Jakarta (ANTARA) – PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) terus memperkuat komitmennya dalam mengakselerasi transformasi digital dan praktik Net-Zero Construction guna mewujudkan ekosistem infrastruktur berkelanjutan di Indonesia. Mengintegrasikan Building Information Modeling (BIM) sebagai platform manajemen informasi mutakhir, strategi perusahaan berfokus pada efisiensi proyek, dekarbonisasi, dan implementasi prinsip ESG yang selaras dengan target penurunan emisi nasional. Komitmen inovasi teknologi ini juga diimbangi dengan upaya peningkatan kesiapan SDM konstruksi masa depan melalui sinergi edukasi untuk  mencetak talenta arsitek spesialis Building Information Modelling (BIM) yang siap kerja.

Menegaskan visi keberlanjutan tersebut, Direktur Utama WEGE, Mahendra Vijaya, menyatakan, "Transformasi digital dan pencapaian Net-Zero Construction bukan lagi sekadar pilihan, melainkan   keharusan   strategis   dan   tanggung   jawab   kita terhadap masa depan. WEGE berkomitmen untuk terus berada di  garis  depan,  memelopori  integrasi  teknologi  seperti  BIM untuk menghadirkan karya konstruksi yang tidak hanya efisien dan berkualitas tinggi, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi Indonesia."

Industri konstruksi global saat ini sedang memasuki era transformasi terbesar sepanjang sejarahnya. Laporan United Nations   Environment   Programme   (UNEP)   bersama   Global Alliance  for  Buildings  and  Construction  (GlobalABC) menunjukkan bahwa sektor bangunan masih menyumbang sekitar 37% emisi karbon dioksida global. Di sisi lain, McKinsey Global  Institute  mencatat  pertumbuhan  produktivitas industri konstruksi terbilang stagnan dibandingkan sektor manufaktur. Menjawab  tantangan  efisiensi  dan  perubahan  iklim tersebut, transformasi digital kini menjadi kebutuhan strategis yang tak bisa ditawar.

Sinergi   Digitalisasi   BIM:   Mengawal   Dekarbonisasi Sekaligus Menyiapkan Talenta Arsitek Masa Depan

Dalam berbagai forum strategis, WEGE terus menggemakan pentingnya  digitalisasi. "BIM kini bukan sekadar alat gambar tiga dimensi, melainkan 'otak' dari manajemen informasi konstruksi," ujar Ir. Imam Agung Baskoro S.T., Koordinator BIM WEGE, saat memaparkan visinya di Universitas Mercu Buana. "Dengan mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) dan Digital Twin berbasis standar internasional ISO 19650 Kitemark, kita dapat mengambil keputusan yang lebih presisi, transparan, dan efisien sepanjang siklus hidup bangunan." lanjut Imam.

Paradigma baru ini juga menjadi kunci dalam menekan jejak karbon.   Ar.   Yudi   Purmigo   AS.   S.Ars,   IAI,   juga  seorang Koordinator BIM WEGE, pada Seminar Nasional di Gedung Waskita menegaskan, "Untuk mencapai Net-Zero Construction, kita harus mengubah cara kita membangun sejak fase desain. BIM adalah platform strategis yang memungkinkan kita melakukan simulasi energi dan mengelola embodied carbon—yakni  emisi  yang  dihasilkan  dari  proses  produksi material konstruksi. Dengan demikian, prinsip keberlanjutan bukan  lagi  sekadar  teori,  melainkan  terukur dan tereksekusi dengan pasti."

Untuk  mendukung  ekosistem  teknologi  dan  tuntutan infrastruktur hijau tersebut, ketersediaan sumber daya manusia yang adaptif menjadi sangat krusial. Menjawab kebutuhan ini, sebuah sesi edukasi interaktif bertajuk Live "Sharing Career Sebagai  BIM  Architect" diselenggarakan pada Selasa, 21 Juli 2026 lalu.

Mengangkat  topik  “BIM  Expert  for  Architect,”  acara  yang dipandu oleh salah satu Mahasiswa Arsitektur UII, Nabiel Manggala Hamdi, ini menghadirkan  Ar. Retno Wulan Ndari, S. Ars., IAI, seorang BIM Architect WEGE sekaligus alumni Arsitektur UII. Retno menceritakan transisi karirnya usai lulus dari   Arsitektur   UII   menjadi   seorang   BIM   Expert,   serta bagaimana keilmuan arsitektur dapat langsung diaplikasikan ke dalam praktik kerja nyata. "BIM adalah tulang punggung konstruksi masa depan yang akan diwajibkan demi efisiensi," ungkap Retno. "Di industri, WEGE membuktikan hal ini lewat perencanaan teknis proyeknya yang selalu unggul berkat implementasi BIM yang advance, di mana tahap RnD kami tengah mengeksplorasi hingga level 8D. Bagi calon arsitek, kuasailah dasar-dasar ilmu arsitektur dan padukan dengan keahlian  BIM  agar  mampu  bersaing  di  era  digital,"  tambah Retno.

WEGE meyakini bahwa masa depan industri konstruksi ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan teknologi informasi dan prinsip keberlanjutan secara utuh. Melalui pilar transformasi BIM yang kokoh serta kolaborasi proaktif dengan institusi  akademis,  WEGE  memantapkan  posisinya  sebagai pionir  dalam  percepatan  infrastruktur  berkelanjutan, mendukung penuh target pemerintah dalam mencapai Net Zero Emission (NZE).



Pewarta :
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2026