Jangan Ada Lagi Penolakan Imunisasi

id menkes dan imunisasi difteri

Menteri Kesehatan (Menkes), Nila F Moeloek, memberikan vitamin kepada anak, usai imunisasi difteri, di Paud Edelwis, Rawang, Padang, Sumatera Barat. ( ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

...Ini penyakit yang sudah sangat lama, tapi banyak orang tidak paham penyakit ini sangat berbahaya, menimbulkan kematian, dan bisa menyebabkan wabah...
Jakarta (ANTARA LAMPUNG) - Mewabahnya kembali penyakit kuno yang selama beberapa tahun sudah tak pernah terjadi lagi di Indonesia, yakni difteri membuat cemas berbagai kalangan karena penyakit tersebut sangat mudah menular.

Kasus-kasus difteri bermunculan sepanjang tahun 2017 dan merebak ke 95 kabupaten-kota pada 20 provinsi.

Pemerintah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) pada kasus difteri tersebut dengan ditemukannya 593 kasus dan 32 kasus di antaranya meninggal dunia.

Difteri merupakan penyakit sangat menular yang disebabkan oleh kuman "corynebacterium diptheriae".

Difteri menimbulkan gejala dan tanda berupa demam yang tidak begitu tinggi, sekitar 38 derajat celcius, munculnya "pseudomembran" atau selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit waktu menelan, tenggorokan terasa sakit, serta suara serak.

Terkadang gejala juga disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengakan jaringan lunak leher yang disebut "bullneck". Pada beberapa kasus difteri juga disertai sesak napas dan suara mengorok.

Bahkan data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan, saat salah satu kabupaten terjadi kasus difteri, satu provinsi bisa berubah merah dalam waktu cepat.

Hal itu dikarenakan sangat mudahnya penyakit difteri menular, terlebih pada seseorang yang tidak memiliki kekebalan atau imunitas, serta daya tahan tubuh yang rendah seperti anak-anak.

Penularan difteri bisa terjadi dengan cara terhirup percikan ludah atau bersin seseorang yang terinfeksi, penularan dari barang-barang yang terkontaminasi bakteri, dan bersentuhan pada luka di kulit penderita.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Muhammad Subuh mengungkapkan bahwa dari 593 kasus yang ada penyakit difteri terjadi sepanjang tahun tanpak tergantung musim.

Selain itu, bakteri "corynebacterium diptheriae" juga tidak mengenal usia saat menginfeksi seseorang. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan difteri menyerang pada yang paling muda berusia 3,5 tahun dan tertua 45 tahun.

Lalu kenapa penyakit difteri yang pernah hilang dari Indonesia kembali muncul lagi? Salah satu faktor utamanya ialah kekebalan tubuh penduduk di suatu wilayah yang menurun.

Terjadi kesenjangan kekebalan tubuh terhadap penyakit difteri pada suatu kelompok sehingga bakteri mudah menyerang.

Salah satu pencegahan utama untuk penyakit difteri ialah dengan imunisasi. Pemerintah Indonesia telah berhasil mengeliminasi penyakit difteri dari Tanah Air pada 1990 di mana program imunisasi ramai digalakkan pemerintah, termasuk imunisasi difteri yang diberikan pada bayi baru lahir.

Namun penyakit difteri kembali muncul pada tahun 2009, dan secara bertahap jumlahnya meningkat dalam beberapa tahun hingga yang terjadi pada saat ini.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Pulungan mengatakan faktor yang menyebabkan difteri kembali muncul dan mewabah di Indonesia ialah menurunnya imunitas suatu kelompok yang diakibatkan dari beberapa hal.

Beberapa hal tersebut antara lain adanya program imunisasi yang tidak lengkap, program imunisasi yang tak tercapai sempurna, adanya gerakan antivaksin di masyarakat, tidak adanya pelaksanaan vaksin tiap kurun waktu 10 tahun, dan kesadaran masyarakat yang sangat kurang tentang bahaya penyakit difteri.

"Ini penyakit yang sudah sangat lama, tapi banyak orang tidak paham penyakit ini sangat berbahaya, menimbulkan kematian, dan bisa menyebabkan wabah," kata Aman.

Difteri bisa efektif dicegah dengan vaksin apabila capaian imunisasi mencakup 95 persen dari yang ditargetkan.

Ketika cakupan imunisasi mencapai 95 persen maka akan terbentuk kekebalan kelompok di mana bakteri tidak bisa berkembang. Secara otomatis, 5 persen yang tidak divaksin akan terlindungi dari 95 persen penduduk yang imun terhadap difteri.

Sebaliknya saat cakupan dari kekebalan kelompok itu menurun, di situlah bakteri penyebab penyakit difteri bisa menyerang, termasuk kepada orang-orang yang sudah divaksin.

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan dari 593 kasus difteri yang terjadi pada 2017 sebanyak 66 persen di antaranya tidak divaksinasi, sementara 31 persen lainnya terkena difteri karena imunisasinya tidak lengkap.

Imunisasi Lagi

Pemerintah akan menyelenggarakan program Imunisasi Tanggap Kejadian Luar Biasa (ORI) untuk menangani wabahnya penyakit difteri pada Senin (11/12) serentak di 12 kabupaten-kota pada Provinsi Jawa Barat, Provinsi Banten, dan Provinsi DKI Jakarta.

Kabupaten-kota tersebut antara lain Kota Jakarta Barat, Kota Jakarta Utara, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Kota Bekasi, Kota Depok, Tangerang, Serang, Kota Tangerang, Kota Serang, dan Kota Tangerang Selatan.

Alasan dipilihnya wilayah-wilayah tersebut dikarenakan jumlah kepadatan penduduknya yang dikhawatirkan bisa menyebarkan penyakit difteri.

Di samping itu, tiga provinsi tersebut merupakan salah satu kasus yang Imunisasi ditargetkan pada anak usia satu tahun hingga di bawah lima tahun dengan vaksin DPT-HB-Hib, anak usia lima tahun hingga di bawah tujuh tahun dengan vaksin DT, dan anak usia tujuh tahun hingga di bawah 19 tahun dengan vaksin Td.

Pelaksanaan ORI tersebut akan dilakukan tiga kali mulai 11 Desember 2017, diulangi satu bulan setelahnya pada 11 Januari 2018, dan diulangi kembali pada enam bulan setelahnya.

Subuh berharap masyarakat memahami pentingnya pelaksanaan imunisasi tanggap KLB difteri dan tidak menolak untuk memberikan vaksin kepada anaknya guna mencegah penyakit berbahaya.

Dalam pelaksanaan ORI nanti kita berharap sudah tidak ada lagi penolakan dari masyarakat, kata Subuh.

Masyarakat harus meningkatkan kesadaran bahwa penyakit difteri sangat mudah menular, bisa menyerang siapa saja, bisa menimbulkan kematian, dan bisa mewabah dengan menularkan pada orang lain serta membahayakan nyawa orang lain.

Dan langkah pencegahan paling efektif untuk menangkal terjadinya penularan penyakit difteri ialah dengan imunisasi.
 
(ANTARA)
Pewarta :
Editor: Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar