Ilmuwan akan meneliti cara redupkan sinar matahari
Rabu, 4 April 2018 21:23 WIB
Sinar matahari yang akan menjadi objek penelitian para ilmuwan negara-negara berkembang. (Foto : Net)
Oslo (Antara/Reuters) - Sejumlah ilmuwan dari negara-negara berkembang berencana melakukan untuk penelitian dan mencari cara meredupkan sinar matahari untuk memperlambat perubahan iklim.
Mereka berharap bisa menemukan bahan kimia buatan manusia yang berfungsi menahan sinar matahari dan beresiko lebih rendah dibanding efek merusak kenaikan suhu global.
Penelitian "solar geo-engineering", yang akan meniru erupsi vulkanik besar yang bisa mendinginkan suhu bumi dengan menahan sinar matahari melalui gumpalan abu, hingga kini masih didominasi oleh negara-negara kaya dan universitas ternama seperti Harvard dan Oxford.
Sebanyak 12 ilmuwan -- negara-negara berkembang seperti Bangladesh, Brasil, China, Ethiopia, India, Jamaica, dan Thailand -- menulis di jurnal Nature pada Rabu bahwa kelompok miskin adalah warga yang paling rentan terhadap pemanasan global dan harus lebih banyak terlibat.
"Negara-negara berkembang harus memimpin dalam penelitian 'solar geo-engineering'," kata mereka.
"Ide ini secara keseluruhan memang terdengar gila. Namun secara perlahan-lahan mulai diterima di kalangan dunia penelitian," kata ketua peneliti Atiq Rahman, yang juga merupakan Kepala Bangladesh Centre for Advanced Studies, kepara Reuters.
Penelitian mengenai rekayasa sinar matahari itu berpotensi akan terbantu oleh proyek senilai 400.000 dolar AS dari Solar Radiation Management Governance Initiative (SRMGI), yang pada pekan ini untuk pertama kalinya meminta para ilmuwan untuk mengajukan proposal pengajuan dana.
SRMGI didanai oleh Open Philanthropy Project, sebuah yayasan yang didirikan oleh Dustin Moskovits, salah satu pendiri Facebook, beserta istrinya, Cari Tuna.
Dana tersebut bisa membantu para ilmuwan dari negara-negara berkembang untuk meneliti dampak regional dari rekayasa sinal matahari seperti terkait kekeringan dan banjir, kata Andy Parker, direktur proyek SRMGI.
Rahman mengatakan bahwa para akademisi tidak akan berpihak dalam soal apakah rekayasa sinar matahari akan bermanfaat. Di antara ide yang bermunculan adalah: penyebaran partikel sulfur reflektif oleh pesawat di atmosfer bumi.
"Teknik ini kontroversial, dan memang demikian. Masih terlalu dini untuk mengetahui apa dampak-dampak yang bisa ditimbulkan. Ini bisa berguna, tapi juga berpotensi merusak," tulis para ilmuwan di jurnal Nature.
Tim pakar iklim di PBB, dalam laporan awal yang bocor mengenai perubahan iklim yang akan dipublikasikan pada Oktober, kini masih skeptis terhadap rekayasa sinar matahari. Mereka mengatakan bahwa proyek ini "tidak dimungkinan secara ekonomi, sosial, maupun institusional."
Beberapa di antara resikonya adalah mengganggu pola cuaca, sulit dihentikan setelah dimulai, dan membuat negara-negara menjadi tidak berkomitmen untuk mengubah bahan bakar fosil menjadi energi terbarukan.
Namun, Rahman mengatakan bahwa negara-negara maju sudah "gagal" dalam memenuhi janji mereka mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga membuat pilihan radikal semakin menarik.
Penerjemah: GM.N.Lintang/M. Anthoni
Mereka berharap bisa menemukan bahan kimia buatan manusia yang berfungsi menahan sinar matahari dan beresiko lebih rendah dibanding efek merusak kenaikan suhu global.
Penelitian "solar geo-engineering", yang akan meniru erupsi vulkanik besar yang bisa mendinginkan suhu bumi dengan menahan sinar matahari melalui gumpalan abu, hingga kini masih didominasi oleh negara-negara kaya dan universitas ternama seperti Harvard dan Oxford.
Sebanyak 12 ilmuwan -- negara-negara berkembang seperti Bangladesh, Brasil, China, Ethiopia, India, Jamaica, dan Thailand -- menulis di jurnal Nature pada Rabu bahwa kelompok miskin adalah warga yang paling rentan terhadap pemanasan global dan harus lebih banyak terlibat.
"Negara-negara berkembang harus memimpin dalam penelitian 'solar geo-engineering'," kata mereka.
"Ide ini secara keseluruhan memang terdengar gila. Namun secara perlahan-lahan mulai diterima di kalangan dunia penelitian," kata ketua peneliti Atiq Rahman, yang juga merupakan Kepala Bangladesh Centre for Advanced Studies, kepara Reuters.
Penelitian mengenai rekayasa sinar matahari itu berpotensi akan terbantu oleh proyek senilai 400.000 dolar AS dari Solar Radiation Management Governance Initiative (SRMGI), yang pada pekan ini untuk pertama kalinya meminta para ilmuwan untuk mengajukan proposal pengajuan dana.
SRMGI didanai oleh Open Philanthropy Project, sebuah yayasan yang didirikan oleh Dustin Moskovits, salah satu pendiri Facebook, beserta istrinya, Cari Tuna.
Dana tersebut bisa membantu para ilmuwan dari negara-negara berkembang untuk meneliti dampak regional dari rekayasa sinal matahari seperti terkait kekeringan dan banjir, kata Andy Parker, direktur proyek SRMGI.
Rahman mengatakan bahwa para akademisi tidak akan berpihak dalam soal apakah rekayasa sinar matahari akan bermanfaat. Di antara ide yang bermunculan adalah: penyebaran partikel sulfur reflektif oleh pesawat di atmosfer bumi.
"Teknik ini kontroversial, dan memang demikian. Masih terlalu dini untuk mengetahui apa dampak-dampak yang bisa ditimbulkan. Ini bisa berguna, tapi juga berpotensi merusak," tulis para ilmuwan di jurnal Nature.
Tim pakar iklim di PBB, dalam laporan awal yang bocor mengenai perubahan iklim yang akan dipublikasikan pada Oktober, kini masih skeptis terhadap rekayasa sinar matahari. Mereka mengatakan bahwa proyek ini "tidak dimungkinan secara ekonomi, sosial, maupun institusional."
Beberapa di antara resikonya adalah mengganggu pola cuaca, sulit dihentikan setelah dimulai, dan membuat negara-negara menjadi tidak berkomitmen untuk mengubah bahan bakar fosil menjadi energi terbarukan.
Namun, Rahman mengatakan bahwa negara-negara maju sudah "gagal" dalam memenuhi janji mereka mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga membuat pilihan radikal semakin menarik.
Penerjemah: GM.N.Lintang/M. Anthoni
Pewarta : Antara/Reuters
Editor : Edy Supriyadi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tim Basarnas cari delapan korban kapal tenggelam di Perairan Wawonii Sultra
28 February 2024 11:15 WIB, 2024
Kementan gulirkan PSR untuk tingkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit
16 March 2023 20:22 WIB, 2023
PT Sinar Bambu Kencana perusahaan pertama di Lampung gunakan REC PLN
16 December 2022 19:02 WIB, 2022
Terpopuler - Warta Bumi
Lihat Juga
BMKG prakirakan kota-kota besar di Indonesia, termasuk Lampung diguyur hujan
26 January 2025 7:40 WIB, 2025
DMC Dompet Dhuafa membuka pos bagi penyintas erupsi Gunung Ibu Halmahera
24 January 2025 10:21 WIB, 2025
BMKG prakirakan hujan guyur mayoritas wilayah Indonesia, termasuk Bandarlampung
22 January 2025 5:35 WIB, 2025
BNPB lakukan operasi modifikasi cuaca untuk kurangi banjir di Bandarlampung
20 January 2025 12:11 WIB, 2025
Jihan Nurlela sebut perlu revitalisasi mangrove untuk maksimalkan ekowisata
12 January 2025 5:06 WIB, 2025