Logo Header Antaranews Lampung

PCNU Bandarlampung: Santri berperan sebagai pelindung akhlak bangsa

Rabu, 22 Oktober 2025 18:29 WIB
Image Print
Peringatan Hari Santri yang digelar oleh Pemprov Lampung dan Kanwil Kemenag Lampung, Rabu (22/10/2023). ANTARA/HO-Kemenag Lampung
Mereka tidak hanya menjadi penjaga akidah dan syariat Islam, tetapi juga berperan sebagai pelindung akhlak dan penyangga peradaban bangsa selama berabad-abad

Bandarlampung (ANTARA) - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bandarlampung, Provinsi Lampung mengatakan bahwa santri berperan penting sebagai pelindung akhlak dan penyangga peradaban Bangsa Indonesia.

"Santri, kiai, dan pesantren adalah entitas yang telah ada jauh sebelum lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka tidak hanya menjadi penjaga akidah dan syariat Islam, tetapi juga berperan sebagai pelindung akhlak dan penyangga peradaban bangsa selama berabad-abad," kata Ketua PCNU Bandarlampung Ichwan Adji di Bandarlampung, Rabu.

Menurut dia, peringatan Hari Santri yang jatuh setiap 22 Oktober menjadi simbol pengakuan negara terhadap eksistensi, peran, dan kontribusi besar kaum santri, kiai, dan pesantren dalam sejarah perjuangan dan pembangunan Bangsa Indonesia.

"Santri tidak hanya belajar agama, tetapi juga menghidupi nilai-nilai kebangsaan. Di pesantren, nilai keislaman dan keindonesiaan melebur menjadi satu, membentuk identitas santri yang cinta tanah air,” kata dia.

Ia menjelaskan bagi kalangan pesantren dan santri, membela bangsa dan negara sebagai bentuk lain dari membela agama. Tidak ada dikotomi antara cinta tanah air dan cinta kepada Tuhan karena keduanya bersinergi dalam laku hidup seorang santri.

"Salah satu bukti nyata kesetiaan pesantren terhadap NKRI adalah peristiwa setelah proklamasi kemerdekaan, ketika Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia. Para kiai saat itu menggelar ijtihad kebangsaan yang menghasilkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945," kata dia.

Resolusi Jihad tersebut, kata dia, menjadi pemantik semangat heroik kaum santri dan masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda dan Sekutu. Perlawanan itu memuncak dalam peristiwa pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945, yang kini dikenang sebagai Hari Pahlawan.

"Tanpa peran kiai dan santri dalam menggerakkan semangat perjuangan saat itu, sejarah Indonesia mungkin akan berbeda," kata dia.

Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa Hari Santri sebagai bentuk penghormatan negara terhadap kontribusi nyata pesantren dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.

"Melalui Hari Santri, Bangsa Indonesia diingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya hasil perjuangan fisik, tetapi juga perjuangan nilai dan keyakinan yang dijaga serta diwariskan oleh para ulama dan santri dari masa ke masa," kata dia.

Baca juga: Pemprov Lampung serahkan bantuan BPJS Ketenagakerjaan bagi 100 pengurus ponpes

Baca juga: Gubernur Lampung: Santri terus berperan aktif jaga nilai kebangsaan

Baca juga: Bupati Lampung Selatan lepas 1.541 santri ke Pesantren Lirboyo



Pewarta :
Editor: Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2026