
Energi bersih PGE Ulubelu topang 20 persen kebutuhan listrik di Lampung

Kami memiliki mandat besar untuk mengubah potensi ini menjadi kekuatan nyata bangsa.
Bandarlampung (ANTARA) - Pemadaman listrik besar-besaran di sebagian wilayah Sumatera, termasuk Lampung, pada Juni tahun lalu, karena gangguan transmisi pada Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 275 kV Lubuklinggau-Lahat di Sumatera Selatan, telah berdampak pada seluruh sistem kelistrikan di Sumatera.
Kejadian ini menyebabkan pemadaman meluas di Lampung, mengganggu aktivitas warga, usaha, dan layanan publik. Dalam kondisi tersebut, warga kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari seperti menggunakan peralatan elektronik, memasak, dan berkomunikasi.
Kegiatan usaha juga terkena dampak, seperti usaha fotokopi dan rental komputer terpaksa berhenti beroperasi sehingga mengalami kerugian. Beberapa kantor pelayanan publik tidak bisa beroperasi sementara, memaksa warga menunda urusan administrasi mereka.
Namun, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) memastikan bahwa operasional pembangkit listrik di Area Ulubelu tetap stabil dan aman.
Gangguan pada jaringan transmisi eksternal tidak memengaruhi operasional internal pembangkit. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu dirancang untuk memiliki sistem yang andal dan dapat terus beroperasi meskipun terjadi gangguan di luar pembangkit.
PLTP Ulubelu hanya berperan sebagai salah satu pembangkit listrik yang menyalurkan pasokannya ke sistem transmisi PLN, tetapi bukan penyebab terjadinya gangguan tersebut. Singkatnya, operasional pembangkitan listrik di PGE Ulubelu tidak mengalami masalah.
Meski demikian, listrik tetap padam di Lampung karena gangguan terjadi pada saluran transmisi milik PLN yang mendistribusikan listrik ke masyarakat.
Saat ini, PGE Ulubelu berperan penting dalam memenuhi kebutuhan listrik di Provinsi Lampung. Panas bumi yang dipasok dari pembangkit mampu menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan listrik untuk Lampung.
Energi bersih panas bumi ini dihasilkan oleh PLTP Ulubelu yang telah beroperasi sejak 2012.
PLTP Ulubelu yang dikelola PGE terdiri dari empat unit masing-masing berkapasitas 55 MW. Dengan demikian, total kapasitas energi listrik panas bumi yang dikelola PGE Ulubelu sebesar 220 Megawatt (MW).
Pjs General Manager PT PGE Ulubelu, Manda Wijaya Kesumah, di Ulubelu Tanggamus, Lampung, Kamis (23/10) mengungkapkan bahwa kebutuhan listrik di Lampung cukup besar, dengan beban puncak mencapai sekitar 1.200 MW.
Oleh karena itu, menurut dia, PLTP Ulubelu bisa menjadi penyedia utama energi terbarukan di provinsi tersebut.
"Masyarakat Lampung telah menikmati 20 persen pasokan listrik dari energi baru terbarukan yang bersumber dari panas bumi yang dipasok PLTP Ulubelu,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa potensi panas bumi di Lampung masih sangat besar dan berpotensi menyuplai lebih dari separuh kebutuhan listrik di wilayah ini.
Selain di Ulubelu, potensi panas bumi juga ditemukan di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Rajabasa, WKP Way Ratai, WKP Suoh, dan beberapa daerah lainnya.
"Jika potensi ini dikelola secara optimal, Lampung bisa semakin mandiri dalam penyediaan energi bersih," tambahnya.
Manda juga menekankan pentingnya peran semua pihak dalam menyebarluaskan informasi mengenai manfaat energi panas bumi kepada masyarakat. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa 20 persen listrik di Lampung berasal dari sumber energi terbarukan ini.
Secara nasional, potensi panas bumi di Indonesia diperkirakan mencapai 23 Gigawatt. Presiden Prabowo Subianto melalui program Astacita telah menetapkan geothermal sebagai salah satu pilar utama dalam mewujudkan swasembada energi di masa depan.
Namun, pengembangannya masih menghadapi tantangan, seperti perizinan dan investasi yang besar.
"Pengelolaan panas bumi di kawasan hutan lindung, misalnya, membutuhkan perizinan khusus dari pemerintah, yang prosesnya bisa cukup kompleks. Selain itu, investasi yang diperlukan juga tidak kecil," jelas Manda.
Meski demikian, pemerintah terus mendorong pengembangan energi panas bumi sebagai bagian dari transisi energi menuju Net Zero Emission 2060.
Manda menegaskan bahwa keberlanjutan energi sangat berpengaruh terhadap kemajuan ekonomi daerah.
"Ketersediaan energi yang cukup akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, tanpa energi yang memadai, perkembangan ekonomi sulit untuk dicapai," katanya.
Pewarta : Agus Wira Sukarta
Editor:
Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
