
Cerita mahasiswa Unila dari Afghanistan ingin bawa perubahan melalui teknologi informasi

Unila bukan sekadar kampus, Unila adalah rumah kedua bagi mahasiswa asing. Terus berkembang dan bawa perubahan.
Bandarlampung (ANTARA) - Universitas Lampung (Unila) sebagai salah satu kampus negeri ternama di Indonesia, saat ini menjadi rumah kedua bagi mahasiswa asing yang menuntut ilmu di Lampung.
Salah satu mahasiswa internasional tersebut adalah Karim Azizi, asal Afghanistan, yang berhasil menyelesaikan studi magister Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi (PTI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila, melalui prosesi wisuda periode VI pada Juli 2025 lalu.
Di balik toga kelulusan yang dikenakannya, tersimpan rapi perjalanan panjang, tantangan lintas budaya, dan cita-cita besar untuk menjadikan teknologi sebagai jembatan antara kemajuan digital dan kebutuhan sosial masyarakat global.
Karim yang meraih gelar Sarjana Ilmu Komputer (S.Kom) dari Kabul Polytechnic University di Afghanistan memutuskan merantau jauh dari rumah untuk mendalami keilmuan dalam teknologi informasi.
Ia pun memiliki rekam jejak profesional di berbagai lembaga, di antaranya pernah berkiprah di Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi Afghanistan, Universitas Politeknik Kabul, serta terlibat dalam sejumlah proyek internasional yang berfokus pada pengembangan perangkat lunak, ilmu data, dan sistem informasi.
Tanpa mengenal lelah dalam menuntut ilmu, Karim pun berani mengambil keputusan besar untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia, khususnya di Unila.
Ia memilih Indonesia karena dikenal sebagai negara yang kaya akan budaya, memiliki masyarakat yang ramah, serta terbuka terhadap kehadiran mahasiswa asing.
Sementara itu, Unila dipilih karena merupakan perguruan tinggi yang aktif dalam program internasional dan menawarkan beragam peluang di bidang akademik maupun sosial.
Menurut dia, Unila bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan dapat menjadi rumah kedua bagi mahasiswa asing untuk terus bertumbuh, berkontribusi, dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
"Secara akademik, belajar di Unila sangat memperluas wawasan saya. Secara sosial, saya bertemu banyak teman dari berbagai latar belakang yang membuat saya diterima," ujarnya.
Karim bukan lagi sosok asing di lingkungan akademik Unila. Kini, ia diterima sebagai kandidat program doktor (S-3) Program Studi Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unila.
Ia dikenal sebagai pribadi visioner yang aktif di berbagai bidang, mulai dari teknologi pendidikan, pengembangan perangkat lunak, hingga transformasi digital berbasis sosial. Meski demikian, perjalanan Karim di Indonesia bukan tanpa tantangan.
Tantangan berkuliah
Ia menjelaskan, sempat mengalami kesulitan dalam memahami metode pengajaran serta aksen bahasa Indonesia pada masa awal kuliah. Tak jarang, rasa rindu terhadap keluarga menghampiri, terutama saat perayaan-perayaan penting berlangsung.
Namun, Karim menemukan cara untuk mengatasi kesepian melalui membaca Al Quran, berjalan kaki atau berolahraga, dan berbincang dengan keluarga melalui telepon.
Salah satu momen paling emosional dalam perkuliahannya adalah ketika skripsinya mendapat apresiasi dari dosen pembimbing, dan seorang temannya menyampaikan dirinya menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya.
"Itu momen yang sangat menyentuh. Saya merasa perjuangan saya tidak sia-sia," katanya mengenang.
Tidak hanya unggul secara akademis, Karim terlibat aktif dalam berbagai proyek teknologi internasional.
Saat ini, ia tengah mengembangkan sebuah platform digital inovatif globalisasi pendidikan online, yang dirancang untuk mengintegrasikan sistem pembelajaran digital, memperluas akses pendidikan yang merata, serta menyediakan alat pembelajaran berbasis AI (kecerdasan buatan) secara real-time.
Platform tersebut direncanakan akan diimplementasikan selama masa studi doktoralnya di Indonesia, dengan Unila sebagai mitra akademik strategis.
Memiliki latar belakang sebagai dosen tamu relawan di Kabul Polytechnic University dan NIMA Institute, Karim membagikan keahliannya dalam bidang data science, pengembangan sistem informasi, serta manajemen jaringan komputer tingkat lanjut.
Ia pun telah menguasai sejumlah bahasa pemrograman, seperti Python, C++, PHP, JavaScript, dan SQL, serta mendalami cloud computing, DevOps, dan penerapan AI dalam pendidikan.
Di akhir perbincangan, Karim menyampaikan harapannya agar hubungan kerja sama antara Indonesia dan Afghanistan, khususnya dalam bidang pendidikan, dapat semakin erat.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa asing lainnya agar tidak takut, terbuka terhadap perbedaan, dan bersungguh-sungguh dalam belajar.
"Unila bukan sekadar kampus, Unila adalah rumah kedua bagi mahasiswa asing. Terus berkembang dan bawa perubahan," ujarnya pula.
Bagi Karim, kelulusan bukanlah titik akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Ia meyakini ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan harus diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata bagi masyarakat.
Melalui pemanfaatan teknologi dan semangat kolaboratif lintas budaya, Karim bertekad untuk menghadirkan solusi yang bermanfaat dan memberdayakan, dimulai dari lingkungan terdekat hingga skala yang lebih luas.
Baca juga: FEB Unila adakan lokakarya untuk penyusunan Renstra 2025-2029
Baca juga: Tim Unila kembangkan teknologi pemisahan limbah pewarna tekstil
Pewarta : Satyagraha
Editor:
Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
