
Kekuatan Magnet "Blusukan" Jokowi di Lampung

Saya itu nggak punya duit, `ndeso`,"
Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG) - Sosok Joko Widodo (Jokowi), Gubernur DKI Jakarta, yang telah diusung oleh PDI Perjuangan menjadi calon presiden dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014 seperti magnet yang kuat.
Kehadiran Jokowi pada hari Jumat (21/3) sore hingga Sabtu (22/3) untuk mendukung kampanye PDI Perjuangan dan Pasangan Calon Gubernur dan Wagub Lampung pada pemungutan suara 9 April 2014 mampu menarik warga dari berbagai kalangan, terutama rakyat biasa, untuk berebutan bisa bertemu, bersalaman, bertegur sapa, bahkan hanya untuk berfoto bersama.
Jokowi disambut meriah oleh masyarakat di beberapa tempat di Provinsi Lampung.
Kendati secara formal sesuai dengan jadwal kunjungan hanya terdapat dua titik lokasi kampanye PDI Perjuangan di Lampung yang harus didatangi, dengan ditemani Gubernur Jawa Tengah dan Wakil Gubernur Riau, bersama Pasangan Calon Gubernur dan Wagub Lampung Berlian Tihang-Mukhlis Basri, ternyata belasan titik lokasi yang berbeda di sejumlah tempat di Lampung dapat disambangi Jokowi yang "blusukan" bersama rombongannya ini.
Pada setiap titik kunjungan itu, umumnya warga antusias datang untuk melihat dan bertemu secara langsung dengan Jokowi.
Sejak datang dan mendarat di Bandara Raden Inten II Branti Lampung Selatan, Jokowi lebih memilih berjalan kaki daripada menaiki Bus Damri yang disiapkan, Jumat (21/3) petang.
Jokowi memilih jalan kaki karena ingin membaur dengan warga setempat.
Mantan Wali Kota Surakarta itu juga tidak menggunakan fasilitas ruang VIP bandara karena ingin mengenal warga Lampung secara langsung.
"Ya, biar memasyarakat saja, nggak perlu mewah-mewah, memang sudah seperti biasa begini," kata Jokowi.
Saat ditanya mengenai Lampung, dia mengatakan bahwa dirinya belum bisa berkomentar karena baru sampai hari itu.
"Hari ini baru sampai mana bisa saya komentar, nantilah kalau sudah beberapa hari baru bisa cerita," kata dia.
Jokowi berada di Lampung untuk berkampanye bagi PDI Perjuangan sekaligus mendukung Pasangan Calon Gubernur dan Wagub Lampung Berlian Tihang-Mukhlis Basri yang diusung oleh PDI Perjuangan dan partai pendukung pada pilgub Lampung bersamaan Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD, 9 April 2014.
Kehadiran Jokowi di Pasar Kangkung Bandarlampung, Jumat malam, juga mampu menarik perhatian keramaian warga untuk segera mendekatinya.
"Jokowi capres yang merakyat sehingga banyak warga yang ingin bertemu meskipun hanya untuk bersalam-salaman saja," ujar Mirwan, warga Telukbetung Selatan.
Ia menyebutkan bahwa Gubernur DKI Jakarta itu memang tidak gerah saat bertemu dengan masyarakat biasa yang segera mengerumuninya.
"Ketika hendak makan, dikelilingi oleh masyarakat saja dia (Jokowi, red.) masih sempat meladeni warga untuk berfoto," kata Mirwan lagi.
Hal senada diungkapkan pengemudi travel di sekitar Masjid Taqwa Bandarlampung Togar. Dia menyatakan bahwa calon pemimpin yang baik seperti Jokowi itu, tanpa pengawalan ketat dan bisa membaur dengan warga.
"Ini baru calon pemimpin, kita tidak repot harus menembus pengawalan-pengawalan khusus. Jadi, kami masyarakat bisa leluasa bersalaman dan foto bersama," ujarnya.
Jokowi mengatakan bahwa kedatangannya ke Lampung untuk menjalankan tugas partai sebagai juru kampanye nasional PDI Perjuangan di daerah ini.
"Ya, pasti untuk memenangkan PDI Perjuangan ke depan yang pasti di atas target harus diraih," ujar Jokowi.
Informasi kedatangan Jokowi ke Lampung ini juga seperti cepat tersebar luas, tidak saja di kalangan pers dan elite politik/pejabat di Lampung, tetapi banyak warga masyarakat biasa yang mengetahuinya dari berbagai media massa dan informasi dari mulut ke mulut.
Sejumlah kalangan bahkan berinisiatif mencari informasi lokasi kunjungan Jokowi selama berada di Lampung itu.
"Banyak juga yang bertanya soal kedatangan Jokowi itu, dikiranya kami yang mengorganisasi sebagai sukarelawan pendukung Jokowi di Lampung, padahal itu kerja partai (PDI Perjuangan, red.)," ujar Nopi Juansyah, Koordinator Relawan Pro-Jokowi di Lampung.
Menurut dia, kelompok sukarelawan itu justru baru mengagendakan kedatangan Jokowi selepas pemilu anggota legislatif yang bersamaan dengan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung agar tidak dipolitisasi.
Sejumlah wartawan juga berusaha mendekati dan bertegur sapa dengan Jokowi, tidak hanya untuk urusan mendapatkan pernyataan dan tanggapannya sebagai bahan berita, tetapi juga berpose dengan tokoh yang dianggap sebagai sosok idola media massa (media darling) ini.
Para jurnalis itu pun dengan sukacita menampilkan pose dan kebersamaan dengan Jokowi itu di akun jejaring sosial, seperti facebook dan twitter masing-masing, selain menjadi contact profile pada perangkat gadget BlackBerry dan telepon genggam mereka.
Fenomena aneh kah seperti ini? Ataukah ini menjadi penanda bahwa sosok Jokowi memang menjadi idola banyak orang, terutama kalangan menengah ke bawah, sehingga akhirnya membuat Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memberikan mandat kepadanya untuk menjadi capres partai ini.
Disukai Publik
Pengamat politik dari FISIP Universitas Lampung (Unila) Arizka Warganegara, M.A. menilai Jokowi adalah sosok antitesa kepemimpinan nasional saat ini, sehingga disukai publik dan memiliki popularitas yang tinggi.
Menurut Arizka, saat ini memang banyak lembaga survei yang menjagokan sosok Jokowi sebagai calon presiden dengan popularitas dan elektabilitas yang tinggi dibandingkan para kandidat lainnya.
"Soal Jokowi memang banyak lembaga survei menjagokannya," ujar dia lagi.
Jika dianalisis Jokowi, kata Arizka, adalah antitesa sosok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sangat formal dan perfeksionis.
"Beda dengan Jokowi yang apa adanya dan `low profile`," ujarnya lagi.
Dia melihat ada kejenuhan pemilih selama dua periode dipimpin sosok yang sangat formal. Maka, muncullah sosok Jokowi pada saat momen yang tepat Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan.
"Salah satu kelebihan Jokowi yang disenangi publik dan membuatnya populer adalah suka turun ke bawah atau `blusukan` untuk bersentuhan langsung dengan masyarakat," kata Arizka lagi.
Namun, dia juga menyayangkan Jokowi yang harus meninggalkan kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta pada saat masih banyak persoalan di Ibu Kota ini menunggu sentuhan nyata tangannya.
"Sangat disayangkan memang Jokowi tinggalkan Jakarta pada saat Jakarta masih perlu banyak berbenah," kata dia pula.
Akan tetapi, secara personal dan juga PDI Perjuangan sangat memahami, kata dia, dalam politik momentum tidak datang dua kali dan itulah yang terjadi pada Jokowi saat ini.
Soal penantang Jokowi yang bisa bersaing sebagai presiden mendatang, Arizka menyebut salah satu pesaing kuatnya adalah Prabowo Subianto punya pesona juga untuk menjadi penantangnya.
Sementara itu, Aburizal Bakrie (Ical), menurut dia, juga sangat didukung oleh mesin partai (Partai Golkar, red.) yang baik untuk menjadi pesaing Jokowi sebagai presiden pula.
Berkaitan sosok pendamping Jokowi sebagai calon wakil presiden, menurut Arizka, tokoh-tokoh faksi Islam bisa menjadi penyeimbang faksi nasionalis.
"Saat ini bisa sangat masuk akal ada koalisi nasionalis-Islam dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014 kali ini," ujarnya pula.
Ia menyebutkan bahwa sosok yang pantas mendampingi Jokowi itu, di antaranya Jusuf Kalla (JK), Mahfud Md., dan Hatta Rajasa yang sangat berpotensi mengisi posisi calon wapres berdampingan dengan Jokowi.
Namun, tak sedikit warga yang tidak sempat ketemu Jokowi saat berada di Lampung itu, mengaku kecewa. Akan tetapi, ada pula yang biasa-biasa saja tanggapannya.
Harno, warga Durian Payung Bandarlampung yang sehari-hari berjualan makanan ringan di salah pasar di Bandarlampung mengaku mengagumi dan mendukung Jokowi sebagai sosok pemimpin yang merakyat.
Akan tetapi, dia juga menilai sebenarnya Jokowi bukanlah sosok yang berambisi meraih kekuasaan tertinggi (presiden) seperti keinginannya sendiri.
"Sebenarnya Pak Jokowi ini masih harus membenahi Jakarta sebagai Gubernur. Akan tetapi, karena orang-orang yang di atas, termasuk Ibu Mega, mendorong-dorongnya akhirnya bersedia juga maju menjadi calon presiden. Kalau saya melihat Pak Jokowi sebenarnya belum benar-benar siap," ujar bapak yang berasal dari Pulau Jawa dan sudah belasan tahun menjadi warga Bandarlampung itu pula.
Pada masa kampanye Pemilu 2014, Jokowi menghadiri kampanye terbuka PDI Perjuangan pada dua titik di Provinsi Lampung, yaitu di Kampung Tua Menggala Kabupaten Tulangbawang dan Lapangan Rejo Basuki, Lampung Tengah, 22 Maret 2014.
Menang di Lampung
Jokowi meyakini PDI Perjuangan akan meraih kemenangan di Provinnsi Lampung.
"Potensinya sangat besar, `feeling` saya PDI Perjuangan punya peluang besar di Lampung, nanti pasti suaranya banyak," kata Jokowi saat pertemuan dengan kader PDI Perjuangan di kediaman Calon Gubernur Lampung diusung PDI Perjuangan, Berlian Tihang, di Bandarlampung, Jumat (21/3) malam.
Menurut dia, kemenangan partai ini akan terwujud apabila seluruh lini berjalan sehingga pasti hasilnya akan lebih baik lagi.
"Tahun ini merupakan penentu, kalau kami kalah pada tanggal 9 April mendatang, jangan harap presidennya Jokowi," ujar dia, disambut tepuk tangan kader dan peserta pertemuan ini.
Karena itulah semua kader, baik tingkat ranting, cabang, maupun daerah menurut Jokowi harus bahu-membahu serta bergotong royong untuk dapat mewujudkan target nasional sebesar 27 persen perolehan suara pada Pemilu 2014.
Akan tetapi, dia mengingatkan yang terpenting dalam upaya itu semua adalah kesiapan serta kesiagaan saksi serta pemantau di masing-masing tempat pemungutan suara (TPS).
"Pengawalan atau menjaga masing-masing TPS adalah salah satu yang harus kita prioritaskan sehingga kelak kemenangan ini dapat tercapai sesuai dengan harapan bersama," ujarnya pula.
Dulu, kata Jokowi lagi, saat mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta, tidak ada yang menyangka kalau bisa menang karena banyak sekali kekurangannya.
"Saya itu nggak punya duit, `ndeso`, miskin koneksi pusat, tetapi karena semangat berjuang untuk memberikan hasil maksimal, alhamdulillah sekarang sudah jadi Gubernur DKI Jakarta," katanya lagi.
Oleh karena itu, dia menegaskan bahwa masing-masing TPS harus mendapatkan pengawalan intensif sehingga kalau dapat 240 suara tetap hingga PPS. "Jangan sampai suara 240 hilang nolnya saat tiba di PPS atau PPK," ujarnya pula.
Sementara itu, Calon Gubernur Lampung Berlian Tihang mengatakan bahwa pihaknya telah memberikan pelatihan kepada saksi agar pengawalan tersebut dapat terlaksana maksimal.
"Kami sudah latih saksi-saksi agar suara PDI Perjuangan aman sehingga dapat menunjang pemenangan pilgub dan pemilu anggota legislatif," kata dia.
Calon Wakil Gubernur Mukhlis Basri yang berpasangan dengan Berlian Tihang itu mengatakan bahwa PDI Perjuangan Lampung wajib menang pada pemilu mendatang.
"Saat ini ada dua gubernur dan satu wakil gubernur hadir untuk menyokong serta memberikan semangat kepada kader PDI Perjuangan di Lampung," ujarnya.
Malu, kata dia lagi, kalau Lampung tidak mendapatkan suara besar atau minimal di atas target secara nasional.
"Ayo sama-sama, lupakan perbedaan dan perdebatan, mari bersama-sama jalankan mesin partai serta amankan TPS harus tetap jadi perhatian," kata Mukhlis yang juga Bupati Lampung Barat dan Ketua DPC PDI Perjuangan Lampung Barat itu pula.
Sejumlah pengamat politik di Lampung belum dapat memprediksikan, akankah kehadiran Jokowi yang membawa magnet dan pesona kuat bagi kehadiran publik pendukungnya di Lampung ini, dapat secara berarti mendongkrak perolehan suara PDI Perjuangan dan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung dalam pemungutan suara pada tanggal 9 April 2014.
Namun, paling tidak, kehadiran Jokowi telah menunjukkan bahwa sosoknya tidak sekadar sering tampil di media massa.
Jokowi juga menjadi figur yang mampu melebur dan menyatu dengan masyarakat biasa, warga yang akan menjadi pendukung dan pemilihnya yang setia dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden RI mendatang.
Pewarta : Budisantoso Budiman
Editor:
Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
