Jangan Remehkan Usaha Kerupuk
Rabu, 22 Februari 2012 9:10 WIB
Sejumlah pekerja sedang bergiat mencetak adonan kerupuk di tempat usaha Ujang Anwar yang berada di Baktinegara, Waykanan, Lampung, Rabu, (21/2) . (Foto ANTARA LAMPUNG/Gatot Arifianto)
Selain menyerap sejumlah tenaga kerja, usaha kerupuk rumahan yang digeluti Ujang Anwar, warga Kabupaten Waykanan, Provinsi Lampung, juga menjanjikan sehubungan menghasilkan omzet jutaan rupiah per bulan.
Warga Kampung Baktinegara, Kecamatan Baradatu itu mengaku menekuni usaha tersebut sejak tahun 2003 dengan omzet kurang memuaskan dalam per bulannya, namun saat ini penghasilan yang didapatkannya kisaran Rp75 juta per bulan.
"Pada mulanya membuat dan memasarkan kerupuk bandung dan jangek buatan sendiri selama setahun," kata Ujang, di Waykanan yang berada di sebelah utara Kota Bandarlampung, Rabu.
Pria kelahiran Jawa Barat, 1 April 1976 itu mengaku sempat mengalami kejenuhan pada tahun pertama berusaha sehingga pulang ke kampung halamannya dan mencurahkan perasaannya tersebut kepada orang tuanya.
Atas kegelisahan yang dirasakan Ujang, orang tuanya memberi tanggapan, yakni menyarankannya sekolah atau tinggal bersama lagi dan segala biaya akan ditanggung.
"Saya merasa malu dengan tanggapan tersebut, jika diiyakan, rasanya masih dituntun terus, akhirnya saya memutuskan kembali ke Waykanan untuk berusaha lagi," kata dia.
Produksi kerupuk rumahan berbahan baku tapioka yang dihasilkan sejumlah pekerja yang bergiat di rumah Ujang per hari kisaran satu kuintal.
"Setelah cetak, normal keringnya ialah dua hari, setelah itu siap digoreng untuk dipasarkan," kata Ujang seraya menjelaskan daerah pemasaran kerupuk buatannya selain di Lampung Utara dan Waykanan, juga di Baturaja, Sumatera Selatan.
Jika di musim kemarau, kata dia, permintaan kerupuk sangat rendah, per hari kisaran satu kuintal dan bahkan terkadang tidak menggoreng.
"Namun di musim penghujan, permintaan per hari naik, rata-rata dua kuintal, karena kerupuk lebih nikmat disantap," kata dia menjelaskan.
Ujang yang sekarang dibantu sekitar 20 karyawan dalam membuat kerupuk mengatakan, untuk sukses berusaha dibutuhkan semangat pantang menyerah.
Selain itu, jangan pernah memiliki perasaan takut atau kalah bersaing dan anggap pengusaha sejenis bukan pesaing, demikian Ujang Anwar.
Warga Kampung Baktinegara, Kecamatan Baradatu itu mengaku menekuni usaha tersebut sejak tahun 2003 dengan omzet kurang memuaskan dalam per bulannya, namun saat ini penghasilan yang didapatkannya kisaran Rp75 juta per bulan.
"Pada mulanya membuat dan memasarkan kerupuk bandung dan jangek buatan sendiri selama setahun," kata Ujang, di Waykanan yang berada di sebelah utara Kota Bandarlampung, Rabu.
Pria kelahiran Jawa Barat, 1 April 1976 itu mengaku sempat mengalami kejenuhan pada tahun pertama berusaha sehingga pulang ke kampung halamannya dan mencurahkan perasaannya tersebut kepada orang tuanya.
Atas kegelisahan yang dirasakan Ujang, orang tuanya memberi tanggapan, yakni menyarankannya sekolah atau tinggal bersama lagi dan segala biaya akan ditanggung.
"Saya merasa malu dengan tanggapan tersebut, jika diiyakan, rasanya masih dituntun terus, akhirnya saya memutuskan kembali ke Waykanan untuk berusaha lagi," kata dia.
Produksi kerupuk rumahan berbahan baku tapioka yang dihasilkan sejumlah pekerja yang bergiat di rumah Ujang per hari kisaran satu kuintal.
"Setelah cetak, normal keringnya ialah dua hari, setelah itu siap digoreng untuk dipasarkan," kata Ujang seraya menjelaskan daerah pemasaran kerupuk buatannya selain di Lampung Utara dan Waykanan, juga di Baturaja, Sumatera Selatan.
Jika di musim kemarau, kata dia, permintaan kerupuk sangat rendah, per hari kisaran satu kuintal dan bahkan terkadang tidak menggoreng.
"Namun di musim penghujan, permintaan per hari naik, rata-rata dua kuintal, karena kerupuk lebih nikmat disantap," kata dia menjelaskan.
Ujang yang sekarang dibantu sekitar 20 karyawan dalam membuat kerupuk mengatakan, untuk sukses berusaha dibutuhkan semangat pantang menyerah.
Selain itu, jangan pernah memiliki perasaan takut atau kalah bersaing dan anggap pengusaha sejenis bukan pesaing, demikian Ujang Anwar.
Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mahasiswa KKN Tematik 23 Itera olah limbah kulit kopi jadi kerupuk cascara
12 February 2026 17:35 WIB
Warga Musi Banyuasin pasarkan kerupuk biji karet untuk menambah pendapatan
26 January 2020 22:05 WIB, 2020
Kerupuk basah dan kawin adat Dayak masuk warisan budaya tak benda Indonesia
24 August 2019 9:22 WIB, 2019
Gubernur Sumsel ikut lomba makan kerupuk dalam rangka memeriahkan HUT-74 RI
08 August 2019 13:55 WIB, 2019
Terpopuler - Bisnis
Lihat Juga
Mulai Februari, penerbangan internasiol melalui Bandara Radin Inten Lampung
14 January 2019 10:31 WIB, 2019
KAI sediakan tiket angkutan terusan rute kertapati-tanjungkarang-gambir
14 December 2018 13:39 WIB, 2018