Kerak telor yang jadi jajanan favorit pengunjung PRJ

id Kerak telur, kerak telor, makanan khas betawi, Jakarta Fair, PRJ, pekan Raya Jakarta Kemayoran.

Penjual kerak telor di Pekan Raya Jakarta, Kemayoran (ANTARA/ Livia Kristianti)

Saya suka kayak makan telur dan nasi disatuin gitu, enak rasanya
Jakarta (ANTARA) - Makanan khas Betawi, kerak telor yang terbuat dari ketan, telur, dan kelapa sangrai, menjadi jajanan yang selalu ada di acara tahunan Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau yang juga dikenal dengan Jakarta Fair.

Berdasarkan pantauan Antara ada sekitar 50 pedagang kerak telor yang tersebar di area PRJ di JIExpo, Kemayoran.

Pembelinya pun tidak sedikit. Ada saja pengunjung PRJ yang mampir untuk membeli makanan bercita rasa gurih dan manis itu.

"Saya suka kayak makan telur dan nasi disatuin gitu, enak rasanya," kata Anna yang ditemui saat membeli kerak telor di PRJ, Sabtu.

Anna mengaku jajanan Betawi itu sudah menjadi makanan favorit yang pasti dibelinya setiap ia datang ke Jakarta Fair.

"Saya orang Jakarta, saya selalu datang ke Jakarta Fair. Tidak hanya berburu diskon, saya berburu makanan juga, ya salah satunya kerak telor ini," kata wanita yang berasal dari Sunter, Jakarta itu.

Berbeda dengan Anna yang sudah menggemari kerak telor, Surti yang baru mencoba jajanan itu mengaku tercengang.

"Ini kan pipih, saya kira cuma untuk camilan tahunya bisa buat kenyang ya," kata wanita yang berasal dari Solo itu.

Penikmat kerak telor lainnya, Amel mengatakan makanan yang dibuat di atas tungku arang itu adalah "'warisan" yang harus diketahui anak-anaknya.

"Kerak telor kan makanan khas Betawi dan orang Jakarta, ya ini warisan yang bisa saya kenalkan ke anak- anak saya," kata ibu dua anak itu.

Kerak telor di Pekan Raya Jakarta dijual mulai dari Rp20.000 per porsi untuk yang menggunakan telur ayam dan Rp25.000 per porsi untuk telur bebek sebagai bahan dasarnya.

Selain kerak telor makanan khas Betawi lainnya juga dijual di Pekan Raya Jakarta seperti tauge goreng, soto mi, dan dodol.


 
Pewarta :
Editor: Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar