Ke Mana Gerangan Demokrat Akan Berlabuh?
Selasa, 6 Mei 2014 17:59 WIB
Lambang Patai Demokrat. (Google,co.id).
Depok (Antara Lampung) - Sempat berkuasa selama sepuluh tahun dan meski perolehan suaranya dalam Pemilu Legislatif 2014 hanya menempatkannya di posisi keempat, Partai Demokrat pasti masih memiliki cukup pengaruh dalam peta politik Indonesia.
Karena itu publik terus bertanya-tanya ke manakah Partai Demokrat (PD) itu akan berlabuh menjelang Pemilihan Presiden 9 Juli nanti.
Manakala partai-partai politik (parpol) lain berikut para elitnya begitu sibuk menjalin komunikasi dan lobi untuk berkoalisi, Partai Demokrat sampai saat ini masih terlihat adem ayem.
Menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari, PD setidaknya harus menggandeng dua parpol untuk membentuk poros koalisi sendiri, agar bisa mengusung capres dan cawapresnya sendiri.
Namun, PD merasa yakin dengan keputusan partainya untuk tidak harus terburu-buru menentukan kebijakan politik terkait agenda Pilpres 9 Juli nanti.
Menurut Ketua Umum DPP Partai Demokrat PD Susilo Bambang Yudhoyono pilihan untuk memastikan arah koalisi baru akan dilakukan menjelang pendaftaran pasangan capres-cawapres sekitar pertengahan Mei 2014 nanti. Ini justru yang terbaik, katanya.
Dia menyebut partainya tidak mau sembarangan menjalin koalisi dengan partai lain, karena tidak ingin asal-asalan dalam menjalankan roda pemerintahan lima tahun mendatang. "Bagi Demokrat kalau harus bergabung atau koalisi dengan partai lain bukan sekian persen ditambah sekian persen jadi cukup, bukan itu," katanya.
Demokrat bukan partai oportunis, ujarnya, juga tak takut ketinggalan. Partainya ingin berkoalisi dengan partai lain atas dasar keinginan untuk berjuang bersama-sama dalam membangun bangsa. "Syarat pertama ada niat yang baik, kehendak, semangat berjuang di parlemen. Agar kita jalankan mandat rakyat, maka perjuangan bisa berhasil.
Koalisi strategis yang dibangun berlatar-belakang dari banyaknya persoalan bangsa dan negara yang belum kelar saat ini. "Kami ketahui permasalahan bangsa ini, kami bisa jelaskan apa yang sudah kami capai dan apa yang belum. Kami punya agenda, pikirkan program, solusi, dan kebijakan. Termasuk 11 program khusus," ujarnya.
PD masih akan terus mematangkan proses politik di internal partainya terlebih dulu, sambil terus menjalin komunikasi dengan semua pihak, termasuk partai-partai politik di luar Demokrat.
Kepada seluruh rakyat Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan jaminan bahwa kalaupun partainya bergabung dengan partai lain. "Itu bukan sekedar didasari hitung-hitungan politik semata," katanya.
Dia juga menekankan perlunya mencocokkan platform partainya dengan visi misi yang diusung partai lain sebagai pertimbangan dalam membentuk koalisi. Platform Demokrat telah tertuang di dalam program aksi, termasuk sasaran umum dan 11 sasaran khusus yang dalam pemilihan legislatif lalu menjadi bahan kampanye.
"Kami tentu tidak dukung (kalau) platformn (partai/capres) itu bertentangan total dengan apa yang menjadi platform Partai Demokrat," kata SBY sambil menambahkan, jika menghadapi kondisi serupa itu lebih baik partainya berada di luar pemerintahan. Ia akan jadi bagian solusi dan tetap berkontribusi bagi kemajuan bangsa meski dengan cara berbeda.
Hingga saat ini, ada tiga skenario yang disiapkan Demokrat terkait pilpres nanti. Selain membentuk poros koalisi sendiri, opsi untuk mendukung salah satu capres dari tiga poros koalisi mainstream (PDIP, Golkar, Gerindra) juga masih terbuka. Termasuk, pilihan terakhir untuk berada di luar pemerintahan jika dua pilihan pertama tidak bisa direalisasikan.
"Saya gunakan common sense, akal sehat, tidak ikut-ikutan larut gegap gempita manuver politik yang ada. Kami punya kepribadian, kami punya pikran dan sikap, dan sekali lagi PD bukan partai yang opurtunis (dalam menentukan pilihan koalisi)," tegas SBY.
Kalkulasi politik SBY yang sangat matang dan terukur dalam menjalankan langkah politiknya ke depan untuk menghadapi Pilpres dinilai Qodari akan mengejutkan banyak pihak, khususnya dalam menyiapkan strategi peta koalisi ke depan.
Menurut pengamat politik ini, perolehan suara PD dalam Pileg 9 April lalu yang mencapai 10 persen itu kalau pintar mengelolanya akan sangat berarti. Karena selain PDIP dan Partai Nasdem, sebenarnya semua parpol dalam posisi menunggu melihat dinamika politik yang terus bergerak dan berubah.
Penjajakan koalisi buntu?
Sementara itu Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Tohari mengaku partainya sudah beberapa kali membuka penjajakan koalisi dengan Partai Demokrat, tetapi, pembicaraan tersebut belum memberikan titik terang, karena Golkar dan Demokrat masih berkeinginan mengusung calon presiden sendiri.
"Kami buntu saat mereka (Demokrat) hendak bicara dari nol, artinya belum menentukan capres atau cawapres. Sedangkan kami mau memulai pembicaraan dari capres. Titik temu itulah yang hingga saat ini belum ada. Sulit ditemukan antara Partai Golkar dan Partai Demokrat," katanya.
Apalagi, Hajriyanto menyebut keinginan Demokrat untuk membangun poros koalisi baru. "Itulah yang membuat kami belum mungkin (koalisi). Kebuntuan-kebuntuan ini yang sedang ingin kita temukan jalan keluarnya," katanya.
Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Fadel Muhammad juga mengungkapkan hal yang sama. Fadel mengaku tak memahami mengapa Demokrat dan SBY hingga saat ini masih tertutup untuk komunikasi terkait koalisi. "Kami sebenarnya masih menunggu PD dan Pak SBY. Tapi sepertinya mereka sulit membuka diri," kata Fadel.
Belum adanya bakal calon presiden yang memiliki elektabilitas dan kemampuan yang sangat kuat saat ini, menurut anggota Dewan Pembina PD, Hayono Isman dapat memicu wacana pembentukan poros keempat yang digagas oleh Partai Demokrat.
"Poros keempat itu sesuatu yang diharapkan oleh media dan publik karena belum adanya kepastian siapa tokoh kuat yang akan hadir sebagai capres dan cawapres. Poros keempat bisa saja hadir karena terus terang saja, ada ketidakpiawaian dari calon yang saat ini sudah mendeklarasikan diri untuk maju dalam pilpres," katanya.
Situasi politik saat ini dinilainya beda dari kondisi pada Pemilu 2009 di mana SBY sebagai capres dari Demokrat mempunyai elektabilitas yang sangat kuat. "Hal itu mengakibatkan partai kecil-menengah berlomba-lomba merapat ke Demokrat. Musyawarah politik setelah Pileg 2014 belum menunjukkan hal konkret, kecuali PDIP dan Nasdem. Situasinya masih sangat cair.
Oleh karena itu, ia berpendapat peluang terbentuknya poros keempat masih sangat terbuka. Semuanya tergantung pada situasi politik beberapa hari ke depan. Makin mendekati pemungutan suara pada 9 Juli, peluang lahirnya poros baru akan makin kentara. Meski demikian, Hayono menegaskan, sebelumnya Demokrat tidak pernah memikirkan membentuk poros keempat.
Meski Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sempat menyatakan bahwa Demokrat juga siap untuk menjadi oposisi, namun Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte menilai, PD tak akan berani beroposisi. "Saat Demokrat dibentuk, dia langsung berkuasa hingga 10 tahun. Apakah Partai Demokrat punya stamina untuk jadi oposisi?
Philips memprediksi, Demokrat akan tetap melakukan koalisi dengan pemerintahan yang terpilih. Saat ini, Demokrat bisa saja mengambil pilihan membentuk poros baru atau bergabung ke poros yang sudah ada. Namun setelah ada presiden terpilih, Demokrat bisa merapat ke poros kekuasaan itu.
Jika Joko Widodo yang terpilih sebagai presiden, katanya, Ketua Umum Partai Demokrat berpotensi menjalin komunikasi dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang sudah lama merenggang. Hubungan SBY dan Megawati dianggap akan lebih cair setelah presiden terpilih diketahui.
"Demokrat membutuhkan PDIP dan sebaliknya. Tinggal di internal PDIP ini apakah mau mengajak banyak partai ke dalam pemerintahannya atau tetap konsisten dengan koalisi yang sedikit partai. Bentuk koalisi aslinya baru akan diketahui setelah presiden terpilih," kata Philips.
Partai Demokrat sudah mengakui kekalahannya pada Pileg 2014 dan ke depan partai inipun tak lagi bersikeras untuk tetap mengusung calon presiden. Namun demikian SBY mengingatkan, memilih pemimpin bangsa, memilih presiden jangan sampai seperti memilih kucing dalam karung.
"Kita pikir kucing besar ternyata kucing kecil. "Kita pikir kucing putih, ternyata kucing hitam, kita pikir kucing kuat ternyata kucing lemah. Ini berbahaya," kata SBY.
Karena itu publik terus bertanya-tanya ke manakah Partai Demokrat (PD) itu akan berlabuh menjelang Pemilihan Presiden 9 Juli nanti.
Manakala partai-partai politik (parpol) lain berikut para elitnya begitu sibuk menjalin komunikasi dan lobi untuk berkoalisi, Partai Demokrat sampai saat ini masih terlihat adem ayem.
Menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari, PD setidaknya harus menggandeng dua parpol untuk membentuk poros koalisi sendiri, agar bisa mengusung capres dan cawapresnya sendiri.
Namun, PD merasa yakin dengan keputusan partainya untuk tidak harus terburu-buru menentukan kebijakan politik terkait agenda Pilpres 9 Juli nanti.
Menurut Ketua Umum DPP Partai Demokrat PD Susilo Bambang Yudhoyono pilihan untuk memastikan arah koalisi baru akan dilakukan menjelang pendaftaran pasangan capres-cawapres sekitar pertengahan Mei 2014 nanti. Ini justru yang terbaik, katanya.
Dia menyebut partainya tidak mau sembarangan menjalin koalisi dengan partai lain, karena tidak ingin asal-asalan dalam menjalankan roda pemerintahan lima tahun mendatang. "Bagi Demokrat kalau harus bergabung atau koalisi dengan partai lain bukan sekian persen ditambah sekian persen jadi cukup, bukan itu," katanya.
Demokrat bukan partai oportunis, ujarnya, juga tak takut ketinggalan. Partainya ingin berkoalisi dengan partai lain atas dasar keinginan untuk berjuang bersama-sama dalam membangun bangsa. "Syarat pertama ada niat yang baik, kehendak, semangat berjuang di parlemen. Agar kita jalankan mandat rakyat, maka perjuangan bisa berhasil.
Koalisi strategis yang dibangun berlatar-belakang dari banyaknya persoalan bangsa dan negara yang belum kelar saat ini. "Kami ketahui permasalahan bangsa ini, kami bisa jelaskan apa yang sudah kami capai dan apa yang belum. Kami punya agenda, pikirkan program, solusi, dan kebijakan. Termasuk 11 program khusus," ujarnya.
PD masih akan terus mematangkan proses politik di internal partainya terlebih dulu, sambil terus menjalin komunikasi dengan semua pihak, termasuk partai-partai politik di luar Demokrat.
Kepada seluruh rakyat Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan jaminan bahwa kalaupun partainya bergabung dengan partai lain. "Itu bukan sekedar didasari hitung-hitungan politik semata," katanya.
Dia juga menekankan perlunya mencocokkan platform partainya dengan visi misi yang diusung partai lain sebagai pertimbangan dalam membentuk koalisi. Platform Demokrat telah tertuang di dalam program aksi, termasuk sasaran umum dan 11 sasaran khusus yang dalam pemilihan legislatif lalu menjadi bahan kampanye.
"Kami tentu tidak dukung (kalau) platformn (partai/capres) itu bertentangan total dengan apa yang menjadi platform Partai Demokrat," kata SBY sambil menambahkan, jika menghadapi kondisi serupa itu lebih baik partainya berada di luar pemerintahan. Ia akan jadi bagian solusi dan tetap berkontribusi bagi kemajuan bangsa meski dengan cara berbeda.
Hingga saat ini, ada tiga skenario yang disiapkan Demokrat terkait pilpres nanti. Selain membentuk poros koalisi sendiri, opsi untuk mendukung salah satu capres dari tiga poros koalisi mainstream (PDIP, Golkar, Gerindra) juga masih terbuka. Termasuk, pilihan terakhir untuk berada di luar pemerintahan jika dua pilihan pertama tidak bisa direalisasikan.
"Saya gunakan common sense, akal sehat, tidak ikut-ikutan larut gegap gempita manuver politik yang ada. Kami punya kepribadian, kami punya pikran dan sikap, dan sekali lagi PD bukan partai yang opurtunis (dalam menentukan pilihan koalisi)," tegas SBY.
Kalkulasi politik SBY yang sangat matang dan terukur dalam menjalankan langkah politiknya ke depan untuk menghadapi Pilpres dinilai Qodari akan mengejutkan banyak pihak, khususnya dalam menyiapkan strategi peta koalisi ke depan.
Menurut pengamat politik ini, perolehan suara PD dalam Pileg 9 April lalu yang mencapai 10 persen itu kalau pintar mengelolanya akan sangat berarti. Karena selain PDIP dan Partai Nasdem, sebenarnya semua parpol dalam posisi menunggu melihat dinamika politik yang terus bergerak dan berubah.
Penjajakan koalisi buntu?
Sementara itu Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Tohari mengaku partainya sudah beberapa kali membuka penjajakan koalisi dengan Partai Demokrat, tetapi, pembicaraan tersebut belum memberikan titik terang, karena Golkar dan Demokrat masih berkeinginan mengusung calon presiden sendiri.
"Kami buntu saat mereka (Demokrat) hendak bicara dari nol, artinya belum menentukan capres atau cawapres. Sedangkan kami mau memulai pembicaraan dari capres. Titik temu itulah yang hingga saat ini belum ada. Sulit ditemukan antara Partai Golkar dan Partai Demokrat," katanya.
Apalagi, Hajriyanto menyebut keinginan Demokrat untuk membangun poros koalisi baru. "Itulah yang membuat kami belum mungkin (koalisi). Kebuntuan-kebuntuan ini yang sedang ingin kita temukan jalan keluarnya," katanya.
Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Fadel Muhammad juga mengungkapkan hal yang sama. Fadel mengaku tak memahami mengapa Demokrat dan SBY hingga saat ini masih tertutup untuk komunikasi terkait koalisi. "Kami sebenarnya masih menunggu PD dan Pak SBY. Tapi sepertinya mereka sulit membuka diri," kata Fadel.
Belum adanya bakal calon presiden yang memiliki elektabilitas dan kemampuan yang sangat kuat saat ini, menurut anggota Dewan Pembina PD, Hayono Isman dapat memicu wacana pembentukan poros keempat yang digagas oleh Partai Demokrat.
"Poros keempat itu sesuatu yang diharapkan oleh media dan publik karena belum adanya kepastian siapa tokoh kuat yang akan hadir sebagai capres dan cawapres. Poros keempat bisa saja hadir karena terus terang saja, ada ketidakpiawaian dari calon yang saat ini sudah mendeklarasikan diri untuk maju dalam pilpres," katanya.
Situasi politik saat ini dinilainya beda dari kondisi pada Pemilu 2009 di mana SBY sebagai capres dari Demokrat mempunyai elektabilitas yang sangat kuat. "Hal itu mengakibatkan partai kecil-menengah berlomba-lomba merapat ke Demokrat. Musyawarah politik setelah Pileg 2014 belum menunjukkan hal konkret, kecuali PDIP dan Nasdem. Situasinya masih sangat cair.
Oleh karena itu, ia berpendapat peluang terbentuknya poros keempat masih sangat terbuka. Semuanya tergantung pada situasi politik beberapa hari ke depan. Makin mendekati pemungutan suara pada 9 Juli, peluang lahirnya poros baru akan makin kentara. Meski demikian, Hayono menegaskan, sebelumnya Demokrat tidak pernah memikirkan membentuk poros keempat.
Meski Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sempat menyatakan bahwa Demokrat juga siap untuk menjadi oposisi, namun Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte menilai, PD tak akan berani beroposisi. "Saat Demokrat dibentuk, dia langsung berkuasa hingga 10 tahun. Apakah Partai Demokrat punya stamina untuk jadi oposisi?
Philips memprediksi, Demokrat akan tetap melakukan koalisi dengan pemerintahan yang terpilih. Saat ini, Demokrat bisa saja mengambil pilihan membentuk poros baru atau bergabung ke poros yang sudah ada. Namun setelah ada presiden terpilih, Demokrat bisa merapat ke poros kekuasaan itu.
Jika Joko Widodo yang terpilih sebagai presiden, katanya, Ketua Umum Partai Demokrat berpotensi menjalin komunikasi dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang sudah lama merenggang. Hubungan SBY dan Megawati dianggap akan lebih cair setelah presiden terpilih diketahui.
"Demokrat membutuhkan PDIP dan sebaliknya. Tinggal di internal PDIP ini apakah mau mengajak banyak partai ke dalam pemerintahannya atau tetap konsisten dengan koalisi yang sedikit partai. Bentuk koalisi aslinya baru akan diketahui setelah presiden terpilih," kata Philips.
Partai Demokrat sudah mengakui kekalahannya pada Pileg 2014 dan ke depan partai inipun tak lagi bersikeras untuk tetap mengusung calon presiden. Namun demikian SBY mengingatkan, memilih pemimpin bangsa, memilih presiden jangan sampai seperti memilih kucing dalam karung.
"Kita pikir kucing besar ternyata kucing kecil. "Kita pikir kucing putih, ternyata kucing hitam, kita pikir kucing kuat ternyata kucing lemah. Ini berbahaya," kata SBY.
Pewarta : Illa Kartila
Editor : M. Tohamaksun
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Komnas HAM belum terima konfirmasi di mana lokasi pemeriksaan Ferdy Sambo
10 August 2022 18:24 WIB, 2022
Masker N95 versus KN95 dan KF94, apa bedanya dan mana yang harus dipilih?
21 January 2022 6:39 WIB, 2022
Terpopuler - Artikel
Lihat Juga
Smart farming jadi solusi petani sejahtera di Desa Trimomukti Lampung Selatan
02 December 2025 16:56 WIB
HKA dari produsen material ke penggerak layanan operasi jalan tol nasional
27 November 2025 16:20 WIB
Swasembada pangan hadapi tantangan, banyak petani enggan tanam kedelai di lahan pertanian
17 November 2025 10:39 WIB
Relawan di Lampung bantu pasien kanker dan donor darah, bergerak tanpa dana tetap
10 November 2025 9:47 WIB