
Puskesmas Pelopori Gerakan Kebersihan Lingkungan

Mestinya tetap bisa dilakukan oleh puskesmas untuk mendorong gerakan kebersihan lingkungan di masyarakat. Namun, dengan adanya pergeseran beban puskesmas yang dominan mengobati orang sakit maka akan menjadikan tugas utama tersebut sering terabaikan."
Jakarta, (ANTARA Lampung) - Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zaenal Abidin mengatakan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) perlu mengedepankan tindakan mempelopori gerakan kebersihan lingkungan untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Ia mengatakan pengobatan orang sakit lebih dominan dilakukan Puskesmas daripada penyuluhan upaya pencegahan dalam mengendalikan penyebaran penyakit DBD.
"Mestinya tetap bisa dilakukan oleh puskesmas untuk mendorong gerakan kebersihan lingkungan di masyarakat. Namun, dengan adanya pergeseran beban puskesmas yang dominan mengobati orang sakit maka akan menjadikan tugas utama tersebut sering terabaikan," katanya, Jakarta, Senin.
Lebih lanjut ia mengatakan kepedulian masyarakat masih kurang dalam mengupayakan pemberantasan nyamuk aedes aegypti yang menularkan dengue virus penyebab DBD melalui kebersihan lingkungan sehingga perlu mendapat pendampingan baik dari puskesmas maupun pemerintahan.
"Masyarakat pun seolah berpikiran toh ada dokter, ada puskesmas, ada rumah sakit. Bila sakit ya, ke sana saja berobat," tuturnya.
Untuk itu, lanjutnya, puskesmas harus gencar menyosialisasikan upaya preventif mewabahnya DBD kepada masyarakat seperti memberikan pemahaman kepada masyarakat seputar bahaya nyamuk aedes aegypti yang menularkan dengue virus penyebab DBD.
Kemudian, puskesmas juga turut mengajak masyarakat menggalakkan 3M yakni menguras dan menutup tempat penampungan air serta mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan karena genangan air merupakan tempat berkembangnya nyamuk itu, katanya.
Menurutnya, dalam pengendalian penyakit DBD, kerja sama antarpemangku kepentingan seperti pemerintahan, puskesmas dan masyarakat harus diperkuat untuk bahu-membahu memberantas nyamuk aedes aegypti.
"Di sisi lain, aparatur pemerintahan terdepan lain tidak juga mengambil alih peran itu. Desa dan kelurahan dengan RT atau RW tidak tergerak untuk mempelopori gerakan masyarakat untuk melakukan kebersihan," ujarnya.
Selain itu, Zaenal mengatakan pemberantasan nyamuk pembawa virus dengue itu bukan hanya dilakukan di lingkungan perumahan tetapi juga harus dilakukan di lingkungan sekolah dan tempat bekerja.
"Bagaimana di lingkungan sekolah dan perkantoran? Apakah ada gerakan di sekolah dan perkantoran? Tidak selamanya orang dapat gigitan nyamuk di rumah. Sebagian besar penduduk berada di kantor atau tempat kerja dan sekolah di siang hari, saat nyamuk menggigit," tutur dia.
Gerakan kebersihan lingkungan itu perlu keterlibatan banyak pihak, pusksesmas dan dinas kesehatan hanya dibutuhkan untuk mempeloporinya, katanya lebih lanjut.
Ia mengatakan sekolah juga harus mengutamakan kegiatan menjaga lingkungan yang juga menjadi bagian dari pembelajaran siswa untuk mendorong tercapainya hidup sehat
"Cuma sekarang sekolah sudah padat kurikulum, sehingga kegiatan melakukan kebersihan yang melibatkann anak sekolah hampir sulit ditemukan. Padahal mestinya ini merupakan bagian dari belajar," kata dia.
Demikian juga dengan lingkungan tempat bekerja, yang mana kebersihan menjadi tugas petugas kebersihan padahal setiap orang perlu memandang kebersihan sebagai kewajiban bersama.
Ia mengatakan ada beberapa cara mengendalikan penyakit DBD antara lain melalui cara biologis seperti memelihara ikan atau hewan pemakan nyamuk atau jentik, cara kimia dengan abatasi, gerakan masyarakat dengan kebersihan.
Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor:
Samino Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2026
