Logo Header Antaranews Lampung

Menanti turunnya harga daging sapi

Selasa, 14 Juni 2016 12:45 WIB
Image Print
Salah satu pedagang daging sapi di Pasar Simpang Sribhawono Kabupaten Lampung Timur, (FOTO: ANTARA Lampung/Muklasin)

Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Provinsi Lampung merupakan "gerbang" Pulau Sumatera ke Jawa memiliki hewan ternak, khususnya sapi, yang mencukupi untuk memenuhi konsumsi daging warga setempat.

Bahkan, Provinsi Lampung merupakan salah satu daerah penyuplai ternak tersebut ke sejumah wilayah, seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Jawa Barat.

Berdasarkan data dari Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), stok sapi di Provinsi Lampung pada tahun 2016 mencapai 100.000 ekor atau setara daging segar sebanyak 18.000 ton.

Persediaan sapi di Provinsi Lampung untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah ini selama bulan Ramadan 1437 Hijriah mencukupi.

Pada bulan Juni 2016, stok sapi di Lampung mencapai 28.321 ekor, sedangkan kebutuhan mencapai 4.890 ekor. Menjelang Lebaran, stoknya mencapai 29.431 ekor dan kebutuhannya 17.841 ekor.

Belum lagi, sapi lokal yang dikembangbiakkan warga, khususnya petani, yang mungkin tak terdata oleh pemerintah. Namun, kenyataannya harga daging sapi di daerah tersebut tergolong tinggi, sebesar Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram.

Guna mengantisipasi tingginya permintaan, Pemprov Lampung pun melalui Bulog setempat mengikuti program pemerintah pusat dengan menggelar operasi pasar (OP) daging beku.

Bulog Divre Lampung mulai mendistribusikan 19 ton daging impor atau daging beku kuota daerah tersebut.

Daging beku tersebut, kata Kepala Bulog Divre Lampung Dindin Syamsudin, didistribusikan dalam dua tahap, yaitu: tahap pertama, sebanyak 4 ton telah disalurkan sejak Jumat (4/6) melalui pasar murah di sejumlah titik dan pasar; tahap kedua, mulai Kamis (9/6), sebanyak 15 ton daging di sedikitnya 25 titik pasar murah.

Pasar murah tersebut merupakan hasil kerja sama antara Bulog dan sejumlah instansi serta Pemkot Bandarlampung. Sesuai dengan instruksi dari Pemprov Lampung daging-daging tersebut dijual dengan harga 90 ribu/kilogram.

Bulog pun mengaku tidak menerapkan kuota untuk penjualan daging impor pada OP 2016. Permintaan tambahan kuota akan segera dilakukan Bulog Divre Lampung begitu distribusi 15 ton daging beku tahap kedua selesai. Bulog memperkirakan 15 ton kuota tahap kedua daging impor tersebut akan habis dalam jangka waktu 10 hari.


Permintaan Meningkat


Menyinggung soal permintaan daging sapi di Lampung pada Ramadan dan Lebaran 2016, dia memperkirakan meningkat 10 persen dari permintaan pada tahun sebelumnya, bahkan akan melonjak menjelang Lebaran.

Untuk antisipasi meningkatnya kebutuhan pada tahun 2016, pasokan sapi sudah ditambah menjadi 550 ekor. Jumlah tersebut di luar kuota daging impor untuk Lampung yang diperkirakan akan mencapai lebih dari 60 ton hingga menjelang Lebaran.

Pemprov Lampung merasa optimistis pasokan yang cukup itu tidak akan menimbulkan lonjakan pada harga daging sapi. Namun, harga daging sapi di sejumlah pasar di Kota Bandarlampung masih bertahan tinggi, terutama daging sapi segar.

Sejumlah pedagang pun menyebutkan harga daging sapi di Kota Bandarlampung masih bertahan tinggi meski daging beku impor dari Australia dan Selandia Baru mulai dipasarkan di daerah itu.

Andre, pedagang daging sapi di Pasar Gudanglelang, Kota Bandarlampung, pekan lalu, mengatakan bahwa harga daging segar sapi tetap berkisar Rp120 ribu sampai dengan Rp130 ribu/kg atau belum turun karena banyak warga yang memilih daging segar daripada daging beku meski harganya lebih murah.

Ia menyebutkan harga daging sapi hasil penggemukan tetap tinggi karena harga sapi di "feedloter" dan rumah potong hewan masih bertahan tinggi.

Tingginya harga daging karena masih tingginya harga beli sapi. Dia mengaku membeli sapi sebesar Rp42.700,00/kg, padahal sebelumnya Rp42.500,00/kg. Bahkan, harga sapi sudah ada yang mencapai Rp43 ribu/kg.

Menurut dia, sepanjang harga sapi tetap tinggi maka harga dagingnya tetap mahal seperti sekarang ini.

Meski harga masih bertahan tinggi, permintaan atas daging saat Ramadan justru naik, apalagi menjelang Lebaran.

Agak sulit diprediksi apakah harga daging segar naik atau tidak karena adanya faktor daging impor.

Meski demikian, dia menyebutkan harga daging segar sulit turun di bawah Rp120 ribu/kg karena faktor tingginya harga sapi lokal dan sapi hasil penggemukan.

Namun, masyarakat tetap lebih menyukai daging segar meski harganya lebih mahal.

Ketua Persatuan Pedagang Daging Sapi Kota Bandarlampung Tampan Sujawarji menyatakan bahwa pemerintah pusat harus menekan harga jual sapi agar harga di tingkat pengecer berkisar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu/kg.

Ia berharap pemerintah harus mampu menekan harga sapi hingga sebesar Rp35 ribu/kg. Saat ini harganya sebesar Rp43 ribu/kg.

Pedagang daging sapi, lanjut dia, siap menurunkan harga jual daging dengan cacatan pemerintah juga harus mampu menurunkan harga sapi.

Bagaimana dengan daging beku yang didistribusikan melalui Bulog dan dijual di bawah Rp100 ribu itu? Sampai kapan? Apa hanya untuk memenuhi Ramadan dan Lebaran?

Kini, tinggal Pemerintah Provinsi Lampung beserta pemkab/kota mencarikan solusi agar harga daging sapi bisa turun di bawah Rp100 ribu/kg usai Lebaran.
(Ant)



Pewarta :
Editor: Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2026