh infrastruktur Cina itu masuk begitu pesat ke sana," katanya.
Pihaknya meminta pemerintah agar melakukan upaya penguatan produk ekspor dan meningkatkan kerja sama bilateral untuk bersaing dengan ekspansi agresif yang dilakukan oleh Cina.
"Ada hal penting sebenarnya yang perlu dilakukan di internal di domestik tentang diversifikasi produk kita, juga bagaimana penguatan produk supaya lebih dengan teknologi yang lebih tinggi dan sebagainya, hal yang dilakukan Indonesia juga menambah free trade agreement begitu banyak, bilateral trade agreement yang saat ini coba dilakukan oleh Indonesia," katanya.
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ketua MPR sebut Lampung Selatan punya potensi jadi kekuatan ekonomi provinsi
13 February 2026 19:57 WIB
Bakom RI tekankan proyek Danantara untuk ciptakan ekosistem ekonomi inklusif
12 February 2026 21:43 WIB
Airlangga perkirakan realisasi anggaran MBG triwulan I-2026 capai Rp60 triliun
11 February 2026 21:00 WIB
Terpopuler - Bisnis
Lihat Juga
Mulai Februari, penerbangan internasiol melalui Bandara Radin Inten Lampung
14 January 2019 10:31 WIB, 2019
KAI sediakan tiket angkutan terusan rute kertapati-tanjungkarang-gambir
14 December 2018 13:39 WIB, 2018