
Predator penjaga tanaman sawit
Kamis, 9 Januari 2020 08:01 WIB

Salah satu dari tanaman tersebut adalah kelapa sawit. Indonesia, Malaysia, sebagian kecil kawasan Afrika, Amerika Tengah, dan Amerika Latin memiliki syarat iklim dan curah hujan yang tepat bagi tanaman penghasil minyak nabati ini untuk bisa tumbuh subur.
"Setidaknya pulau-pulau yang berada di sekitar 2 derajat dari garis khatulistiwa, pasti kelapa sawitnya bisa subur. Kalau di Indonesia, daerah utara Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Kalau di Jawa ya sudah tidak bagus lagi, karena tanahnya pun kurang sesuai," kata Kuasa Direksi PT Unggul Widya Teknologi Lestari Mochtar Tanong di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, Rabu (1/5).
Bicara tentang produksinya, Indonesia menjadi penghasil terbesar minyak kelapa sawit di dunia dengan volume sebesar 46 juta ton per tahun. Meski saat ini harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sedang tertekan, nyatanya komoditas ini telah memberikan devisa sebesar 20,54 miliar dolar AS pada 2018 (data GAPKI Tahun 2019)
Besarnya kontribusi ini tidak luput dari penanaman dan perawatan perkebunan kelapa sawit. Selain menggunakan bibit unggul, pemupukan yang teratur, pencegahan hama dan penyakit tanaman juga harus dilakukan agar tidak mengurangi produksi dan kualitas tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan.
Pada tanaman kelapa sawit, hama tikus menjadi ancaman serius karena hewan pengerat itu dapat menurunkan produksi, bahkan menimbulkan matinya tanaman sawit yang masih muda hingga 30 persen.
PT Unggul Widya Teknologi Lestari (UWTL), perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terletak di Kecamatan Baras, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, ini menggunakan burung hantu, hewan yang melakukan aktivitas pada malam hari, sebagai predator pengendali hama tikus.
Burung hantu makan tiga sampai empat ekor
Mandor Hama Penyakit Tanaman PT UWTL , Suwardi mengatakan bahwa burung hantu "Tyto Alba" ini merupakan jenis yang paling agresif karena bisa memakan tiga sampai empat ekor tikus dalam semalam.
"Untuk pembasmi hama, secara biologis, Tyto Alba ini sangat penting sekali bagi tanaman sawit. Dia bisa makan tiga sampai empat ekor tikus. Dia bisa memburu banyak tikus, tetapi hanya dibiarkan untuk dimakan esok harinya lagi," kata Suwardi.
Kemampuan berburu yang dimiliki Tyto Alba menjadi aset berharga bagi perkebunan kelapa sawit. Sebagai hewan yang aktif pada malam hari (nocturnal), tentu saja Tyto Alba memiliki indera penglihatan yang baik, namun tidak mengalahkan fungsi utama indera pendengarannya.
Dengan menajamkan pendengarannya, hewan ini dapat langsung mengetahui posisi tikus sebagai mangsa buruannya. Setelah yakin, ia menyergap mangsa dengan cakarnya untuk kemudian menelan utuh atau mencabik-cabik tubuh mangsa tersebut.
PT UWTL mulai menggunakan Tyto Alba pada 2012 dengan jumlah awal dua pasang burung hantu. Untuk mengembangbiakkan, perusahaan membuat penangkaran burung hantu sejak 2014. Di sini, burung hantu dengan usia di bawah 90 hari dipelihara sebelum akhirnya ditempatkan dalam guyon (gupon yang terbuat dari besi).

Saat ini sudah ada ribuan burung hantu yang terbang bebas di areal perkebunan, namun hanya 59 yang dimonitor dan ditempatkan dalam guyon. Dalam satu guyon, terdapat sepasang burung hantu yang dapat menjangkau mangsa cukup jauh hingga 20 hektare.
Lebih efektif dariparada racun
Penggunaan predator burung hantu ini sangat efektif daripada menggunakan racun tikus atau rodentisida.
Racun tikus banyak memiliki kelemahan, antara lain dapat menimbulkan pencemaran bahan kimia terhadap lingkungan, serta menimbulkan bau bangkai di sekitar kebun.
Populasi burung hantu ditingkatkan

File/Kusaini (60) memperlihatkan seekor burung hantu (Tyto alba) di lokasi penangkaran Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (5/12/2019) ANTARA FOTO/Syaiful Arif/aww.
"Monyet telah ditemukan dan dilaporkan menyebabkan kerusakan pada perbungaan kelapa sawit muda, daun tombak dan juga penyerbukan (digunakan dalam produksi benih)," kata Direktur Jenderal MPOB Malaysia Ahmad Parveez.
Dia juga mengatakan, "Metode meningkatkan populasi burung hantu dapat dilakukan dengan menyiapkan kotak sarang di perkebunan kelapa sawit".
"Kotak sarang ini akan ditempati oleh burung hantu jeis serak jawa dan digunakan untuk megembangbiakan dan meningkatkan populasi."
United Plantations mengatakan diperkirakan sepasang serak jawa bersama dengan anak-anaknya dapat mengonsumsi sekitar 800 hingga 1.000 tikus per tahun.
Malaysia andalkan burung hantu basmi hama tikus

Petani memasukkan burung hantu jenis Serak Jawa ke dalam kotak sarang guna mengendalikan populasi hama tikus. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/pd.
Tikus tumbuh subur di perkebunan kelapa sawit dan dapat mengurangi hasil minyak sebesar 5% hingga 10% dengan memakan buah sawit, menurut perkiraan industri, membuat sakit kepala Malaysia, produsen dan pengekspor minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia.
Produsen minyak sawit Malaysia, United Plantations, telah menggunakan serak jawa, spesies burung hantu, sebagai garis pertahanan pertama melawan tikus dan ini telah membantu mengurangi penggunaan racun kimia .
Perusahaan juga telah menggunakan kucing macan tutul untuk menangkap tikus. Penelitian yang diterbitkan tahun lalu mengatakan bahwa kera pemakan tikus juga dapat membantu perusahaan minyak sawit.
Tetapi Dewan Minyak Sawit Malaysia mengatakan penelitiannya menunjukkan bahwa burung hantu memberikan kontrol biologis terbaik terhadap hama dan bahwa penggunaan kera adalah "sama sekali tidak tepat dan tidak praktis" karena mereka dapat mengganggu kegiatan lain di perkebunan.
Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor:
Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
