
Harga Daging Sapi di Lampung Masih Tinggi

Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Harga daging sapi di beberapa kabupaten di Provinsi Lampung cenderung turun, namun masih cenderung tinggi dan belum normal seperti semula.
Harga daging sapi di Kabupaten Lampung Timur, Rabu, bertahan tinggi Rp110.000 hingga Rp120.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp100.000 per kilogram.
Jubaidi (40), warga Desa Mataram Baru, Lampung Timur yang biasa menjual daging sapi di Pasar Simpang Sribhawono, mengatakan kenaikan harga daging sapi telah terjadi sejak setengah bulan yang lalu.
Menurutnya, kenaikan harga itu disebabkan sedikit pasokan dari tempat pemotongan sapi.
"Kenaikan harga disebabkan sedikit pasokan dari tempat pemotongan dan sulit mendapatkannya, sehingga harga naik dari Rp100 ribu per kg menjadi Rp120 ribu per kg, sebelumnya dijual Rp100 ribu per kg," katanya lagi.
Pedagang daging sapi itu mengaku, akibat kenaikan harga itu banyak pelanggannya yang mengeluhkannya.
"Terutama para pedagang bakso yang mengeluhkannya," ujarnya lagi.
Jubaidi menyatakan, biasanya setiap hari pasaran di Pasar Simpang Sribhawono mampu menjual 140 hingga 200 kg dalam sehari, tapi akibat kenaikan ini omzet penjualannya berkurang banyak.
Sedangkan harga daging sapi di Kota Bandarlampung mencapai Rp110.000 per kg atau mengalami penurunan dibandingkan minggu lalu yang mencapai Rp135.000 per kg.
"Harga daging sapi sudah mulai turun sejak pembatalan PPN 10 persen atas sapi impor pada 22 Januari," kata Dadang, pedagang daging sapi di Pasar SMEP Bandarlampung.
Dia mengatakan, pihak distributor sudah memberikan harga yang terjangkau yakni Rp95.000/kg.
Ia menjelaskan, harga ini masih bertahan dan tidak mengalami kenaikan lagi, bahkan diharapkan harganya menurun dari yang berlaku saat ini.
Ketua Persatuan Pedagang Daging Kota Bandarlampung, Tampan Sujarwadi membenarkan harga daging sapi sudah mulai kembali normal semenjak pembatalan kebijakan penerapan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen yang dampaknya dinilai sangat luar biasa.
"Harga sudah stabil dan situasinya kembali normal, mengingat akibat adanya PPN 10 persen sangat berpengaruh pada stabilitas harga dan merugikan para pedagang daging sapi," kata dia lagi.
Dia berharap, jika pemerintah ingin mengambil suatu kebijakan atau strategi harus dipikirkan secara baik, jangan sampai berimbas buruk bagi pedagang daging.
"Pemerintah harus menganalisis secara matang, mengingat daging sapi ini merupakan komoditas yang paling utama terlebih untuk kebutuhan industri pangan, sehingga sangat berisiko jika mengambil keputusan yang berdampak negatif," katanya lagi.
Ia mengharapkan pula, pemerintah ke depannya bisa berpikir secara objektif terutama jika ingin sapi lokal menjadi primadona. Sapi lokal saat ini bisa dikatakan populasinya sangat kurang, padahal tingkat konsumsinya sangat tinggi.
"Kita harus belajar dari negara lain yang secara cepat mengembangbiakkan sapi lokal, terutama yang siap jual," kata dia pula.
Ia menyatakan, di Indonesia sapi lokal banyak tapi banyak yang tidak siap jual, ini yang harus dipikirkan oleh pemerintah.
Berbeda untuk daging ayam yang saat ini harganya masih tinggi, berkisar antara Rp36.000 per ekor hingga Rp38.000 per ekor sebelumnya hanya Rp34.000 per kg.
"Harga daging ayam dari distributor sudah tinggi, alasannya pakan ayam yang juga ikut naik," kata Iqbal, pedagang daging ayam di Pasar SMEP Bandarlampung.
Dia menegaskan meskipun terdapat kenaikan harga, permintaan daging ayam dari konsumen tetap tinggi terlebih saat harga daging sapi naik.(Ant)
Pewarta : Muklasin & Roy BP
Editor:
Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
