Pakar : "Update" WhatsApp supaya "smartphone" tak disadap

id pratama

Doktor Pratama Persadha. (Foto: Dok. CISSReC)

Semarang (ANTARA) - Pengguna WhatsApp sebaiknya selalu "update" WA sehubungan dengan kasus kerentanan pada aplikasi tersebut yang dimanfaatkan oleh salah satu "spyware" dari Israel, kata pakar keamanan siber dari CISSReC Doktor Pratama Persadha.

Pratama via surelnya kepada ANTARA di Semarang, Rabu malam, menginformasikan bahwa spyware yang dibuat oleh perusahaan NSO itu masuk lewat fitur call pada WhatsApp (WA).

"Akibat yang ditimbulkan, bisa sangat parah. Penjahat dapat mengambil alih sistem operasi pada Android maupun iOS," kata Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (Communication and Information System Security Research Center/CISSReC) ini.

Meskipun WhatsApp mengklaim bahwa kasus ini hanya terjadi pada segelintir pengguna yang telah ditargetkan. Namun, kata Pratama, kejadian ini harus menjadi perhatian bersama.

"Sebagai pengguna sudah semestinya berhati-hati ketika melakukan komunikasi. Kasus penyusupan spyware pada WhatsApp menunjukkan bahwa aplikasi pesan instan paling populer di dunia ini memiliki celah
keamanan yang dapat ditembus," ucapnya.

Ia mengungkapkan bahwa banyak pejabat di Indonesia melakukan komunikasi dan memberikan keputusan melalui grup WhatsApp. Hal ini sangat riskan dan berbahaya.

Menurut dia, sangat berbahaya pejabat atau tokoh penting di Indonesia memakai WhatsApp dan aplikasi pesan instan gratisan lainnya. Apalagi, komunikasinya bersifat penting dan strategis.

Pratama menjelaskan bahwa bahaya dari spyware ini tidak hanya mencuri data percakapan saja, tetapi juga bisa mengambil alih sistem operasi. Bahkan, konon bisa menginfeksi saat korban mengangkat panggilan WhatsApp dari nomor penyerangnya.

Agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan, Pratama mengimbau seluruh pengguna WhatsApp agar segera melakukan pembaharuan sistem, baik untuk platform iOS maupun Android. Tim WhatsApp sudah melakukan pembaharuan untuk menutupi celah tersebut.

Kasus yang terjadi pada WhatsApp, kata dia, telah menambah rentetan masalah keamanan data pada perusahaan di bawah naungan Facebook. Sebelumnya, Facebook telah berkali-kali bermasalah dengan isu keamanan, yang paling ramai adalah kasus cambridge analityca.

Namun, kasus yang menimpa WhatsApp saat ini berbeda, WhatsApp telah menjamin kerahasiaan pesan dan telepon dengan enkripsi yang menjadi standar komunikasi yang aman di berbagai negara, bahkan juga di Indonesia.

Amnesti Internasional, lanjut dia, bergerak cepat dengan rencana menuntut kasus ini ke pengadilan. Kementerian Pertahanan Israel yang akan ditarget sebagai pihak tergugat.

Amnesti Internasional melihat tindakan pemerintah Israel membiarkan NSO menjual dan menyebarkan "software" berbahaya ini sebagai tindakan melawan hak asasi manusia.
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar