Logo Header Antaranews Lampung

Pertempuran Di Benghazi Libya Berkecamuk

Sabtu, 17 Mei 2014 07:59 WIB
Image Print

Benghazi (Antara/Xinhua-OANA) - Pertempuran sengit berkecamuk pada Jumat (16/5) antara satu kelompok milisi dan gerilyawan di kota terbesar kedua di Libya, Benghazi, menewaskan tak kurang dari 24 orang dan melukai lebih dari 140 orang lagi, kata beberapa sumber medis.
Rumah Sakit Abyar dan Rumah Sakit Almarj di kota tersebut masing-masing menerima empat mayat, sementara Rumah Sakit Galaa menerima tujuh dan Pusat Medis Benghazi menerima sembilan mayat. Jumlah korban cedera sejauh ini telah mencapai 146.
Beberapa saksi mata mengatakan satu kelompok gerilyawan garis keras yang dipimpin oleh May. Jend. (Purn.) Khalifa Haftar melancarkan serangan saat fajar terhadap satu kelompok milisi di Benghazi "untuk membersihkan kota itu dari pelaku teror".
Juru bicara Haftar mengatakan "Angkatan Darat Nasionalnya" sedang dalam proses membersihkan Benghazi dari bermacam kelompok pelaku teror. Mereka telah membom banyak pangkalan gerilyawan, termasuk milik Ansar Ash-Sharia dan kompleks Brigade 17 Februari. Media lokal menyatakan senjata berat dan ringan digunakan selama bentrokan itu, sehingga menewaskan banyak orang.
Baku-tembak antara kedua pihak sekarang berpusat di Wilayah Sidi Faraj dan Hawari di bagian selatan kota tersebut sementara pertempuran masih berkecamuk, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu pagi. Suara ledakan sporadis masih terdengar pada Jumat malam.
Pada Jumat malam, Kepala Staf Militer Libya Abdessalem Jadallah As-Salihin mengatakan dalam satu taklimat bahwa serangan itu tidak disahkan oleh pemerintah sementara, dan ia "menentang setiap kelompok bersenjata yang berusaha menguasai Banghazi dengan menggunakan Angkatan Bersenjata". As-Salihin juga membantah keterlibatan militer nasional dalam serangan tersebut.
Ia menambahkan tentara Haftar melanggar perintah kepala staf dengan memasuki Benghazi, yang "sangat merusak keamanan di kota itu".
Penjabat Perdana Menteri Libya Abdullah Thinni mengutuk serangan tersebut sebagai "kudeta" terhadap pemerintah sementara. Ia juga meminta Haftar mengendalikan diri dan melawan "setiap godaan untuk masuk tanpa diundang".

Penerjemah/Editor : Chaidar/Hisar Sitanggang



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026