
Sekala se-Lampung Forum Solutif Problem Masyarakat

"Kita semua jangan gampang terkooptasi oleh dikotomi yang merebak saat ini. Jangan ada pembenaran sebelum semuanya jelas. Jangan ada pemerintah selalu salah jika menghadapi rakyat. Jangan ada perusahaan selalu dianggap brengsek," ujar Cak Nun.
Tulangbawang, Lampung (ANTARA LAMPUNG) - Sekala se-Lampung II digelar di Menggala Kabupaten Tulangbawang Provinsi Lampung, Minggu (23/3), setelah sebelumnya digelar di lapangan Korpri depan kantor gubernur/DPRD Lampung di Bandarlampung beberapa bulan lalu.
Sekala se-Lampung ini merupakan majelis diskusi bebas yang disponsori perusahaan tambak udang modern PT Centralproteina Prima (CP Prima) dan digagas bersama Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang digelar lagi di Menggala Tulangbawang.
Forum ini diharapkan menjadi katalisator masyarakat dengan bingkai mencari solusi atas masalah aktual yang terjadi di sekitarnya.
Wakil Bupati Tulangbawang Heri Wardoyo mengantar diskusi dengan memberikan apresiasi kepada Cak Nun yang bersedia hadir sekaligus berbagi dengan warga Lampung.
Apalagi, sebelum acara dialog Sekala se-Lampung ini, Cak Nun menfasilitasi syukuran yang menandai perdamaian
inti-plasma PT Centralpertiwi Bahari (CPB) di kompleks pertambakan Bratasena.
Hadir dalam diskusi ini, Prof Sudjarwo Direktur Pascasarjana Universitas Lampung (Unila), Dr Ari Darmastuti MA akademisi FISIP Unila, sastrawan kondang Lampung Isbedy Stiawan, dan Ardiansyah, Direktur Radar Lampung
Group. Diskusi dengan moderator Iskandar Zulkarnain Wapimred Harian Umum Lampung Post.
Dalam diskusi yang dihadiri pula ratusan peserta ini, Cak Nun membukanya dengan membeberkan banyak isu aktual bangsa ini, dari sentimen internasional, urusan lokalisasi Dolly Surabaya hingga terawang metafisik soal potensi letusan begitu banyak gunung berapi di Indonesia. Cak Nun menarik ke bawah sejumlah isu-isu di atas langit itu
mendekat ke konteks lokal.
Seraya mencermati kondisi Provinsi Lampung, Cak Nun yang mengaku mempunyai mertua di Lampung--karena pernah beristrikan wanita Lampung--dan sering datang ke daerah ini, memandang Lampung sedang berada di perempatan jalan.
"Dibilang daerah maju belum, tetapi gaya modern sudah sangat akrab. Kaum terpelajarnya banyak, tetapi
budaya diskusi kritisnya belum seperti Yogyakarta. Ini butuh terus pencerahan," kata budayawan yang dijuluki Kiai mbeling itu puls.
Moderator diskusi Iskandar Zulkarnain mencoba mengarahkan diskusi aktual dengan mengungkit karut-marut pelaksanaan pemilihan gubernur Lampung dan fenomena yang memiriskan seputar Pemilu 2014.
Tak pelak, Ari Darmastuti pun berani menilai bahwa Lampung menjadi tidak beruntung akibat praktik politik yang tidak beretika. Nilai-nilai demokrasi, katanya, telah mengalami disparitas sangat jauh antara elite dengan rakyatnya. Praktik politik tak beretika cenderung dipertontonkan dan dicontohkan ke publik justru oleh para elitenya.
Prof Sudjarwo pun membuat ilustrasi tentang pemahaman keadilan politik versi orang awam. Saat seorang
Simbok tua di kampung ingin melaksanakan keadilan dalam berdemokrasi, ia lalu mencoblos semua calon yang telah memberi sesuatu kepadanya. "La, yang ini ngasih Rp50 ribu, yang itu ngasih kupluk, dan satunya lagi ngasih sajadah. Nah, supaya tidak 'meri' (cemburu), saya coblos semua," kata Simbok itu pula.
Sudjarwo menyebut hal ini sebagai fenomena "Barji Barbeh", bubar siji bubar kabeh, bubar satu bubar semuanya.
Ardiansyah pun menyebut cara Cak Nun mengambil posisi dalam tatanan masyarakat sebagai tempat yang ideal. Lebih dari itu, Cak Nun dinilainya mampu mengadobsi nilai kebenaran yang hakiki dan universal sebagai landasan bergerak.
"Saya kira, sosok Cak Nun ini adalah contoh konkret dari apa yang ingin kita semua capai. Dia diterima semua kalangan dengan tidak berada pada kotak tertentu untuk kemudian ikut terjun langsung mengambil solusi. Ini intinya," kata dia lagi.
Menyusul muncul banyak pertanyaan dan keluh-kesah para peserta diskusi ini, Cak Nun di atas panggung
mengubah format diskusi menjadi lebih akrab secara lesehan berbaur bersama. Suasana pun menjadi semakin
akrab dan tetap terjaga keseriusan untuk mengkancah masalah yang terjadi dan mencari solusinya.
"Kita semua sekarang jangan gampang terkooptasi oleh doktrin-doktrin dikotomi yang merebak saat ini. Jangan ada pembenaran sebelum semuanya menjadi jelas. Jangan ada pemerintah selalu salah jika menghadapi rakyat. Jangan ada perusahaan selalu dianggap brengsek jika berkonflik dengan buruh. Saya sudah puas difitnah LSM, tetapi saya tetap membela yang benar dan terus saya perjuangkan sampai saat ini dan seterusnya," kata Cak Nun pula.
Diskusi dan dialog Sekala se-Lampung II yang berlangsung di Menggala Tulangbawang ini menandai pula acara syukuran bersama petambak dan inti PT Centralpertiwi Bahari (CPB), sekaligus perdamaian perusahaan dengan petambak yang tergabung dalam Forum Silaturahmi (Forsil). Acara ini ditandai dengan pemotongan tumpeng yang sekaligus untuk memperingati ulang tahun ke-2 Forsil dipusatkan di pendopo PT CPB Bratasena Adhi Warna, Minggu (23/3).
Menurut Head of PT CPB Site Operation Armand Zakaria D, adanya normalisasi budidaya pertambakan di CPB dengan mewujudkan sinergisitas dan kesejahteraan dengan upaya meningkatkan produksi udang di tingkat nasional maupun internasional.
"Normalisasi ini diharapkan semua yang ada di lingkungan PT CPB dapat bangkit dan mencapai kejayaan kembali, sehingga pola kemitraan antara inti dengan plasma khususnya Forsil yang terjalin makin menjadi sinergi yang kuat. Syukuran dan perdamaian untuk normalisasi ini diharapkan dapat menggapai kesuksesan kembali untuk membudidayakan udang dengan produksi mencapai 60 ribu ton udang setahun," kata Arman pula.
Ketua Forsil Plasma Cokro Edy menyatakan bersyukur atas adanya normalisasi budidaya pada areal pertambakan CPB ini. "Inilah sebuah proses, dan kami bersyukur kini Forsil bersama perusahaan ke depannya siap menyamakan visi dan misi untuk mendukung normalisasi yang saat ini sudah mencapai 80 persen. Acara ini menandai awal pemulihan dan terjadi kembali harmonisasi antara inti dengan plasma khususnya Forsil dengan perusahaan PT CPB," katanya pula.
Pewarta :
Editor:
Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
